alexametrics
24.1 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Gagasan Isolasi Terpusat Covid-19 Juga Mendapat Perlawanan

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Penolakan warga tidak hanya menyasar puskesmas yang dijadikan lokasi rujukan pasien Covid-19. Namun, juga di area yang digagas menjadi tempat isolasi terpusat. Seperti diketahui, Pemerintah Kabupaten Bondowoso mewacanakan untuk mendirikan tempat isolasi terpusat. Baik di tingkat kabupaten ataupun tingkat kecamatan. Hal ini berdasarkan arahan dari Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, beberapa waktu lalu.

Salah satu tempat yang disarankan untuk dijadikan tempat isolasi terpusat di kecamatan adalah gedung sekolah. Tapi, ternyata kebijakan tersebut tidak selalu diamini oleh masyarakat. Di Desa Wringin dan Desa Jatitamban, Kecamatan Wringin, misalnya. Warga menolak eks aula UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta SMP Negeri 1 Wringin untuk dijadikan tempat isolasi terpusat.

Penolakan tersebut diketahui lewat video aksi penolakan yang beredar luas di media sosial serta beberapa grup WhatsApp. Video pertama, aksi penolakan terjadi pada Minggu (25/7) malam di depan TK Pembina atau eks aula UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Berikutnya, pada Senin (26/7) malam, ratusan warga diikuti sejumlah wali murid SMP Negeri 1 Wringin menggeruduk sekolah tersebut hingga membakar ban sebagai aksi protes. Usai itu, dilanjutkan melakukan aksi penolakan di rumah kepala desa.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kecamatan Wringin Son Haji menerangkan, alasan penolakan warga karena khawatir terjadi penularan virus korona pada masyarakat sekitar. “Mereka menolak karena khawatir. Dianggapnya yang dirawat di sana pasien Covid-19 (kondisi berat, Red). Padahal nanti tempat itu untuk orang tanpa gejala (OTG, Red),” ungkapnya saat dikonfirmasi Selasa (27/7).

Dia menerangkan, tempat tersebut dipilih karena dinilai memenuhi syarat sebagai lokasi isolasi. Cukup luas, bahkan diperkirakan bisa menampung sekitar 10 pasien isoman dengan kategori OTG. Selain itu, nantinya selama dijadikan tempat isolasi akan turut dijaga oleh aparat TNI dan Polri serta relawan dari pemerintah desa.

“Tempatnya memenuhi syarat. Kapasitasnya paling 10, maksimal itu. Laki-laki dan perempuan,” ujarnya. Son Haji mengaku akan mengedukasi masyarakat terlebih dahulu sebelum benar-benar memutuskan tempat isoman.

Dihubungi terpisah, PJ Kepala Desa Jatitamban Joko menerangkan bahwa semula berdasarkan musyawarah pimpinan kecamatan setempat, TK Pembina akan dijadikan sebagai lokasi Isoman. Namun, karena ada penolakan, maka diwacanakan akan dipindah ke SMP Negeri 1 Wringin. “Takutnya menular katanya warga,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Bondowoso dr Mohammad Imron mengatakan, penentuan tempat isolasi terpusat yang ada di tingkat kecamatan sebenarnya sudah bisa dilakukan oleh satu pihak. Dalam hal ini satgas kecamatan yang terdiri atas camat, danramil, kapolsek, kepala puskesmas, serta kepala desa setempat.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Penolakan warga tidak hanya menyasar puskesmas yang dijadikan lokasi rujukan pasien Covid-19. Namun, juga di area yang digagas menjadi tempat isolasi terpusat. Seperti diketahui, Pemerintah Kabupaten Bondowoso mewacanakan untuk mendirikan tempat isolasi terpusat. Baik di tingkat kabupaten ataupun tingkat kecamatan. Hal ini berdasarkan arahan dari Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, beberapa waktu lalu.

Salah satu tempat yang disarankan untuk dijadikan tempat isolasi terpusat di kecamatan adalah gedung sekolah. Tapi, ternyata kebijakan tersebut tidak selalu diamini oleh masyarakat. Di Desa Wringin dan Desa Jatitamban, Kecamatan Wringin, misalnya. Warga menolak eks aula UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta SMP Negeri 1 Wringin untuk dijadikan tempat isolasi terpusat.

Penolakan tersebut diketahui lewat video aksi penolakan yang beredar luas di media sosial serta beberapa grup WhatsApp. Video pertama, aksi penolakan terjadi pada Minggu (25/7) malam di depan TK Pembina atau eks aula UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Berikutnya, pada Senin (26/7) malam, ratusan warga diikuti sejumlah wali murid SMP Negeri 1 Wringin menggeruduk sekolah tersebut hingga membakar ban sebagai aksi protes. Usai itu, dilanjutkan melakukan aksi penolakan di rumah kepala desa.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kecamatan Wringin Son Haji menerangkan, alasan penolakan warga karena khawatir terjadi penularan virus korona pada masyarakat sekitar. “Mereka menolak karena khawatir. Dianggapnya yang dirawat di sana pasien Covid-19 (kondisi berat, Red). Padahal nanti tempat itu untuk orang tanpa gejala (OTG, Red),” ungkapnya saat dikonfirmasi Selasa (27/7).

