alexametrics
27.3 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Pandemi, Mahasiswa Tuntut UKT Turun

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus (AMPK) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) At-Taqwa Bondowoso menggelar aksi unjuk rasa di dalam kampus, kemarin. Salah satu tuntutannya agar pihak kampus memberikan kebijakan penurunan uang kuliah tunggal (UKT) karena masih pandemi Covid-19.

Muhlas, juru bicara aksi, mengatakan, pihaknya membawa beberapa tuntutan yang ditujukan kepada pihak kampus. Pertama, mereka menuntut transparansi dana kampus, yang selama ini dianggap belum pernah ada transparansi alokasi dana yang digunakan oleh kampus. “Dana UKT misalnya, dana satu juta lima ratus itu tidak ada kejelasan dipergunakan untuk apa,” paparnya.
Selain itu, mahasiswa tidak terima karena ada salah seorang dosen yang meminta mahasiswa masuk kuliah saat pandemi. Karenanya, pihaknya meminta pihak rektor memberikan sanksi. Tuntutan ini karena sebelumnya ada dosen yang meminta mahasiswa untuk pertemuan tatap muka. Padahal, kampus telah mengeluarkan surat edaran untuk meliburkan seluruh kegiatan perkuliahan, baik daring maupun luring. Mahasiswa menilai, ketika masih ada dosen yang tetap melaksanakan perkuliahan, maka dosen tersebut melanggar kebijakan yang sudah ditetapkan. Mahasiswa menuntut tindakan tegas dari kampus untuk dosen tersebut.
Khusus untuk tuntutan penurunan UKT, alasan mahasiswa karena di tengah pandemi perekonomian diterpa badai kesulitan. “Bahkan, ada orang tua mahasiswa yang sampai berutang. Masak kampus gak memberikan keringanan,” jelasnya.  Mahasiswa menuntut agar kampus memberikan potongan UKT 30 persen.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa ditemui langsung Ketua STAI At Taqwa Drs H Akhmadi. Didampingi Wakil Ketua 2 dan Wakil Ketua 3. Menanggapi permintaan penurunan UKT tersebut, Ketua STAI At Taqwa menyampaikan, kebijakan UKT ada pada yayasan. Sementara, pihaknya hanya sebagai pelaksana. Sehingga besaran UKT ditentukan oleh pihak yayasan. Walaupun demikian, dia mempersilakan mahasiswanya yang ingin mengajukan penurunan. “Kalau mau minta penurunan silakan buat surat permohonan, nanti saya sampaikan kepada yayasan,” paparnya, ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya.
Selain itu, selama ini pihaknya telah banyak memberikan kebijakan dispensasi bagi para mahasiswa yang kesulitan dalam ekonomi dengan prosedur yang ditentukan. Kemudian, terkait tuntutan sikap tegas kepada dosen yang dianggap melanggar, dirinya menjelaskan, setiap dosen yang ada di sekolah tinggi tersebut memiliki aturan dan kode etik. Karena itu, dalam menjalankan tugasnya, para dosen sesuai dengan standar operasi yang telah ditetapkan.
Lebih lanjut, pihaknya menyampaikan, semua dana, baik pemasukan ataupun pengeluaran, dilaporkan kepada pihak yayasan. Kemudian, terdapat pengawas yang bertugas mengawasi kinerja dan sistem keuangan di sekolah tinggi tersebut. “Itu pihak yayasan dan pengawas khususnya yang ngawasi saya. Dan ada laporannya itu lengkap,” tandasnya.

Jurnalis: mg3
Fotografer: Istimewa
Editor: Solikhul Huda

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus (AMPK) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) At-Taqwa Bondowoso menggelar aksi unjuk rasa di dalam kampus, kemarin. Salah satu tuntutannya agar pihak kampus memberikan kebijakan penurunan uang kuliah tunggal (UKT) karena masih pandemi Covid-19.

Muhlas, juru bicara aksi, mengatakan, pihaknya membawa beberapa tuntutan yang ditujukan kepada pihak kampus. Pertama, mereka menuntut transparansi dana kampus, yang selama ini dianggap belum pernah ada transparansi alokasi dana yang digunakan oleh kampus. “Dana UKT misalnya, dana satu juta lima ratus itu tidak ada kejelasan dipergunakan untuk apa,” paparnya.
Selain itu, mahasiswa tidak terima karena ada salah seorang dosen yang meminta mahasiswa masuk kuliah saat pandemi. Karenanya, pihaknya meminta pihak rektor memberikan sanksi. Tuntutan ini karena sebelumnya ada dosen yang meminta mahasiswa untuk pertemuan tatap muka. Padahal, kampus telah mengeluarkan surat edaran untuk meliburkan seluruh kegiatan perkuliahan, baik daring maupun luring. Mahasiswa menilai, ketika masih ada dosen yang tetap melaksanakan perkuliahan, maka dosen tersebut melanggar kebijakan yang sudah ditetapkan. Mahasiswa menuntut tindakan tegas dari kampus untuk dosen tersebut.
Khusus untuk tuntutan penurunan UKT, alasan mahasiswa karena di tengah pandemi perekonomian diterpa badai kesulitan. “Bahkan, ada orang tua mahasiswa yang sampai berutang. Masak kampus gak memberikan keringanan,” jelasnya.  Mahasiswa menuntut agar kampus memberikan potongan UKT 30 persen.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa ditemui langsung Ketua STAI At Taqwa Drs H Akhmadi. Didampingi Wakil Ketua 2 dan Wakil Ketua 3. Menanggapi permintaan penurunan UKT tersebut, Ketua STAI At Taqwa menyampaikan, kebijakan UKT ada pada yayasan. Sementara, pihaknya hanya sebagai pelaksana. Sehingga besaran UKT ditentukan oleh pihak yayasan. Walaupun demikian, dia mempersilakan mahasiswanya yang ingin mengajukan penurunan. “Kalau mau minta penurunan silakan buat surat permohonan, nanti saya sampaikan kepada yayasan,” paparnya, ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya.
Selain itu, selama ini pihaknya telah banyak memberikan kebijakan dispensasi bagi para mahasiswa yang kesulitan dalam ekonomi dengan prosedur yang ditentukan. Kemudian, terkait tuntutan sikap tegas kepada dosen yang dianggap melanggar, dirinya menjelaskan, setiap dosen yang ada di sekolah tinggi tersebut memiliki aturan dan kode etik. Karena itu, dalam menjalankan tugasnya, para dosen sesuai dengan standar operasi yang telah ditetapkan.
Lebih lanjut, pihaknya menyampaikan, semua dana, baik pemasukan ataupun pengeluaran, dilaporkan kepada pihak yayasan. Kemudian, terdapat pengawas yang bertugas mengawasi kinerja dan sistem keuangan di sekolah tinggi tersebut. “Itu pihak yayasan dan pengawas khususnya yang ngawasi saya. Dan ada laporannya itu lengkap,” tandasnya.

Jurnalis: mg3
Fotografer: Istimewa
Editor: Solikhul Huda

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus (AMPK) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) At-Taqwa Bondowoso menggelar aksi unjuk rasa di dalam kampus, kemarin. Salah satu tuntutannya agar pihak kampus memberikan kebijakan penurunan uang kuliah tunggal (UKT) karena masih pandemi Covid-19.

Muhlas, juru bicara aksi, mengatakan, pihaknya membawa beberapa tuntutan yang ditujukan kepada pihak kampus. Pertama, mereka menuntut transparansi dana kampus, yang selama ini dianggap belum pernah ada transparansi alokasi dana yang digunakan oleh kampus. “Dana UKT misalnya, dana satu juta lima ratus itu tidak ada kejelasan dipergunakan untuk apa,” paparnya.
Selain itu, mahasiswa tidak terima karena ada salah seorang dosen yang meminta mahasiswa masuk kuliah saat pandemi. Karenanya, pihaknya meminta pihak rektor memberikan sanksi. Tuntutan ini karena sebelumnya ada dosen yang meminta mahasiswa untuk pertemuan tatap muka. Padahal, kampus telah mengeluarkan surat edaran untuk meliburkan seluruh kegiatan perkuliahan, baik daring maupun luring. Mahasiswa menilai, ketika masih ada dosen yang tetap melaksanakan perkuliahan, maka dosen tersebut melanggar kebijakan yang sudah ditetapkan. Mahasiswa menuntut tindakan tegas dari kampus untuk dosen tersebut.
Khusus untuk tuntutan penurunan UKT, alasan mahasiswa karena di tengah pandemi perekonomian diterpa badai kesulitan. “Bahkan, ada orang tua mahasiswa yang sampai berutang. Masak kampus gak memberikan keringanan,” jelasnya.  Mahasiswa menuntut agar kampus memberikan potongan UKT 30 persen.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa ditemui langsung Ketua STAI At Taqwa Drs H Akhmadi. Didampingi Wakil Ketua 2 dan Wakil Ketua 3. Menanggapi permintaan penurunan UKT tersebut, Ketua STAI At Taqwa menyampaikan, kebijakan UKT ada pada yayasan. Sementara, pihaknya hanya sebagai pelaksana. Sehingga besaran UKT ditentukan oleh pihak yayasan. Walaupun demikian, dia mempersilakan mahasiswanya yang ingin mengajukan penurunan. “Kalau mau minta penurunan silakan buat surat permohonan, nanti saya sampaikan kepada yayasan,” paparnya, ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya.
Selain itu, selama ini pihaknya telah banyak memberikan kebijakan dispensasi bagi para mahasiswa yang kesulitan dalam ekonomi dengan prosedur yang ditentukan. Kemudian, terkait tuntutan sikap tegas kepada dosen yang dianggap melanggar, dirinya menjelaskan, setiap dosen yang ada di sekolah tinggi tersebut memiliki aturan dan kode etik. Karena itu, dalam menjalankan tugasnya, para dosen sesuai dengan standar operasi yang telah ditetapkan.
Lebih lanjut, pihaknya menyampaikan, semua dana, baik pemasukan ataupun pengeluaran, dilaporkan kepada pihak yayasan. Kemudian, terdapat pengawas yang bertugas mengawasi kinerja dan sistem keuangan di sekolah tinggi tersebut. “Itu pihak yayasan dan pengawas khususnya yang ngawasi saya. Dan ada laporannya itu lengkap,” tandasnya.

Jurnalis: mg3
Fotografer: Istimewa
Editor: Solikhul Huda

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/