24.9 C
Jember
Sunday, 2 April 2023

DLHP Akan Pasang Papan Larangan

Terdeteksi Ada Lima Titik Langganan Buang Sampah

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Belum adanya tempat pembuangan akhir (TPA) ataupun tempat pembuangan umum (TPU) di kawasan Kecamatan Ijen membuat limbah hasil panen kubis, beberapa hari lalu, menjadi buah bibir. Sebab, sisa-sisa hasil panennya dibuang begitu saja.

Terlebih, akhirnya menimbulkan pemandangan tak sedap di dataran tinggi yang menjadi kawasan andalan Ijen Geopark wilayah Bondowoso itu. Sebelumnya, limbah kubis itu ditemukan oleh polisi pariwisata (polpar) bersama bersama tim Disparpora yang tengah melakukan patroli di objek wisata Ijen.

Menanggapi hal tersebut, Kristianto, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup dari Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP), menyebutkan bahwa langkah terdekat yang diambil segera koordinasi dengan stakeholder terkait. “Dengan pengelola kawasan wisata. Juga langkah terdekat akan kami beri papan larangan membuang sampah. Karena limbah kubis itu terjadi berulang setiap tahunnya. Total ada lima titik yang selalu menjadi pembuangan kubis,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lebih lanjut, menurutnya, DLHP ke depan memiliki rencana untuk membuat bank sampah di Desa Sempol, Kecamatan Ijen. “Akan kami buat focus group discussion penanganan sampah. Karena penanganan sampah di sana belum terjangkau. Berbeda dengan kawasan yang ada di kota,” imbuhnya.

Perhutani, BKSDA, perwakilan Kecamatan Ijen maupun Sumberwringin bakal dilibatkan dalam FGD. “Nantinya dalam bank sampah itu akan dipilah lagi. Sampah seperti kertas, plastik, logam masuk bank sampah. Sedangkan sampah organiknya akan dijadikan pupuk,” bebernya.

Kristianto mengakui, selama ini sampah-sampah di kawasan Ijen tak dibuang ke TPA Taman Krocok. Lebih banyak dibakar ataupun dibuang ke beberapa sudut jurang. Tentu, hal itu menjadi permasalahan sendiri di kemudian hari. Pengelolaan sampah di kawasan dataran tinggi, apalagi kawasan wisata, masih belum terakomodasi dengan baik.

Di sisi lain, Aiptu Sugeng, Kanit Polpar Bondowoso, menyayangkan pembuangan limbah kubis itu terjadi. Kesadaran dan rasa memiliki kawasan alam dari masyarakat pun masih rendah. “Karena saat ini tengah ada program Ijen Geopark, seyogianya masyarakat turut serta menjaga keindahan dan kenyamanan alam dengan tidak membuang sampah kubis sembarangan,” jelasnya.

Jurnalis: Muchammad Ainul Budi
Fotografer: Istimewa
Editor: Solikhul Huda

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Belum adanya tempat pembuangan akhir (TPA) ataupun tempat pembuangan umum (TPU) di kawasan Kecamatan Ijen membuat limbah hasil panen kubis, beberapa hari lalu, menjadi buah bibir. Sebab, sisa-sisa hasil panennya dibuang begitu saja.

Terlebih, akhirnya menimbulkan pemandangan tak sedap di dataran tinggi yang menjadi kawasan andalan Ijen Geopark wilayah Bondowoso itu. Sebelumnya, limbah kubis itu ditemukan oleh polisi pariwisata (polpar) bersama bersama tim Disparpora yang tengah melakukan patroli di objek wisata Ijen.

Menanggapi hal tersebut, Kristianto, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup dari Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP), menyebutkan bahwa langkah terdekat yang diambil segera koordinasi dengan stakeholder terkait. “Dengan pengelola kawasan wisata. Juga langkah terdekat akan kami beri papan larangan membuang sampah. Karena limbah kubis itu terjadi berulang setiap tahunnya. Total ada lima titik yang selalu menjadi pembuangan kubis,” ujarnya.

Lebih lanjut, menurutnya, DLHP ke depan memiliki rencana untuk membuat bank sampah di Desa Sempol, Kecamatan Ijen. “Akan kami buat focus group discussion penanganan sampah. Karena penanganan sampah di sana belum terjangkau. Berbeda dengan kawasan yang ada di kota,” imbuhnya.

