alexametrics
30.5 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Stigma Pemulasaraan Jenazah Covid-19

Pemulasaraan jenazah positif Covid-19 sejatinya sudah memiliki prosedur operasional standar. Salah satunya, pihak perwakilan keluarga diperkenankan memandikan dan mengecek jenazah terlebih dahulu sebelum dimakamkan dengan protokol kesehatan. Namun, masih banyak kesalahpahaman di mata masyarakat dengan informasi yang simpang siur.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kejadian pengambilan paksa jenazah terpapar Covid-19 kembali terjadi. Setelah terjadi di Tamanan dan Wonosari, beberapa hari lalu, aksi yang sama kembali terjadi di Puskesmas Pujer. Sebuah video beredar di media sosial yang menunjukkan warga ramai-ramai membawa paksa jenazah yang hasil rapid test antigennya reaktif di Puskesmas Pujer.

Kepala Puskesmas Pujer dr Wijayanto menerangkan, jenazah yang disebut adalah warga Desa Mangli, Kecamatan Pujer, tersebut merupakan pasien dengan hasil rapid test antigen reaktif dan memiliki komorbid penyakit jantung. Namun, saat hendak dirujuk ke rumah sakit daerah, pasien dan keluarga menolak. Kemudian, pasien meninggal setelah dilakukan perawatan sekitar tiga hari.

Pantauan di media sosial, ada banyak video yang beredar terkait pengambilan paksa jenazah tersebut. Yakni ada sekitar empat video dengan durasi yang berbeda-beda.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dr Wijayanto, saat hendak dilakukan pemulasaraan jenazah di rumah sakit umum, pihak keluarga kembali melakukan penolakan. Kemudian, tiba-tiba datang dua mobil pikap berisi warga yang hendak membawa jenazah dengan paksa. “Polsek dan koramil sudah menahan. Namun, kami tak mampu menahan massa sebanyak itu,” ungkapnya.

Santer diberitakan, pengambilan paksa jenazah ini karena warga tak percaya pada prosedur pemulasaraan jenazah, serta proses pemakaman yang dianggap tak sesuai syariat Islam. Banyak anggapan bahwa jenazah pasien Covid-19 diambil bagian organ tubuhnya oleh oknum-oknum terkait. Selain itu, banyak informasi hoax yang menyebut bahwa anggota keluarga tak diperbolehkan mengurusi jenazah tersebut.

Informasi yang berkembang di tengah masyarakat pun menjadi simpang siur, mengenai benar atau tidaknya para petugas yang memulasara jenazah tak memperlakukan jenazah sebagaimana mestinya. Padahal, pihak rumah sakit pun sudah mempersilakan anggota keluarga jenazah ataupun perwakilannya untuk bisa ikut memandikan. Seperti klarifikasi yang dibeberkan oleh RSUD dr Koesnadi Bondowoso.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kejadian pengambilan paksa jenazah terpapar Covid-19 kembali terjadi. Setelah terjadi di Tamanan dan Wonosari, beberapa hari lalu, aksi yang sama kembali terjadi di Puskesmas Pujer. Sebuah video beredar di media sosial yang menunjukkan warga ramai-ramai membawa paksa jenazah yang hasil rapid test antigennya reaktif di Puskesmas Pujer.

Kepala Puskesmas Pujer dr Wijayanto menerangkan, jenazah yang disebut adalah warga Desa Mangli, Kecamatan Pujer, tersebut merupakan pasien dengan hasil rapid test antigen reaktif dan memiliki komorbid penyakit jantung. Namun, saat hendak dirujuk ke rumah sakit daerah, pasien dan keluarga menolak. Kemudian, pasien meninggal setelah dilakukan perawatan sekitar tiga hari.

Pantauan di media sosial, ada banyak video yang beredar terkait pengambilan paksa jenazah tersebut. Yakni ada sekitar empat video dengan durasi yang berbeda-beda.

Menurut dr Wijayanto, saat hendak dilakukan pemulasaraan jenazah di rumah sakit umum, pihak keluarga kembali melakukan penolakan. Kemudian, tiba-tiba datang dua mobil pikap berisi warga yang hendak membawa jenazah dengan paksa. “Polsek dan koramil sudah menahan. Namun, kami tak mampu menahan massa sebanyak itu,” ungkapnya.

Santer diberitakan, pengambilan paksa jenazah ini karena warga tak percaya pada prosedur pemulasaraan jenazah, serta proses pemakaman yang dianggap tak sesuai syariat Islam. Banyak anggapan bahwa jenazah pasien Covid-19 diambil bagian organ tubuhnya oleh oknum-oknum terkait. Selain itu, banyak informasi hoax yang menyebut bahwa anggota keluarga tak diperbolehkan mengurusi jenazah tersebut.

Informasi yang berkembang di tengah masyarakat pun menjadi simpang siur, mengenai benar atau tidaknya para petugas yang memulasara jenazah tak memperlakukan jenazah sebagaimana mestinya. Padahal, pihak rumah sakit pun sudah mempersilakan anggota keluarga jenazah ataupun perwakilannya untuk bisa ikut memandikan. Seperti klarifikasi yang dibeberkan oleh RSUD dr Koesnadi Bondowoso.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kejadian pengambilan paksa jenazah terpapar Covid-19 kembali terjadi. Setelah terjadi di Tamanan dan Wonosari, beberapa hari lalu, aksi yang sama kembali terjadi di Puskesmas Pujer. Sebuah video beredar di media sosial yang menunjukkan warga ramai-ramai membawa paksa jenazah yang hasil rapid test antigennya reaktif di Puskesmas Pujer.

Kepala Puskesmas Pujer dr Wijayanto menerangkan, jenazah yang disebut adalah warga Desa Mangli, Kecamatan Pujer, tersebut merupakan pasien dengan hasil rapid test antigen reaktif dan memiliki komorbid penyakit jantung. Namun, saat hendak dirujuk ke rumah sakit daerah, pasien dan keluarga menolak. Kemudian, pasien meninggal setelah dilakukan perawatan sekitar tiga hari.

Pantauan di media sosial, ada banyak video yang beredar terkait pengambilan paksa jenazah tersebut. Yakni ada sekitar empat video dengan durasi yang berbeda-beda.

Menurut dr Wijayanto, saat hendak dilakukan pemulasaraan jenazah di rumah sakit umum, pihak keluarga kembali melakukan penolakan. Kemudian, tiba-tiba datang dua mobil pikap berisi warga yang hendak membawa jenazah dengan paksa. “Polsek dan koramil sudah menahan. Namun, kami tak mampu menahan massa sebanyak itu,” ungkapnya.

Santer diberitakan, pengambilan paksa jenazah ini karena warga tak percaya pada prosedur pemulasaraan jenazah, serta proses pemakaman yang dianggap tak sesuai syariat Islam. Banyak anggapan bahwa jenazah pasien Covid-19 diambil bagian organ tubuhnya oleh oknum-oknum terkait. Selain itu, banyak informasi hoax yang menyebut bahwa anggota keluarga tak diperbolehkan mengurusi jenazah tersebut.

Informasi yang berkembang di tengah masyarakat pun menjadi simpang siur, mengenai benar atau tidaknya para petugas yang memulasara jenazah tak memperlakukan jenazah sebagaimana mestinya. Padahal, pihak rumah sakit pun sudah mempersilakan anggota keluarga jenazah ataupun perwakilannya untuk bisa ikut memandikan. Seperti klarifikasi yang dibeberkan oleh RSUD dr Koesnadi Bondowoso.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/