alexametrics
27.8 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Tindak Lanjut Perebutan Jenazah Pasien Covid-19

Siapkan Tracing untuk Masyarakat yang Terlibat

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Serentetan peristiwa penolakan serta peristiwa perebutan jenazah pasien Covid-19 membuat Satgas Covid-19 Kabupaten Bondowoso mengambil sikap tegas. Seperti diketahui, beberapa waktu lalu jenazah pasien Covid-19 diambil paksa oleh warga di Puskesmas Pujer.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Bondowoso dr Mohammad Imron menjelaskan bahwa jenazah yang diambil paksa adalah warga Kecamatan Pujer. Sebelum dirawat di Puskesmas Pujer, pasien tersebut sempat memeriksakan kesehatannya di Puskesmas Tlogosari. Menurutnya, yang bersangkutan tidak langsung dirawat di Puskesmas Pujer, karena puskesmas itu merupakan salah satu dari lima puskesmas yang menjadi rujukan pasien Covid-19 gejala ringan.

Dijelaskan, saat di Puskesmas Tlogosari, tenaga kesehatan setempat melakukan pemeriksaan swab test antigen dan keluar hasil positif. Berdasarkan prosedur operasional standar yang berlaku, menurut dr Imron, maka pelayanan kepada pasien akan disamakan dengan pasien Covid-19. “Kemudian, pada hari yang sama pasien dibawa ke Puskesmas Pujer,” terangnya saat konferensi pers di Sabha Bina Praja I Bondowoso, (26/7) kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebelum dibawa ke Puskesmas Pujer, lanjut dr Imron, disaksikan beberapa saksi pihak keluarga sudah menandatangani surat pernyataan yang berisi beberapa hal. Di antaranya menyetujui pasien akan dirawat tanpa menggunakan tabung oksigen, karena di tempat itu tidak menyediakan tabung oksigen. Kemudian, siap dirawat sesuai dengan prosedur yang ada di puskesmas itu.

Pada 23 Juli, kondisi pasien menurun, dan tim kesehatan Puskesmas Pujer merekomendasikan pasien untuk dirujuk ke rumah sakit agar bisa mendapatkan perawatan lebih intensif. Tapi, pihak keluarga menolak, sehingga pasien tetap mendapatkan perawatan di Puskesmas Pujer dengan peralatan dan fasilitas yang ada. “Penolakan itu juga ada tanda tangan dari pihak keluarga,” lanjutnya.

Setelah menjalani perawatan kurang lebih selama tiga hari, pasien kemudian dinyatakan meninggal dunia, Minggu (25/7) pagi. “Pihak nakes dan satgas kecamatan sudah memberikan penjelasan dan edukasi kepada keluarga. Agar penanganan pemulasaraannya sesuai dengan protokol Covid-19. Jadi, rencananya akan dikirim ke rumah sakit umum atau Rumah Sakit Bhayangkara,” imbuhnya.

Meski demikian, perebutan jenazah tidak bisa dielakkan. Sebab, salah satu keluarga menolak untuk dimakamkan sesuai protokol kesehatan. Mereka kemudian mengambil jenazah secara paksa dari Puskesmas Pujer.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Serentetan peristiwa penolakan serta peristiwa perebutan jenazah pasien Covid-19 membuat Satgas Covid-19 Kabupaten Bondowoso mengambil sikap tegas. Seperti diketahui, beberapa waktu lalu jenazah pasien Covid-19 diambil paksa oleh warga di Puskesmas Pujer.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Bondowoso dr Mohammad Imron menjelaskan bahwa jenazah yang diambil paksa adalah warga Kecamatan Pujer. Sebelum dirawat di Puskesmas Pujer, pasien tersebut sempat memeriksakan kesehatannya di Puskesmas Tlogosari. Menurutnya, yang bersangkutan tidak langsung dirawat di Puskesmas Pujer, karena puskesmas itu merupakan salah satu dari lima puskesmas yang menjadi rujukan pasien Covid-19 gejala ringan.

Dijelaskan, saat di Puskesmas Tlogosari, tenaga kesehatan setempat melakukan pemeriksaan swab test antigen dan keluar hasil positif. Berdasarkan prosedur operasional standar yang berlaku, menurut dr Imron, maka pelayanan kepada pasien akan disamakan dengan pasien Covid-19. “Kemudian, pada hari yang sama pasien dibawa ke Puskesmas Pujer,” terangnya saat konferensi pers di Sabha Bina Praja I Bondowoso, (26/7) kemarin.

Sebelum dibawa ke Puskesmas Pujer, lanjut dr Imron, disaksikan beberapa saksi pihak keluarga sudah menandatangani surat pernyataan yang berisi beberapa hal. Di antaranya menyetujui pasien akan dirawat tanpa menggunakan tabung oksigen, karena di tempat itu tidak menyediakan tabung oksigen. Kemudian, siap dirawat sesuai dengan prosedur yang ada di puskesmas itu.

Pada 23 Juli, kondisi pasien menurun, dan tim kesehatan Puskesmas Pujer merekomendasikan pasien untuk dirujuk ke rumah sakit agar bisa mendapatkan perawatan lebih intensif. Tapi, pihak keluarga menolak, sehingga pasien tetap mendapatkan perawatan di Puskesmas Pujer dengan peralatan dan fasilitas yang ada. “Penolakan itu juga ada tanda tangan dari pihak keluarga,” lanjutnya.

Setelah menjalani perawatan kurang lebih selama tiga hari, pasien kemudian dinyatakan meninggal dunia, Minggu (25/7) pagi. “Pihak nakes dan satgas kecamatan sudah memberikan penjelasan dan edukasi kepada keluarga. Agar penanganan pemulasaraannya sesuai dengan protokol Covid-19. Jadi, rencananya akan dikirim ke rumah sakit umum atau Rumah Sakit Bhayangkara,” imbuhnya.

Meski demikian, perebutan jenazah tidak bisa dielakkan. Sebab, salah satu keluarga menolak untuk dimakamkan sesuai protokol kesehatan. Mereka kemudian mengambil jenazah secara paksa dari Puskesmas Pujer.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Serentetan peristiwa penolakan serta peristiwa perebutan jenazah pasien Covid-19 membuat Satgas Covid-19 Kabupaten Bondowoso mengambil sikap tegas. Seperti diketahui, beberapa waktu lalu jenazah pasien Covid-19 diambil paksa oleh warga di Puskesmas Pujer.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Bondowoso dr Mohammad Imron menjelaskan bahwa jenazah yang diambil paksa adalah warga Kecamatan Pujer. Sebelum dirawat di Puskesmas Pujer, pasien tersebut sempat memeriksakan kesehatannya di Puskesmas Tlogosari. Menurutnya, yang bersangkutan tidak langsung dirawat di Puskesmas Pujer, karena puskesmas itu merupakan salah satu dari lima puskesmas yang menjadi rujukan pasien Covid-19 gejala ringan.

Dijelaskan, saat di Puskesmas Tlogosari, tenaga kesehatan setempat melakukan pemeriksaan swab test antigen dan keluar hasil positif. Berdasarkan prosedur operasional standar yang berlaku, menurut dr Imron, maka pelayanan kepada pasien akan disamakan dengan pasien Covid-19. “Kemudian, pada hari yang sama pasien dibawa ke Puskesmas Pujer,” terangnya saat konferensi pers di Sabha Bina Praja I Bondowoso, (26/7) kemarin.

Sebelum dibawa ke Puskesmas Pujer, lanjut dr Imron, disaksikan beberapa saksi pihak keluarga sudah menandatangani surat pernyataan yang berisi beberapa hal. Di antaranya menyetujui pasien akan dirawat tanpa menggunakan tabung oksigen, karena di tempat itu tidak menyediakan tabung oksigen. Kemudian, siap dirawat sesuai dengan prosedur yang ada di puskesmas itu.

Pada 23 Juli, kondisi pasien menurun, dan tim kesehatan Puskesmas Pujer merekomendasikan pasien untuk dirujuk ke rumah sakit agar bisa mendapatkan perawatan lebih intensif. Tapi, pihak keluarga menolak, sehingga pasien tetap mendapatkan perawatan di Puskesmas Pujer dengan peralatan dan fasilitas yang ada. “Penolakan itu juga ada tanda tangan dari pihak keluarga,” lanjutnya.

Setelah menjalani perawatan kurang lebih selama tiga hari, pasien kemudian dinyatakan meninggal dunia, Minggu (25/7) pagi. “Pihak nakes dan satgas kecamatan sudah memberikan penjelasan dan edukasi kepada keluarga. Agar penanganan pemulasaraannya sesuai dengan protokol Covid-19. Jadi, rencananya akan dikirim ke rumah sakit umum atau Rumah Sakit Bhayangkara,” imbuhnya.

Meski demikian, perebutan jenazah tidak bisa dielakkan. Sebab, salah satu keluarga menolak untuk dimakamkan sesuai protokol kesehatan. Mereka kemudian mengambil jenazah secara paksa dari Puskesmas Pujer.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/