alexametrics
23.3 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Kiat Taufik Hidayat Hidupkan Literasi di Bondowoso

Tujuh Bulan, Terbitkan 60 Buku Malam itu, cuaca gerimis dan dingin, suasana tenang. Terlihat seorang pemuda tengah asyik memainkan laptopnya. Melanjutkan pekerjaannya menulis buku. Jari-jarinya terlihat mahir menekan tombol-tombol yang ada di keyboard laptopnya. Pria itu adalah Taufik Hidayat, seorang penulis sekaligus founder dari penerbit Licensi Bondowoso.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Penerbit Licensi Bondowoso merupakan satu-satunya penerbit di kota yang terkenal dengan Republik Kopi ini. Keberadaannya menjadi salah satu solusi bagi para penulis yang kesulitan menerbitkan tulisannya. Penerbit ini mengakomodasi para penulis yang ada di Kabupaten Bondowoso.
Taufik, panggilan akrabnya, menyampaikan, Licensi merupakan kepanjangan dari Library Center Indonesia. Diharapkan menjadi pusat dari kepustakaan di Indonesia, khususnya di Kabupaten Bondowoso. Apalagi di kabupaten ini belum ada penerbit yang menerbitkan buku dari para penulis lokal.
Proses pembuatan penerbitan ini terbilang cukup singkat. Dibuat sejak minggu kedua Agustus 2020. Proses perizinannya diselesaikan dalam waktu satu minggu saja. “Minggu pertama kami punya rencana, dan minggu kedua kami urus syarat-syaratnya. Kemudian pada minggu ketiga kami resmi punya penerbit,” ungkap pria umur 34 tahun ini.
Penerbitan itu dibuat agar bisa menjadi wadah para penulis di Bondowoso. Sebab, menurutnya, kabupaten ini memiliki banyak potensi penulis. Baik penulis senior maupun penulis muda yang masih baru terjun dalam dunia tulis-menulis. Kebanyakan mereka mengalami kesulitan dalam mencetak tulisannya. Sehingga, dengan adanya penerbit ini, para penulis sudah mulai muncul ke permukaan. “Orang Bondowoso sendiri sampai sejauh ini sudah banyak yang menerbitkan bukunya di sini,” ungkap mantan aktivis PMII ini.
Selama berjalan tujuh bulan hingga saat ini, pihaknya sudah menerbitkan 60 buku dari para penulis Bondowoso dan luar Bondowoso. Setiap bulan dia bisa menerbitkan delapan sampai sembilan buku secara rutin. “Memang gak menentu waktu terbitnya. Tapi setiap bulan pasti kita menerbitkan buku,” tegas alumnus STAI At Taqwa Bondowoso ini.
Selain menampung tulisan dari para penulis lokal, penerbit juga menampung tulisan dari para penulis luar Bondowoso. Sebab, dari banyaknya buku yang diterbitkan saat ini masih didominasi oleh tulisan dari orang-orang luar daerah. “Kalau persentase 100 persen, penulis Bondowoso yang menerbitkan buku di sini mungkin hanya 30 persen,” tuturnya.
Untuk merangsang minat menulis masyarakat Bondowoso, Licensi memiliki program menulis bareng buku antologi, dengan tema yang sudah ditentukan oleh para Licensi. Kemudian, siapa saja boleh menulis dalam buku tersebut, dengan syarat sesuai dengan ketentuan tema yang ditentukan.
Program tersebut sudah berjalan beberapa kali selama penerbitan ini dibuat. Desember tahun lalu merupakan kali pertama penerbit ini menerbitkan buku antologi dengan tema agama, tradisi, dan budaya yang ada di Bondowoso. Buku tersebut diberi judul Yang Tak Ku Izinkan Hilang. Kemudian, buku antologi kedua mengangkat segala momen sepanjang 2020, dengan tema Unforgettable Moment.
Buku antologi ketiga membahas tentang konflik agama dan kitab suci. “Setelah itu, kita buat antologi puisi, kemudian baru sabtu kemaren kita launching buku cerpen,” urai pria dua anak tersebut.