Dia menerangkan, tempat tersebut dipilih karena dinilai memenuhi syarat sebagai lokasi isolasi. Cukup luas, bahkan diperkirakan bisa menampung sekitar 10 pasien isoman dengan kategori OTG. Selain itu, nantinya selama dijadikan tempat isolasi akan turut dijaga oleh aparat TNI dan Polri serta relawan dari pemerintah desa.

“Tempatnya memenuhi syarat. Kapasitasnya paling 10, maksimal itu. Laki-laki dan perempuan,” ujarnya. Son Haji mengaku akan mengedukasi masyarakat terlebih dahulu sebelum benar-benar memutuskan tempat isoman.

Dihubungi terpisah, PJ Kepala Desa Jatitamban Joko menerangkan bahwa semula berdasarkan musyawarah pimpinan kecamatan setempat, TK Pembina akan dijadikan sebagai lokasi Isoman. Namun, karena ada penolakan, maka diwacanakan akan dipindah ke SMP Negeri 1 Wringin. “Takutnya menular katanya warga,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Bondowoso dr Mohammad Imron mengatakan, penentuan tempat isolasi terpusat yang ada di tingkat kecamatan sebenarnya sudah bisa dilakukan oleh satu pihak. Dalam hal ini satgas kecamatan yang terdiri atas camat, danramil, kapolsek, kepala puskesmas, serta kepala desa setempat.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Penolakan warga tidak hanya menyasar puskesmas yang dijadikan lokasi rujukan pasien Covid-19. Namun, juga di area yang digagas menjadi tempat isolasi terpusat. Seperti diketahui, Pemerintah Kabupaten Bondowoso mewacanakan untuk mendirikan tempat isolasi terpusat. Baik di tingkat kabupaten ataupun tingkat kecamatan. Hal ini berdasarkan arahan dari Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, beberapa waktu lalu.

Salah satu tempat yang disarankan untuk dijadikan tempat isolasi terpusat di kecamatan adalah gedung sekolah. Tapi, ternyata kebijakan tersebut tidak selalu diamini oleh masyarakat. Di Desa Wringin dan Desa Jatitamban, Kecamatan Wringin, misalnya. Warga menolak eks aula UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta SMP Negeri 1 Wringin untuk dijadikan tempat isolasi terpusat.

Penolakan tersebut diketahui lewat video aksi penolakan yang beredar luas di media sosial serta beberapa grup WhatsApp. Video pertama, aksi penolakan terjadi pada Minggu (25/7) malam di depan TK Pembina atau eks aula UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Berikutnya, pada Senin (26/7) malam, ratusan warga diikuti sejumlah wali murid SMP Negeri 1 Wringin menggeruduk sekolah tersebut hingga membakar ban sebagai aksi protes. Usai itu, dilanjutkan melakukan aksi penolakan di rumah kepala desa.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kecamatan Wringin Son Haji menerangkan, alasan penolakan warga karena khawatir terjadi penularan virus korona pada masyarakat sekitar. “Mereka menolak karena khawatir. Dianggapnya yang dirawat di sana pasien Covid-19 (kondisi berat, Red). Padahal nanti tempat itu untuk orang tanpa gejala (OTG, Red),” ungkapnya saat dikonfirmasi Selasa (27/7).

Dia menerangkan, tempat tersebut dipilih karena dinilai memenuhi syarat sebagai lokasi isolasi. Cukup luas, bahkan diperkirakan bisa menampung sekitar 10 pasien isoman dengan kategori OTG. Selain itu, nantinya selama dijadikan tempat isolasi akan turut dijaga oleh aparat TNI dan Polri serta relawan dari pemerintah desa.

“Tempatnya memenuhi syarat. Kapasitasnya paling 10, maksimal itu. Laki-laki dan perempuan,” ujarnya. Son Haji mengaku akan mengedukasi masyarakat terlebih dahulu sebelum benar-benar memutuskan tempat isoman.

Dihubungi terpisah, PJ Kepala Desa Jatitamban Joko menerangkan bahwa semula berdasarkan musyawarah pimpinan kecamatan setempat, TK Pembina akan dijadikan sebagai lokasi Isoman. Namun, karena ada penolakan, maka diwacanakan akan dipindah ke SMP Negeri 1 Wringin. “Takutnya menular katanya warga,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Bondowoso dr Mohammad Imron mengatakan, penentuan tempat isolasi terpusat yang ada di tingkat kecamatan sebenarnya sudah bisa dilakukan oleh satu pihak. Dalam hal ini satgas kecamatan yang terdiri atas camat, danramil, kapolsek, kepala puskesmas, serta kepala desa setempat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/