alexametrics
31.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Warga Rela Antre dari Subuh untuk HET

Oh Gas Melon, Kenapa Engkau Langka?

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Puluhan warga terlihat mengantre untuk mendapatkan gas LPG 3 kilogram atau sering disebut gas melon di salah satu distributor resmi gas elpiji di jalan KH Wahid Hasyim, Bondowoso, Rabu (24/3) pagi kemarin. Pemandangan tersebut hampir terjadi setiap pagi. Apalagi gas jenis tersebut saat ini langka keberadaannya.
Warga harus rela mengantre dari subuh untuk mendapatkan harga normal, sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET). Jika tidak, mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan barang tersebut. Sebab, banyak pedagang menjual dengan harga yang lebih tinggi dari HET yang ditentukan.
Senno, salah seorang warga yang ikut mengantre di tempat tersebut, menyampaikan, antrean tersebut memang terjadi setiap hari, kecuali hari Minggu, karena toko tutup. Untuk mendapatkan gas melon, harus mengantre dari pukul lima pagi. Itu pun ketika berangkat, sudah mendapatkan antrean belakang. “Ada yang sudah ngantre dari subuh di sini, Mas,” ungkapnya.
Dijelaskan, barang yang tersedia di tempat tersebut juga terbatas. Setiap harinya hanya dapat mengeluarkan 200 gas saja. Sehingga tidak jarang warga harus rela kembali tanpa membawa barang langka tersebut. Untuk mendapatkannya, warga juga harus menyerahkan fotokopi kartu tanda penduduknya. “Jadi, kalau yang sudah dapat gitu, gak bisa beli lagi,” terangnya.
Lebih lanjut, Senno menjelaskan, antrean tersebut terjadi karena di toko itu masih menjual dengan harga sesuai HET yang ditentukan. Sementara, menurutnya banyak pedagang gas di luar tempat itu menjual dengan harga yang lebih mahal. “Kalau di sini cuma enam belas ribu. Kalau di luaran ada yang lebih mahal,” tegasnya. Di toko tersebut masyarakat membeli gas melon Rp 16 ribu. Jika di luaran ada yang Rp 20 ribu sampai Rp 22 ribu.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Puluhan warga terlihat mengantre untuk mendapatkan gas LPG 3 kilogram atau sering disebut gas melon di salah satu distributor resmi gas elpiji di jalan KH Wahid Hasyim, Bondowoso, Rabu (24/3) pagi kemarin. Pemandangan tersebut hampir terjadi setiap pagi. Apalagi gas jenis tersebut saat ini langka keberadaannya.
Warga harus rela mengantre dari subuh untuk mendapatkan harga normal, sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET). Jika tidak, mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan barang tersebut. Sebab, banyak pedagang menjual dengan harga yang lebih tinggi dari HET yang ditentukan.
Senno, salah seorang warga yang ikut mengantre di tempat tersebut, menyampaikan, antrean tersebut memang terjadi setiap hari, kecuali hari Minggu, karena toko tutup. Untuk mendapatkan gas melon, harus mengantre dari pukul lima pagi. Itu pun ketika berangkat, sudah mendapatkan antrean belakang. “Ada yang sudah ngantre dari subuh di sini, Mas,” ungkapnya.
Dijelaskan, barang yang tersedia di tempat tersebut juga terbatas. Setiap harinya hanya dapat mengeluarkan 200 gas saja. Sehingga tidak jarang warga harus rela kembali tanpa membawa barang langka tersebut. Untuk mendapatkannya, warga juga harus menyerahkan fotokopi kartu tanda penduduknya. “Jadi, kalau yang sudah dapat gitu, gak bisa beli lagi,” terangnya.
Lebih lanjut, Senno menjelaskan, antrean tersebut terjadi karena di toko itu masih menjual dengan harga sesuai HET yang ditentukan. Sementara, menurutnya banyak pedagang gas di luar tempat itu menjual dengan harga yang lebih mahal. “Kalau di sini cuma enam belas ribu. Kalau di luaran ada yang lebih mahal,” tegasnya. Di toko tersebut masyarakat membeli gas melon Rp 16 ribu. Jika di luaran ada yang Rp 20 ribu sampai Rp 22 ribu.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Puluhan warga terlihat mengantre untuk mendapatkan gas LPG 3 kilogram atau sering disebut gas melon di salah satu distributor resmi gas elpiji di jalan KH Wahid Hasyim, Bondowoso, Rabu (24/3) pagi kemarin. Pemandangan tersebut hampir terjadi setiap pagi. Apalagi gas jenis tersebut saat ini langka keberadaannya.
Warga harus rela mengantre dari subuh untuk mendapatkan harga normal, sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET). Jika tidak, mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan barang tersebut. Sebab, banyak pedagang menjual dengan harga yang lebih tinggi dari HET yang ditentukan.
Senno, salah seorang warga yang ikut mengantre di tempat tersebut, menyampaikan, antrean tersebut memang terjadi setiap hari, kecuali hari Minggu, karena toko tutup. Untuk mendapatkan gas melon, harus mengantre dari pukul lima pagi. Itu pun ketika berangkat, sudah mendapatkan antrean belakang. “Ada yang sudah ngantre dari subuh di sini, Mas,” ungkapnya.
Dijelaskan, barang yang tersedia di tempat tersebut juga terbatas. Setiap harinya hanya dapat mengeluarkan 200 gas saja. Sehingga tidak jarang warga harus rela kembali tanpa membawa barang langka tersebut. Untuk mendapatkannya, warga juga harus menyerahkan fotokopi kartu tanda penduduknya. “Jadi, kalau yang sudah dapat gitu, gak bisa beli lagi,” terangnya.
Lebih lanjut, Senno menjelaskan, antrean tersebut terjadi karena di toko itu masih menjual dengan harga sesuai HET yang ditentukan. Sementara, menurutnya banyak pedagang gas di luar tempat itu menjual dengan harga yang lebih mahal. “Kalau di sini cuma enam belas ribu. Kalau di luaran ada yang lebih mahal,” tegasnya. Di toko tersebut masyarakat membeli gas melon Rp 16 ribu. Jika di luaran ada yang Rp 20 ribu sampai Rp 22 ribu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/