31.4 C
Jember
Thursday, 30 March 2023

Gerbong Maut Bondowoso Diusulkan Masuk Mulok

Untuk Tanamkan Pendidikan Sejarah ke Pelajar

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tanggal 23 November kemarin bertepatan dengan 74 tahun terjadinya tragedi Gerbong Maut yang menelan korban jiwa 47 pahlawan. Peristiwa ini merupakan salah satu rangkaian sejarah perjalanan Kabupaten Bondowoso hingga berdiri sampai kini.

Wakil Ketua DPRD Bondowoso Sinung Sudrajad berjanji akan menghormati jasa pahlawan dengan cara memasukkan sejarah tersebut ke dalam muatan lokal (mulok). Mulai tingkat SD hingga SMP. Tujuannya untuk menanamkan rasa nasionalisme sedini mungkin kepada anak didik, serta mengenalkan salah satu sejarah kampung halamannya sendiri.

“Dan sekali lagi, dalam kesempatan ini pula, mohon dukungan dan kekompakan rekan-rekan sekalian. Kami di DPRD akan segera bergerak menindaklanjuti mata pelajaran muatan lokal Kabupaten Bondowoso,” jelas Sinung.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mulok yang dimaksud mulai dari potensi kabupatennya hingga potensi sejarahnya. Dari zaman prasejarah megalitikum sampai dengan perang kemerdekaan. Termasuk di dalamnya terjadinya tragedi Gerbong Maut ini.  “Ini untuk menanamkan pendidikan sejarah tentang perjuangan para pahlawan,” katanya.

Selain itu, ia juga mengapresiasi peringatan tragedi Gerbong Maut yang digelar secara sederhana oleh Grup Apresiasi Seni (GAS) Bondowoso. Selain menggelar teatrikal yang menggambarkan penderitaan para pahlawan selama di dalam gerbong tertutup, mereka juga menggelar doa bersama di depan Monumen Gerbong Maut di Alun-Alun Bondowoso.

Aksi itu menunjukkan bahwa masih ada kepedulian para pemuda Bondowoso terhadap sejarah lahirnya Bumi Ki Ronggo. “Setidaknya mereka mempunyai niat yang diwujudkan pada malam hari ini untuk menghargai jasa para pahlawan. Utamanya para korban tragedi Gerbong Maut 74 tahun silam,” ungkapnya.

Untuk itu, ia berharap dukungan pemerintah daerah setempat dalam setiap peringatan tragedi Gerbong Maut. Agar tak sekadar mengibarkan bendera di tiap instansi, namun lebih dari itu. Yakni, memasukkan sejarah Gerbong Maut ke dalam mulok.

Sementara itu, Ketua GAS Bondowoso Junaedi menuturkan, kegiatan ini untuk mengenang kisah perjuangan para pahlawan yang gugur di dalam gerbong. Menurut dia, pandemi Covid-19 membuat konsep ketoprak yang telah dipersiapkan urung terlaksana. “Yang penting, kami ingin mengenang peristiwa ini, menghargai pahlawan. Pemerintah tidak mengadakan, ya, kami buat begini,” beber mantan penyiar radio tersebut.

Ia berpesan kepada para pemuda Bondowoso agar tidak melupakan sejarah kotanya sendiri. sebab, selama ini banyak pemuda, siswa, dan warga Bondowoso yang tidak mengetahui sejarah Gerbong Maut. Bahkan tanggal peristiwanya saja tidak ingat. “Untuk generasi muda, jangan lupakan sejarah, terutama sejarah kota sendiri,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tanggal 23 November kemarin bertepatan dengan 74 tahun terjadinya tragedi Gerbong Maut yang menelan korban jiwa 47 pahlawan. Peristiwa ini merupakan salah satu rangkaian sejarah perjalanan Kabupaten Bondowoso hingga berdiri sampai kini.

Wakil Ketua DPRD Bondowoso Sinung Sudrajad berjanji akan menghormati jasa pahlawan dengan cara memasukkan sejarah tersebut ke dalam muatan lokal (mulok). Mulai tingkat SD hingga SMP. Tujuannya untuk menanamkan rasa nasionalisme sedini mungkin kepada anak didik, serta mengenalkan salah satu sejarah kampung halamannya sendiri.

“Dan sekali lagi, dalam kesempatan ini pula, mohon dukungan dan kekompakan rekan-rekan sekalian. Kami di DPRD akan segera bergerak menindaklanjuti mata pelajaran muatan lokal Kabupaten Bondowoso,” jelas Sinung.

Mulok yang dimaksud mulai dari potensi kabupatennya hingga potensi sejarahnya. Dari zaman prasejarah megalitikum sampai dengan perang kemerdekaan. Termasuk di dalamnya terjadinya tragedi Gerbong Maut ini.  “Ini untuk menanamkan pendidikan sejarah tentang perjuangan para pahlawan,” katanya.

Selain itu, ia juga mengapresiasi peringatan tragedi Gerbong Maut yang digelar secara sederhana oleh Grup Apresiasi Seni (GAS) Bondowoso. Selain menggelar teatrikal yang menggambarkan penderitaan para pahlawan selama di dalam gerbong tertutup, mereka juga menggelar doa bersama di depan Monumen Gerbong Maut di Alun-Alun Bondowoso.

