alexametrics
29.1 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Kenal Lebih Dekat Dengan Ijen Geopark

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Ijen Geopark terus disosialisasikan kepada pelajar. Mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Salah satunya sejumlah siswa SMA Pujer. Edukasi mengenai situs-situs Ijen Geopark pun terus dilakukan agar siswa yang ada di Bondowoso mengenal lebih dekat apa dan bagaimana Ijen Geopark itu sendiri.

Beberapa hari lalu, sejumlah siswa SMA Pujer mengunjungi salah satu situs Ijen Geopark di Desa Maskuning Kulon, Kecamatan Pujer. Yakni Situs Budaya Megalitikum Maskuning Kulon. Berupa batu-batu megalitikum yang tersebar di satu wilayah desa.

“Di sini siswa dan guru tidak hanya mempelajari tentang ragam batu megalitikum  yang berjumlah 58 titik batu, dan terdapat 1 kubur dolmen terbesar se-Jawa Timur. Tetapi juga orientasi batu megalitikum ini di Maskuning Kulon menghadap arah ke Ijen purba,” ujar Tantri Raras, tim ahli budaya Ijen Geopark.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lebih lanjut, dia menjelaskan, siswa tidak hanya belajar mengenai peradaban prasejarah. Tetapi, juga belajar berbagai identifikasi budaya lokal di Desa Maskuning Kulon. “Yang pada kegiatan ini dilakukan di Padepokan Nyi Surti sebagai wadah indigenous people dengan menunjukkan berbagai macam kuliner tradisional keseharian warga Maskuning Kulon. Serta edukasi tentang ragam budaya lokal yang sudah ada di Maskuning Kulon, seperti ronjengan, mamaca, burdah, musik tongtong,” jelas dia kepada Jawa Pos Radar Ijen.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Ijen Geopark terus disosialisasikan kepada pelajar. Mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Salah satunya sejumlah siswa SMA Pujer. Edukasi mengenai situs-situs Ijen Geopark pun terus dilakukan agar siswa yang ada di Bondowoso mengenal lebih dekat apa dan bagaimana Ijen Geopark itu sendiri.

Beberapa hari lalu, sejumlah siswa SMA Pujer mengunjungi salah satu situs Ijen Geopark di Desa Maskuning Kulon, Kecamatan Pujer. Yakni Situs Budaya Megalitikum Maskuning Kulon. Berupa batu-batu megalitikum yang tersebar di satu wilayah desa.

“Di sini siswa dan guru tidak hanya mempelajari tentang ragam batu megalitikum  yang berjumlah 58 titik batu, dan terdapat 1 kubur dolmen terbesar se-Jawa Timur. Tetapi juga orientasi batu megalitikum ini di Maskuning Kulon menghadap arah ke Ijen purba,” ujar Tantri Raras, tim ahli budaya Ijen Geopark.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, siswa tidak hanya belajar mengenai peradaban prasejarah. Tetapi, juga belajar berbagai identifikasi budaya lokal di Desa Maskuning Kulon. “Yang pada kegiatan ini dilakukan di Padepokan Nyi Surti sebagai wadah indigenous people dengan menunjukkan berbagai macam kuliner tradisional keseharian warga Maskuning Kulon. Serta edukasi tentang ragam budaya lokal yang sudah ada di Maskuning Kulon, seperti ronjengan, mamaca, burdah, musik tongtong,” jelas dia kepada Jawa Pos Radar Ijen.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Ijen Geopark terus disosialisasikan kepada pelajar. Mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Salah satunya sejumlah siswa SMA Pujer. Edukasi mengenai situs-situs Ijen Geopark pun terus dilakukan agar siswa yang ada di Bondowoso mengenal lebih dekat apa dan bagaimana Ijen Geopark itu sendiri.

Beberapa hari lalu, sejumlah siswa SMA Pujer mengunjungi salah satu situs Ijen Geopark di Desa Maskuning Kulon, Kecamatan Pujer. Yakni Situs Budaya Megalitikum Maskuning Kulon. Berupa batu-batu megalitikum yang tersebar di satu wilayah desa.

“Di sini siswa dan guru tidak hanya mempelajari tentang ragam batu megalitikum  yang berjumlah 58 titik batu, dan terdapat 1 kubur dolmen terbesar se-Jawa Timur. Tetapi juga orientasi batu megalitikum ini di Maskuning Kulon menghadap arah ke Ijen purba,” ujar Tantri Raras, tim ahli budaya Ijen Geopark.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, siswa tidak hanya belajar mengenai peradaban prasejarah. Tetapi, juga belajar berbagai identifikasi budaya lokal di Desa Maskuning Kulon. “Yang pada kegiatan ini dilakukan di Padepokan Nyi Surti sebagai wadah indigenous people dengan menunjukkan berbagai macam kuliner tradisional keseharian warga Maskuning Kulon. Serta edukasi tentang ragam budaya lokal yang sudah ada di Maskuning Kulon, seperti ronjengan, mamaca, burdah, musik tongtong,” jelas dia kepada Jawa Pos Radar Ijen.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/