alexametrics
29.1 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Masih Sembilan Fasyankes yang Bisa

Terkait Pengelolaan Limbah Medis

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pola penanganan limbah medis di Bondowoso selama pandemi Covid-19 diperlakukan secara khusus. Sesuai dengan peraturan yang berlaku. Yakni Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 101 Tahun 2014 dan Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor 56 Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes).

Abdul Asis, Kepala Seksi (Kas)i Pengelolaan Sampah dan Limbah Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Bondowoso, menerangkan, dari 25 fasyankes yang ada, hanya sembilan  di antaranya telah mengantongi izin menggunakan tempat pembuangan sementara (TPS) limbah B3 khusus medis.

“Kekurangannya masih dalam proses. Kemarin saya sudah survei 6 puskesmas untuk permintaan izin limbah B3. Rekomnya yang mengeluarkan dari LH,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

DLHP mencatat, selama 2020 limbah medis Covid-19 di Bondowoso mencapai 3,3 ton. Jumlah tersebut dihimpun sejak awal pandemi yang terjadi pada Maret hingga Desember 2020. Asis menambahkan, penanganan limbah medis di masing-masing fasyankes dilakukan dengan cara dipilih dan dipilah sesuai jenis-jenisnya.

Mereka juga bekerja sama dengan pihak ketiga untuk proses pengangkutan dan pemusnahan limbah medis. “Untuk RSUD, alhamdulillah punya insinerator sendiri. Jadi, ditangani sendiri,” katanya.

Sementara itu, di sisi lain, Kukuh Raharjo, Wakil Ketua Komisi III DPRD Bondowoso, menambahkan, tak hanya limbah medis dari fasyankes. Namun, pemerintah juga harus memperhatikan limbah medis dari rumah tangga, seperti sampah masker. “Masyarakat kan diwajibkan menggunakan masker. Sedangkan masker sendiri, sisanya merupakan limbah medis juga dari permukiman,” paparnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pola penanganan limbah medis di Bondowoso selama pandemi Covid-19 diperlakukan secara khusus. Sesuai dengan peraturan yang berlaku. Yakni Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 101 Tahun 2014 dan Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor 56 Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes).

Abdul Asis, Kepala Seksi (Kas)i Pengelolaan Sampah dan Limbah Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Bondowoso, menerangkan, dari 25 fasyankes yang ada, hanya sembilan  di antaranya telah mengantongi izin menggunakan tempat pembuangan sementara (TPS) limbah B3 khusus medis.

“Kekurangannya masih dalam proses. Kemarin saya sudah survei 6 puskesmas untuk permintaan izin limbah B3. Rekomnya yang mengeluarkan dari LH,” katanya.

DLHP mencatat, selama 2020 limbah medis Covid-19 di Bondowoso mencapai 3,3 ton. Jumlah tersebut dihimpun sejak awal pandemi yang terjadi pada Maret hingga Desember 2020. Asis menambahkan, penanganan limbah medis di masing-masing fasyankes dilakukan dengan cara dipilih dan dipilah sesuai jenis-jenisnya.

Mereka juga bekerja sama dengan pihak ketiga untuk proses pengangkutan dan pemusnahan limbah medis. “Untuk RSUD, alhamdulillah punya insinerator sendiri. Jadi, ditangani sendiri,” katanya.

Sementara itu, di sisi lain, Kukuh Raharjo, Wakil Ketua Komisi III DPRD Bondowoso, menambahkan, tak hanya limbah medis dari fasyankes. Namun, pemerintah juga harus memperhatikan limbah medis dari rumah tangga, seperti sampah masker. “Masyarakat kan diwajibkan menggunakan masker. Sedangkan masker sendiri, sisanya merupakan limbah medis juga dari permukiman,” paparnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pola penanganan limbah medis di Bondowoso selama pandemi Covid-19 diperlakukan secara khusus. Sesuai dengan peraturan yang berlaku. Yakni Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 101 Tahun 2014 dan Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor 56 Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes).

Abdul Asis, Kepala Seksi (Kas)i Pengelolaan Sampah dan Limbah Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Bondowoso, menerangkan, dari 25 fasyankes yang ada, hanya sembilan  di antaranya telah mengantongi izin menggunakan tempat pembuangan sementara (TPS) limbah B3 khusus medis.

“Kekurangannya masih dalam proses. Kemarin saya sudah survei 6 puskesmas untuk permintaan izin limbah B3. Rekomnya yang mengeluarkan dari LH,” katanya.

DLHP mencatat, selama 2020 limbah medis Covid-19 di Bondowoso mencapai 3,3 ton. Jumlah tersebut dihimpun sejak awal pandemi yang terjadi pada Maret hingga Desember 2020. Asis menambahkan, penanganan limbah medis di masing-masing fasyankes dilakukan dengan cara dipilih dan dipilah sesuai jenis-jenisnya.

Mereka juga bekerja sama dengan pihak ketiga untuk proses pengangkutan dan pemusnahan limbah medis. “Untuk RSUD, alhamdulillah punya insinerator sendiri. Jadi, ditangani sendiri,” katanya.

Sementara itu, di sisi lain, Kukuh Raharjo, Wakil Ketua Komisi III DPRD Bondowoso, menambahkan, tak hanya limbah medis dari fasyankes. Namun, pemerintah juga harus memperhatikan limbah medis dari rumah tangga, seperti sampah masker. “Masyarakat kan diwajibkan menggunakan masker. Sedangkan masker sendiri, sisanya merupakan limbah medis juga dari permukiman,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/