Aksi itu menunjukkan bahwa masih ada kepedulian para pemuda Bondowoso terhadap sejarah lahirnya Bumi Ki Ronggo. “Setidaknya mereka mempunyai niat yang diwujudkan pada malam hari ini untuk menghargai jasa para pahlawan. Utamanya para korban tragedi Gerbong Maut 74 tahun silam,” ungkapnya.

Untuk itu, ia berharap dukungan pemerintah daerah setempat dalam setiap peringatan tragedi Gerbong Maut. Agar tak sekadar mengibarkan bendera di tiap instansi, namun lebih dari itu. Yakni, memasukkan sejarah Gerbong Maut ke dalam mulok.

Sementara itu, Ketua GAS Bondowoso Junaedi menuturkan, kegiatan ini untuk mengenang kisah perjuangan para pahlawan yang gugur di dalam gerbong. Menurut dia, pandemi Covid-19 membuat konsep ketoprak yang telah dipersiapkan urung terlaksana. “Yang penting, kami ingin mengenang peristiwa ini, menghargai pahlawan. Pemerintah tidak mengadakan, ya, kami buat begini,” beber mantan penyiar radio tersebut.

Ia berpesan kepada para pemuda Bondowoso agar tidak melupakan sejarah kotanya sendiri. sebab, selama ini banyak pemuda, siswa, dan warga Bondowoso yang tidak mengetahui sejarah Gerbong Maut. Bahkan tanggal peristiwanya saja tidak ingat. “Untuk generasi muda, jangan lupakan sejarah, terutama sejarah kota sendiri,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tanggal 23 November kemarin bertepatan dengan 74 tahun terjadinya tragedi Gerbong Maut yang menelan korban jiwa 47 pahlawan. Peristiwa ini merupakan salah satu rangkaian sejarah perjalanan Kabupaten Bondowoso hingga berdiri sampai kini.

Wakil Ketua DPRD Bondowoso Sinung Sudrajad berjanji akan menghormati jasa pahlawan dengan cara memasukkan sejarah tersebut ke dalam muatan lokal (mulok). Mulai tingkat SD hingga SMP. Tujuannya untuk menanamkan rasa nasionalisme sedini mungkin kepada anak didik, serta mengenalkan salah satu sejarah kampung halamannya sendiri.

“Dan sekali lagi, dalam kesempatan ini pula, mohon dukungan dan kekompakan rekan-rekan sekalian. Kami di DPRD akan segera bergerak menindaklanjuti mata pelajaran muatan lokal Kabupaten Bondowoso,” jelas Sinung.

Mulok yang dimaksud mulai dari potensi kabupatennya hingga potensi sejarahnya. Dari zaman prasejarah megalitikum sampai dengan perang kemerdekaan. Termasuk di dalamnya terjadinya tragedi Gerbong Maut ini.  “Ini untuk menanamkan pendidikan sejarah tentang perjuangan para pahlawan,” katanya.

Selain itu, ia juga mengapresiasi peringatan tragedi Gerbong Maut yang digelar secara sederhana oleh Grup Apresiasi Seni (GAS) Bondowoso. Selain menggelar teatrikal yang menggambarkan penderitaan para pahlawan selama di dalam gerbong tertutup, mereka juga menggelar doa bersama di depan Monumen Gerbong Maut di Alun-Alun Bondowoso.

Aksi itu menunjukkan bahwa masih ada kepedulian para pemuda Bondowoso terhadap sejarah lahirnya Bumi Ki Ronggo. “Setidaknya mereka mempunyai niat yang diwujudkan pada malam hari ini untuk menghargai jasa para pahlawan. Utamanya para korban tragedi Gerbong Maut 74 tahun silam,” ungkapnya.

Untuk itu, ia berharap dukungan pemerintah daerah setempat dalam setiap peringatan tragedi Gerbong Maut. Agar tak sekadar mengibarkan bendera di tiap instansi, namun lebih dari itu. Yakni, memasukkan sejarah Gerbong Maut ke dalam mulok.

Sementara itu, Ketua GAS Bondowoso Junaedi menuturkan, kegiatan ini untuk mengenang kisah perjuangan para pahlawan yang gugur di dalam gerbong. Menurut dia, pandemi Covid-19 membuat konsep ketoprak yang telah dipersiapkan urung terlaksana. “Yang penting, kami ingin mengenang peristiwa ini, menghargai pahlawan. Pemerintah tidak mengadakan, ya, kami buat begini,” beber mantan penyiar radio tersebut.

Ia berpesan kepada para pemuda Bondowoso agar tidak melupakan sejarah kotanya sendiri. sebab, selama ini banyak pemuda, siswa, dan warga Bondowoso yang tidak mengetahui sejarah Gerbong Maut. Bahkan tanggal peristiwanya saja tidak ingat. “Untuk generasi muda, jangan lupakan sejarah, terutama sejarah kota sendiri,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca