alexametrics
20.1 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Bondowoso Republik Kopi (BRK) Kembali Lagi!

Pembinaan Pelaku Kopi di Hulu dan Hilir

Mobile_AP_Rectangle 1

Selain pembinaan di hulu atau petani, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya yang bergerak di bidang perkopian. “Kalau pandemi sudah berakhir, UMKM diberikan pelatihan, yakni berupa pengelolaan kafe di Bondowoso,” bebernya.

Salah satu yang menjadi titik tekan pada kafe yakni kenyamanan pengunjung dan proses penyajiannya. “Intinya pengembangan kualitas SDM pelayanan,” tegas Fathorrazi.

Selain itu, hal penting lainnya adalah ketersediaan fasilitas seperti kamar mandi dan sebagainya. Serta pemberian pelayanan kepada pelanggan harus prima. Misalnya, dalam memberikan pelayanan memakai sarung tangan. Menurut dia, kafe yang sudah memberikan pelayanan dengan bagus yakni kafe yang ada di Kampung Kopi Jalan Pelita. “Itu sudah bagus, seperti kafe-kafe di Jakarta,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, salah seorang petani kopi di lereng Ijen Raung, Suyitno, mengaku bahwa saat ini pangsa pasar masih lemah dan harga jual kopi juga menurun. Salah satu faktornya adalah pandemi Covid-19. Biasanya dia menjual satu kilogram kopi green bean seharga Rp 85 ribu. Tetapi, saat ini mau menembus di harga Rp 60 ribu saja sulit. “Padahal pengeluaran diambilkan dari penjualan,” jelasnya.

Pihaknya pun menyambut baik upaya untuk menghidupkan kembali BRK. Sebab, kata dia, BRK-lah yang mengantarkan Bondowoso bisa dikenal oleh dunia. Menurut dia, sudah merupakan kewajiban bagi Pemkab Bondowoso untuk melakukan pembinaan, sentuhan, atau paling tidak selalu memberikan dukungan moral sehingga para pelaku tetap semangat dan tetap memperhatikan SOP. “Dengan begitu, kualitas kopi yang dihasilkan tetap sesuai yang diharapkan atau sesuai dengan yang diinginkan oleh konsumen. Baik konsumen dari dalam maupun dari luar negeri,” paparnya.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

- Advertisement -

Selain pembinaan di hulu atau petani, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya yang bergerak di bidang perkopian. “Kalau pandemi sudah berakhir, UMKM diberikan pelatihan, yakni berupa pengelolaan kafe di Bondowoso,” bebernya.

Salah satu yang menjadi titik tekan pada kafe yakni kenyamanan pengunjung dan proses penyajiannya. “Intinya pengembangan kualitas SDM pelayanan,” tegas Fathorrazi.

Selain itu, hal penting lainnya adalah ketersediaan fasilitas seperti kamar mandi dan sebagainya. Serta pemberian pelayanan kepada pelanggan harus prima. Misalnya, dalam memberikan pelayanan memakai sarung tangan. Menurut dia, kafe yang sudah memberikan pelayanan dengan bagus yakni kafe yang ada di Kampung Kopi Jalan Pelita. “Itu sudah bagus, seperti kafe-kafe di Jakarta,” imbuhnya.

Sementara itu, salah seorang petani kopi di lereng Ijen Raung, Suyitno, mengaku bahwa saat ini pangsa pasar masih lemah dan harga jual kopi juga menurun. Salah satu faktornya adalah pandemi Covid-19. Biasanya dia menjual satu kilogram kopi green bean seharga Rp 85 ribu. Tetapi, saat ini mau menembus di harga Rp 60 ribu saja sulit. “Padahal pengeluaran diambilkan dari penjualan,” jelasnya.

Pihaknya pun menyambut baik upaya untuk menghidupkan kembali BRK. Sebab, kata dia, BRK-lah yang mengantarkan Bondowoso bisa dikenal oleh dunia. Menurut dia, sudah merupakan kewajiban bagi Pemkab Bondowoso untuk melakukan pembinaan, sentuhan, atau paling tidak selalu memberikan dukungan moral sehingga para pelaku tetap semangat dan tetap memperhatikan SOP. “Dengan begitu, kualitas kopi yang dihasilkan tetap sesuai yang diharapkan atau sesuai dengan yang diinginkan oleh konsumen. Baik konsumen dari dalam maupun dari luar negeri,” paparnya.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

Selain pembinaan di hulu atau petani, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya yang bergerak di bidang perkopian. “Kalau pandemi sudah berakhir, UMKM diberikan pelatihan, yakni berupa pengelolaan kafe di Bondowoso,” bebernya.

Salah satu yang menjadi titik tekan pada kafe yakni kenyamanan pengunjung dan proses penyajiannya. “Intinya pengembangan kualitas SDM pelayanan,” tegas Fathorrazi.

Selain itu, hal penting lainnya adalah ketersediaan fasilitas seperti kamar mandi dan sebagainya. Serta pemberian pelayanan kepada pelanggan harus prima. Misalnya, dalam memberikan pelayanan memakai sarung tangan. Menurut dia, kafe yang sudah memberikan pelayanan dengan bagus yakni kafe yang ada di Kampung Kopi Jalan Pelita. “Itu sudah bagus, seperti kafe-kafe di Jakarta,” imbuhnya.

Sementara itu, salah seorang petani kopi di lereng Ijen Raung, Suyitno, mengaku bahwa saat ini pangsa pasar masih lemah dan harga jual kopi juga menurun. Salah satu faktornya adalah pandemi Covid-19. Biasanya dia menjual satu kilogram kopi green bean seharga Rp 85 ribu. Tetapi, saat ini mau menembus di harga Rp 60 ribu saja sulit. “Padahal pengeluaran diambilkan dari penjualan,” jelasnya.

Pihaknya pun menyambut baik upaya untuk menghidupkan kembali BRK. Sebab, kata dia, BRK-lah yang mengantarkan Bondowoso bisa dikenal oleh dunia. Menurut dia, sudah merupakan kewajiban bagi Pemkab Bondowoso untuk melakukan pembinaan, sentuhan, atau paling tidak selalu memberikan dukungan moral sehingga para pelaku tetap semangat dan tetap memperhatikan SOP. “Dengan begitu, kualitas kopi yang dihasilkan tetap sesuai yang diharapkan atau sesuai dengan yang diinginkan oleh konsumen. Baik konsumen dari dalam maupun dari luar negeri,” paparnya.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/