alexametrics
23.2 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Rokatan Bhumih, Tradisi Jelang Panen Kopi

Dua Macam Hidangan, Lambang Kebaikan dan Keburukan

Mobile_AP_Rectangle 1

IJEN, RADARJEMBER.ID – Bondowoso memang terkenal dengan komoditas kopinya. Tak salah jika disebut sebagai Bondowoso Republik Kopi (BRK). Kopi arabika Ijen pun memang memiliki aroma khas yang berbeda dari kopi lainnya.

Kopi menjadi komoditas kebun yang mendominasi di Bondowoso. Sebelum dan setelah proses panen kopi, para petani memiliki ritual dan tradisi tersendiri. Mereka mempunyai cara sebagai bentuk syukur atas panen kopi tiap tahunnya.

Seperti menjelang panen raya, diadakan prosesi selamatan. Dalam bahasa Madura biasa disebut rokatan bhumih. Artinya membebaskan kembali alam semesta dari segala hal buruk. Semacam tolak bala.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Tantri Raras, tim ahli budaya dari Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG), ritual ini sudah menjadi tradisi turun-temurun. Prosesi ritualnya digelar sejak siang hingga malam hari. Selain menyediakan beberapa jenis makanan, prosesi itu juga dibarengi dengan tampilan can-macanan gatot subroto.

Tradisi itu kebanyakan digelar di wilayah Kecamatan Ijen. Di mana kebun kopi memang lebih banyak dan luas. “Mayoritas warga Kecamatan Ijen berasal dari suku Madura. Sejarahnya, mereka dibawa Belanda dari Madura sebagai pekerja perkebunan kopi,” bebernya.

Tantri menambahkan, ritual semacam itu harus tetap dilestarikan. Sebab, masyarakat lokal meyakini tradisi itu sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.

- Advertisement -

IJEN, RADARJEMBER.ID – Bondowoso memang terkenal dengan komoditas kopinya. Tak salah jika disebut sebagai Bondowoso Republik Kopi (BRK). Kopi arabika Ijen pun memang memiliki aroma khas yang berbeda dari kopi lainnya.

Kopi menjadi komoditas kebun yang mendominasi di Bondowoso. Sebelum dan setelah proses panen kopi, para petani memiliki ritual dan tradisi tersendiri. Mereka mempunyai cara sebagai bentuk syukur atas panen kopi tiap tahunnya.

Seperti menjelang panen raya, diadakan prosesi selamatan. Dalam bahasa Madura biasa disebut rokatan bhumih. Artinya membebaskan kembali alam semesta dari segala hal buruk. Semacam tolak bala.

Menurut Tantri Raras, tim ahli budaya dari Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG), ritual ini sudah menjadi tradisi turun-temurun. Prosesi ritualnya digelar sejak siang hingga malam hari. Selain menyediakan beberapa jenis makanan, prosesi itu juga dibarengi dengan tampilan can-macanan gatot subroto.

Tradisi itu kebanyakan digelar di wilayah Kecamatan Ijen. Di mana kebun kopi memang lebih banyak dan luas. “Mayoritas warga Kecamatan Ijen berasal dari suku Madura. Sejarahnya, mereka dibawa Belanda dari Madura sebagai pekerja perkebunan kopi,” bebernya.

Tantri menambahkan, ritual semacam itu harus tetap dilestarikan. Sebab, masyarakat lokal meyakini tradisi itu sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.

IJEN, RADARJEMBER.ID – Bondowoso memang terkenal dengan komoditas kopinya. Tak salah jika disebut sebagai Bondowoso Republik Kopi (BRK). Kopi arabika Ijen pun memang memiliki aroma khas yang berbeda dari kopi lainnya.

Kopi menjadi komoditas kebun yang mendominasi di Bondowoso. Sebelum dan setelah proses panen kopi, para petani memiliki ritual dan tradisi tersendiri. Mereka mempunyai cara sebagai bentuk syukur atas panen kopi tiap tahunnya.

Seperti menjelang panen raya, diadakan prosesi selamatan. Dalam bahasa Madura biasa disebut rokatan bhumih. Artinya membebaskan kembali alam semesta dari segala hal buruk. Semacam tolak bala.

Menurut Tantri Raras, tim ahli budaya dari Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG), ritual ini sudah menjadi tradisi turun-temurun. Prosesi ritualnya digelar sejak siang hingga malam hari. Selain menyediakan beberapa jenis makanan, prosesi itu juga dibarengi dengan tampilan can-macanan gatot subroto.

Tradisi itu kebanyakan digelar di wilayah Kecamatan Ijen. Di mana kebun kopi memang lebih banyak dan luas. “Mayoritas warga Kecamatan Ijen berasal dari suku Madura. Sejarahnya, mereka dibawa Belanda dari Madura sebagai pekerja perkebunan kopi,” bebernya.

Tantri menambahkan, ritual semacam itu harus tetap dilestarikan. Sebab, masyarakat lokal meyakini tradisi itu sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/