alexametrics
27.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Cara Penjual Jamur Siasati PPKM

Turun Jalan ketimbang Dagangan Terbuang

Mobile_AP_Rectangle 1

NANGKAAN, RADARJEMBER.ID – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali membuat sejumlah pedagang mengubah pola jualan mereka. Seperti yang dilakukan oleh Hari, seorang pengusaha jamur tiram asal Desa Cindogo, Kecamatan Tapen, Bondowoso. Ia terpaksa berjualan di pinggir Jalan A Yani, Kelurahan Nangkaan, Bondowoso. Padahal sebelumnya, ia hanya berjualan dari rumahnya.

Hari mengatakan, biasanya yang membeli jamurnya adalah para pedagang melijo. Biasanya mereka membeli di atas pukul 20.00 malam. Sementara saat ini, berjualan dibatasi hanya sampai pukul 20.00. Kebijakan membuat dirinya kehilangan banyak pelanggan. Bahkan mencapai 50 persen. Ketika hal itu dibiarkan, maka jamur tiram miliknya bisa membusuk dan terbuang percuma.

Dari hal itu, Hari memutuskan untuk berjualan di Jalan A Yani. Harapannya, akan banyak yang membeli jamur tiram miliknya, sehingga dapat meminimalisasi kerugian akibat jamurnya yang membusuk dan tidak laku. “Akhirnya saya punya inisiatif untuk jualan dan turun ke jalan. Daripada jamur ini tidak terjual. Kebuang begitu. Ya terpaksa jualan sendiri di jalan seperti ini,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Untuk berjualan di pinggir jalan, Hari mengaku biasanya membawa sebanyak 30 hingga 40 kilogram setiap harinya. Tapi, untuk menarik para pelanggan membeli dagangannya, ia menerapkan harga obral. “Harganya Rp 12 ribu per kilo. Kalau harga normal di pasar Rp 16 ribu hingga Rp 18 ribu per kilonya. Dan kalau kondisi lagi kondusif, tidak ada PPKM seperti ini, harganya Rp 14 ribu. Tapi, mengambil langsung di rumah saya,” imbuhnya.

Dia mengungkapkan, berkat inisiatifnya untuk menjual jamur secara langsung di jalan, setiap hari jamur yang ia bawa bisa laku hingga 90 persen. Pria ini mengaku mulai berjualan di tempat itu mulai pukul 09.00 hingga 16.00.

- Advertisement -

NANGKAAN, RADARJEMBER.ID – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali membuat sejumlah pedagang mengubah pola jualan mereka. Seperti yang dilakukan oleh Hari, seorang pengusaha jamur tiram asal Desa Cindogo, Kecamatan Tapen, Bondowoso. Ia terpaksa berjualan di pinggir Jalan A Yani, Kelurahan Nangkaan, Bondowoso. Padahal sebelumnya, ia hanya berjualan dari rumahnya.

Hari mengatakan, biasanya yang membeli jamurnya adalah para pedagang melijo. Biasanya mereka membeli di atas pukul 20.00 malam. Sementara saat ini, berjualan dibatasi hanya sampai pukul 20.00. Kebijakan membuat dirinya kehilangan banyak pelanggan. Bahkan mencapai 50 persen. Ketika hal itu dibiarkan, maka jamur tiram miliknya bisa membusuk dan terbuang percuma.

Dari hal itu, Hari memutuskan untuk berjualan di Jalan A Yani. Harapannya, akan banyak yang membeli jamur tiram miliknya, sehingga dapat meminimalisasi kerugian akibat jamurnya yang membusuk dan tidak laku. “Akhirnya saya punya inisiatif untuk jualan dan turun ke jalan. Daripada jamur ini tidak terjual. Kebuang begitu. Ya terpaksa jualan sendiri di jalan seperti ini,” katanya.

Untuk berjualan di pinggir jalan, Hari mengaku biasanya membawa sebanyak 30 hingga 40 kilogram setiap harinya. Tapi, untuk menarik para pelanggan membeli dagangannya, ia menerapkan harga obral. “Harganya Rp 12 ribu per kilo. Kalau harga normal di pasar Rp 16 ribu hingga Rp 18 ribu per kilonya. Dan kalau kondisi lagi kondusif, tidak ada PPKM seperti ini, harganya Rp 14 ribu. Tapi, mengambil langsung di rumah saya,” imbuhnya.

Dia mengungkapkan, berkat inisiatifnya untuk menjual jamur secara langsung di jalan, setiap hari jamur yang ia bawa bisa laku hingga 90 persen. Pria ini mengaku mulai berjualan di tempat itu mulai pukul 09.00 hingga 16.00.

NANGKAAN, RADARJEMBER.ID – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali membuat sejumlah pedagang mengubah pola jualan mereka. Seperti yang dilakukan oleh Hari, seorang pengusaha jamur tiram asal Desa Cindogo, Kecamatan Tapen, Bondowoso. Ia terpaksa berjualan di pinggir Jalan A Yani, Kelurahan Nangkaan, Bondowoso. Padahal sebelumnya, ia hanya berjualan dari rumahnya.

Hari mengatakan, biasanya yang membeli jamurnya adalah para pedagang melijo. Biasanya mereka membeli di atas pukul 20.00 malam. Sementara saat ini, berjualan dibatasi hanya sampai pukul 20.00. Kebijakan membuat dirinya kehilangan banyak pelanggan. Bahkan mencapai 50 persen. Ketika hal itu dibiarkan, maka jamur tiram miliknya bisa membusuk dan terbuang percuma.

Dari hal itu, Hari memutuskan untuk berjualan di Jalan A Yani. Harapannya, akan banyak yang membeli jamur tiram miliknya, sehingga dapat meminimalisasi kerugian akibat jamurnya yang membusuk dan tidak laku. “Akhirnya saya punya inisiatif untuk jualan dan turun ke jalan. Daripada jamur ini tidak terjual. Kebuang begitu. Ya terpaksa jualan sendiri di jalan seperti ini,” katanya.

Untuk berjualan di pinggir jalan, Hari mengaku biasanya membawa sebanyak 30 hingga 40 kilogram setiap harinya. Tapi, untuk menarik para pelanggan membeli dagangannya, ia menerapkan harga obral. “Harganya Rp 12 ribu per kilo. Kalau harga normal di pasar Rp 16 ribu hingga Rp 18 ribu per kilonya. Dan kalau kondisi lagi kondusif, tidak ada PPKM seperti ini, harganya Rp 14 ribu. Tapi, mengambil langsung di rumah saya,” imbuhnya.

Dia mengungkapkan, berkat inisiatifnya untuk menjual jamur secara langsung di jalan, setiap hari jamur yang ia bawa bisa laku hingga 90 persen. Pria ini mengaku mulai berjualan di tempat itu mulai pukul 09.00 hingga 16.00.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/