alexametrics
28.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Dampak Banyak Kafe yang Tutup, Penjualan Biji Kopi Menurun

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERWRINGIN, RADARJEMBER.ID – Penerapan PPKM level 4 semakin mencekik pedagang kecil. Geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pun lesu. Tak terkecuali usaha komoditas kopi di Bondowoso. Ternyata, efek PPKM juga dirasakan oleh sejumlah petani dan pengusaha kopi.

Sejak akhir Mei lalu, buah kopi di kebun sudah dapat dipanen. Sedangkan Juni kemarin merupakan masa panen raya kopi. Setelah buah dipanen, berbagai proses dan tahapan pun sudah dilalui. Salah satunya menjemur biji kopi.

Biasanya, biji kopi dari tangan petani itu mereka olah sendiri atau dijual langsung kepada pengepul. Ada juga pedagang yang hanya membeli buah kopinya. Lalu diproses sendiri. Namun, kini semua usaha yang berhubungan dengan kopi itu terimbas PPKM. Perputarannya cukup seret.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kondisi seperti inilah yang dikeluhkan oleh Okta Kurniawan, salah seorang pegiat kopi di Kecamatan Sumberwringin. “Jelas sangat berdampak sekali penerapan PPKM ini. Karena kafe-kafe yang biasanya ambil biji kopi kepada saya, sekarang banyak yang tutup,” ujar Okta.

Meski buka, tapi pihak kafe tetap saja mengurangi jumlah pembelian biji kopi kepada pengepul. Sebab, mereka juga terkena dampak, jam buka berkurang dan sebagian pelanggan hilang. “Kafe yang biasa order, sekarang belum order lagi,” imbuhnya.

Okta menambahkan, penurunan penjualan sangat dirasakan tahun ini. Bahkan persentasenya menurun tajam. “Ya turun sekitar 90 persen. Tidak ada pesanan sama sekali, kecuali pesanan rumahan,” lanjut pria asli Bondowoso ini.

- Advertisement -

SUMBERWRINGIN, RADARJEMBER.ID – Penerapan PPKM level 4 semakin mencekik pedagang kecil. Geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pun lesu. Tak terkecuali usaha komoditas kopi di Bondowoso. Ternyata, efek PPKM juga dirasakan oleh sejumlah petani dan pengusaha kopi.

Sejak akhir Mei lalu, buah kopi di kebun sudah dapat dipanen. Sedangkan Juni kemarin merupakan masa panen raya kopi. Setelah buah dipanen, berbagai proses dan tahapan pun sudah dilalui. Salah satunya menjemur biji kopi.

Biasanya, biji kopi dari tangan petani itu mereka olah sendiri atau dijual langsung kepada pengepul. Ada juga pedagang yang hanya membeli buah kopinya. Lalu diproses sendiri. Namun, kini semua usaha yang berhubungan dengan kopi itu terimbas PPKM. Perputarannya cukup seret.

Kondisi seperti inilah yang dikeluhkan oleh Okta Kurniawan, salah seorang pegiat kopi di Kecamatan Sumberwringin. “Jelas sangat berdampak sekali penerapan PPKM ini. Karena kafe-kafe yang biasanya ambil biji kopi kepada saya, sekarang banyak yang tutup,” ujar Okta.

Meski buka, tapi pihak kafe tetap saja mengurangi jumlah pembelian biji kopi kepada pengepul. Sebab, mereka juga terkena dampak, jam buka berkurang dan sebagian pelanggan hilang. “Kafe yang biasa order, sekarang belum order lagi,” imbuhnya.

Okta menambahkan, penurunan penjualan sangat dirasakan tahun ini. Bahkan persentasenya menurun tajam. “Ya turun sekitar 90 persen. Tidak ada pesanan sama sekali, kecuali pesanan rumahan,” lanjut pria asli Bondowoso ini.

SUMBERWRINGIN, RADARJEMBER.ID – Penerapan PPKM level 4 semakin mencekik pedagang kecil. Geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pun lesu. Tak terkecuali usaha komoditas kopi di Bondowoso. Ternyata, efek PPKM juga dirasakan oleh sejumlah petani dan pengusaha kopi.

Sejak akhir Mei lalu, buah kopi di kebun sudah dapat dipanen. Sedangkan Juni kemarin merupakan masa panen raya kopi. Setelah buah dipanen, berbagai proses dan tahapan pun sudah dilalui. Salah satunya menjemur biji kopi.

Biasanya, biji kopi dari tangan petani itu mereka olah sendiri atau dijual langsung kepada pengepul. Ada juga pedagang yang hanya membeli buah kopinya. Lalu diproses sendiri. Namun, kini semua usaha yang berhubungan dengan kopi itu terimbas PPKM. Perputarannya cukup seret.

Kondisi seperti inilah yang dikeluhkan oleh Okta Kurniawan, salah seorang pegiat kopi di Kecamatan Sumberwringin. “Jelas sangat berdampak sekali penerapan PPKM ini. Karena kafe-kafe yang biasanya ambil biji kopi kepada saya, sekarang banyak yang tutup,” ujar Okta.

Meski buka, tapi pihak kafe tetap saja mengurangi jumlah pembelian biji kopi kepada pengepul. Sebab, mereka juga terkena dampak, jam buka berkurang dan sebagian pelanggan hilang. “Kafe yang biasa order, sekarang belum order lagi,” imbuhnya.

Okta menambahkan, penurunan penjualan sangat dirasakan tahun ini. Bahkan persentasenya menurun tajam. “Ya turun sekitar 90 persen. Tidak ada pesanan sama sekali, kecuali pesanan rumahan,” lanjut pria asli Bondowoso ini.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/