Perhutani, BKSDA, perwakilan Kecamatan Ijen maupun Sumberwringin bakal dilibatkan dalam FGD. “Nantinya dalam bank sampah itu akan dipilah lagi. Sampah seperti kertas, plastik, logam masuk bank sampah. Sedangkan sampah organiknya akan dijadikan pupuk,” bebernya.

Kristianto mengakui, selama ini sampah-sampah di kawasan Ijen tak dibuang ke TPA Taman Krocok. Lebih banyak dibakar ataupun dibuang ke beberapa sudut jurang. Tentu, hal itu menjadi permasalahan sendiri di kemudian hari. Pengelolaan sampah di kawasan dataran tinggi, apalagi kawasan wisata, masih belum terakomodasi dengan baik.

Di sisi lain, Aiptu Sugeng, Kanit Polpar Bondowoso, menyayangkan pembuangan limbah kubis itu terjadi. Kesadaran dan rasa memiliki kawasan alam dari masyarakat pun masih rendah. “Karena saat ini tengah ada program Ijen Geopark, seyogianya masyarakat turut serta menjaga keindahan dan kenyamanan alam dengan tidak membuang sampah kubis sembarangan,” jelasnya.

Jurnalis: Muchammad Ainul Budi
Fotografer: Istimewa
Editor: Solikhul Huda

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Belum adanya tempat pembuangan akhir (TPA) ataupun tempat pembuangan umum (TPU) di kawasan Kecamatan Ijen membuat limbah hasil panen kubis, beberapa hari lalu, menjadi buah bibir. Sebab, sisa-sisa hasil panennya dibuang begitu saja.

Terlebih, akhirnya menimbulkan pemandangan tak sedap di dataran tinggi yang menjadi kawasan andalan Ijen Geopark wilayah Bondowoso itu. Sebelumnya, limbah kubis itu ditemukan oleh polisi pariwisata (polpar) bersama bersama tim Disparpora yang tengah melakukan patroli di objek wisata Ijen.

Menanggapi hal tersebut, Kristianto, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup dari Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP), menyebutkan bahwa langkah terdekat yang diambil segera koordinasi dengan stakeholder terkait. “Dengan pengelola kawasan wisata. Juga langkah terdekat akan kami beri papan larangan membuang sampah. Karena limbah kubis itu terjadi berulang setiap tahunnya. Total ada lima titik yang selalu menjadi pembuangan kubis,” ujarnya.

Lebih lanjut, menurutnya, DLHP ke depan memiliki rencana untuk membuat bank sampah di Desa Sempol, Kecamatan Ijen. “Akan kami buat focus group discussion penanganan sampah. Karena penanganan sampah di sana belum terjangkau. Berbeda dengan kawasan yang ada di kota,” imbuhnya.

Perhutani, BKSDA, perwakilan Kecamatan Ijen maupun Sumberwringin bakal dilibatkan dalam FGD. “Nantinya dalam bank sampah itu akan dipilah lagi. Sampah seperti kertas, plastik, logam masuk bank sampah. Sedangkan sampah organiknya akan dijadikan pupuk,” bebernya.

Kristianto mengakui, selama ini sampah-sampah di kawasan Ijen tak dibuang ke TPA Taman Krocok. Lebih banyak dibakar ataupun dibuang ke beberapa sudut jurang. Tentu, hal itu menjadi permasalahan sendiri di kemudian hari. Pengelolaan sampah di kawasan dataran tinggi, apalagi kawasan wisata, masih belum terakomodasi dengan baik.

Di sisi lain, Aiptu Sugeng, Kanit Polpar Bondowoso, menyayangkan pembuangan limbah kubis itu terjadi. Kesadaran dan rasa memiliki kawasan alam dari masyarakat pun masih rendah. “Karena saat ini tengah ada program Ijen Geopark, seyogianya masyarakat turut serta menjaga keindahan dan kenyamanan alam dengan tidak membuang sampah kubis sembarangan,” jelasnya.

Jurnalis: Muchammad Ainul Budi
Fotografer: Istimewa
Editor: Solikhul Huda

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca