alexametrics
26.7 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Pupuk Subsidi Naik, Petani Resah

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Harga pupuk subsidi membuat petani tidak tenang. Kini harga eceran tertinggi (HET) naik. Petani merasa keberatan atas naiknya pupuk bantuan pemerintah itu. Kenaikan tersebut sesuai Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 49 Tahun 2020 tentang alokasi dan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sektor pertanian tahun anggaran 2021.

Urea yang sebelumnya HET Rp 1.800 menjadi Rp 2.250 per kilogram, SP-36 dari HET sebelumnya Rp 2.000 menjadi Rp 2.400 per kilogram. Pupuk ZA sebelumnya harganya Rp 1.400 menjadi Rp 1.700 per kilogram, organik granul naik Rp 300 hingga menjadi Rp 800 per kilogram.

Kenaikan itu ditanggapi Muhammad Wahyudi Arifin, salah seorang petani sekaligus anggota Kelompok Tani Desa Gunung Anyar, Kecamatan Tapen. Dirinya menyebut, kenaikan harga pupuk tersebut benar-benar tidak berpihak ke petani. “Dari harga pupuk yang tak naik saja petani hanya bisa meraup untung sekitar Rp 6 juta untuk lahan skala besar,” kata Wahyudi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurutnya, dengan estimasi biaya produksi sekitar Rp 8 juta sampai Rp 9 juta per hektare. Sementara harga jagung Rp 4.000 per kilogram. Bahkan saat ini HPP jagung Rp 3.500 per kilogram. “Maka dapat dari mana selama empat bulan itu. Jadi, kenaikan pupuk ini sangat mencekik. Semua biaya produksinya naik, hasil produksinya rendah. Harga jualnya juga rendah,” ucapnya.

Dia juga mengaku ada kendala lain. Yakni sampai saat ini belum menerima Kartu Tani karena waktu pengambilan foto pihaknya ke luar kota. “Saat saya coba konfirmasi ke Dispertan, katanya masih disuruh nunggu. Sedangkan sekarang kalau beli pupuk harus membawa Kartu Tani dan SPPT tanah,” terangnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Harga pupuk subsidi membuat petani tidak tenang. Kini harga eceran tertinggi (HET) naik. Petani merasa keberatan atas naiknya pupuk bantuan pemerintah itu. Kenaikan tersebut sesuai Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 49 Tahun 2020 tentang alokasi dan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sektor pertanian tahun anggaran 2021.

Urea yang sebelumnya HET Rp 1.800 menjadi Rp 2.250 per kilogram, SP-36 dari HET sebelumnya Rp 2.000 menjadi Rp 2.400 per kilogram. Pupuk ZA sebelumnya harganya Rp 1.400 menjadi Rp 1.700 per kilogram, organik granul naik Rp 300 hingga menjadi Rp 800 per kilogram.

Kenaikan itu ditanggapi Muhammad Wahyudi Arifin, salah seorang petani sekaligus anggota Kelompok Tani Desa Gunung Anyar, Kecamatan Tapen. Dirinya menyebut, kenaikan harga pupuk tersebut benar-benar tidak berpihak ke petani. “Dari harga pupuk yang tak naik saja petani hanya bisa meraup untung sekitar Rp 6 juta untuk lahan skala besar,” kata Wahyudi.

Menurutnya, dengan estimasi biaya produksi sekitar Rp 8 juta sampai Rp 9 juta per hektare. Sementara harga jagung Rp 4.000 per kilogram. Bahkan saat ini HPP jagung Rp 3.500 per kilogram. “Maka dapat dari mana selama empat bulan itu. Jadi, kenaikan pupuk ini sangat mencekik. Semua biaya produksinya naik, hasil produksinya rendah. Harga jualnya juga rendah,” ucapnya.

Dia juga mengaku ada kendala lain. Yakni sampai saat ini belum menerima Kartu Tani karena waktu pengambilan foto pihaknya ke luar kota. “Saat saya coba konfirmasi ke Dispertan, katanya masih disuruh nunggu. Sedangkan sekarang kalau beli pupuk harus membawa Kartu Tani dan SPPT tanah,” terangnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Harga pupuk subsidi membuat petani tidak tenang. Kini harga eceran tertinggi (HET) naik. Petani merasa keberatan atas naiknya pupuk bantuan pemerintah itu. Kenaikan tersebut sesuai Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 49 Tahun 2020 tentang alokasi dan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sektor pertanian tahun anggaran 2021.

Urea yang sebelumnya HET Rp 1.800 menjadi Rp 2.250 per kilogram, SP-36 dari HET sebelumnya Rp 2.000 menjadi Rp 2.400 per kilogram. Pupuk ZA sebelumnya harganya Rp 1.400 menjadi Rp 1.700 per kilogram, organik granul naik Rp 300 hingga menjadi Rp 800 per kilogram.

Kenaikan itu ditanggapi Muhammad Wahyudi Arifin, salah seorang petani sekaligus anggota Kelompok Tani Desa Gunung Anyar, Kecamatan Tapen. Dirinya menyebut, kenaikan harga pupuk tersebut benar-benar tidak berpihak ke petani. “Dari harga pupuk yang tak naik saja petani hanya bisa meraup untung sekitar Rp 6 juta untuk lahan skala besar,” kata Wahyudi.

Menurutnya, dengan estimasi biaya produksi sekitar Rp 8 juta sampai Rp 9 juta per hektare. Sementara harga jagung Rp 4.000 per kilogram. Bahkan saat ini HPP jagung Rp 3.500 per kilogram. “Maka dapat dari mana selama empat bulan itu. Jadi, kenaikan pupuk ini sangat mencekik. Semua biaya produksinya naik, hasil produksinya rendah. Harga jualnya juga rendah,” ucapnya.

Dia juga mengaku ada kendala lain. Yakni sampai saat ini belum menerima Kartu Tani karena waktu pengambilan foto pihaknya ke luar kota. “Saat saya coba konfirmasi ke Dispertan, katanya masih disuruh nunggu. Sedangkan sekarang kalau beli pupuk harus membawa Kartu Tani dan SPPT tanah,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/