“Kita terus ada agenda ya, tujuannya untuk merangsang para penulis-penulis baru untuk belajar menulis buku. Pada akhirnya kita harapkan orang-orang yang menulis buku antologi tersebut bisa membuat buku tunggal,” imbuhnya.
Taufik Hidayat sudah berhasil menerbitkan 20 buku secara mandiri. Hal tersebut dilakukan sejak januari 2020 lalu. Uniknya, hal itu tidak membuat Taufik puas dengan berbagai karyanya. “Hari ini sudah proses lagi saya, rencana akan diterbitkan bulan April mendatang. Ada empat buku, tapi kalau waktunya nutut bisa nambah lagi,” pungkasnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Penerbit Licensi Bondowoso merupakan satu-satunya penerbit di kota yang terkenal dengan Republik Kopi ini. Keberadaannya menjadi salah satu solusi bagi para penulis yang kesulitan menerbitkan tulisannya. Penerbit ini mengakomodasi para penulis yang ada di Kabupaten Bondowoso.
Taufik, panggilan akrabnya, menyampaikan, Licensi merupakan kepanjangan dari Library Center Indonesia. Diharapkan menjadi pusat dari kepustakaan di Indonesia, khususnya di Kabupaten Bondowoso. Apalagi di kabupaten ini belum ada penerbit yang menerbitkan buku dari para penulis lokal.
Proses pembuatan penerbitan ini terbilang cukup singkat. Dibuat sejak minggu kedua Agustus 2020. Proses perizinannya diselesaikan dalam waktu satu minggu saja. “Minggu pertama kami punya rencana, dan minggu kedua kami urus syarat-syaratnya. Kemudian pada minggu ketiga kami resmi punya penerbit,” ungkap pria umur 34 tahun ini.
Penerbitan itu dibuat agar bisa menjadi wadah para penulis di Bondowoso. Sebab, menurutnya, kabupaten ini memiliki banyak potensi penulis. Baik penulis senior maupun penulis muda yang masih baru terjun dalam dunia tulis-menulis. Kebanyakan mereka mengalami kesulitan dalam mencetak tulisannya. Sehingga, dengan adanya penerbit ini, para penulis sudah mulai muncul ke permukaan. “Orang Bondowoso sendiri sampai sejauh ini sudah banyak yang menerbitkan bukunya di sini,” ungkap mantan aktivis PMII ini.
Selama berjalan tujuh bulan hingga saat ini, pihaknya sudah menerbitkan 60 buku dari para penulis Bondowoso dan luar Bondowoso. Setiap bulan dia bisa menerbitkan delapan sampai sembilan buku secara rutin. “Memang gak menentu waktu terbitnya. Tapi setiap bulan pasti kita menerbitkan buku,” tegas alumnus STAI At Taqwa Bondowoso ini.
Selain menampung tulisan dari para penulis lokal, penerbit juga menampung tulisan dari para penulis luar Bondowoso. Sebab, dari banyaknya buku yang diterbitkan saat ini masih didominasi oleh tulisan dari orang-orang luar daerah. “Kalau persentase 100 persen, penulis Bondowoso yang menerbitkan buku di sini mungkin hanya 30 persen,” tuturnya.
Untuk merangsang minat menulis masyarakat Bondowoso, Licensi memiliki program menulis bareng buku antologi, dengan tema yang sudah ditentukan oleh para Licensi. Kemudian, siapa saja boleh menulis dalam buku tersebut, dengan syarat sesuai dengan ketentuan tema yang ditentukan.
Program tersebut sudah berjalan beberapa kali selama penerbitan ini dibuat. Desember tahun lalu merupakan kali pertama penerbit ini menerbitkan buku antologi dengan tema agama, tradisi, dan budaya yang ada di Bondowoso. Buku tersebut diberi judul Yang Tak Ku Izinkan Hilang. Kemudian, buku antologi kedua mengangkat segala momen sepanjang 2020, dengan tema Unforgettable Moment.
Buku antologi ketiga membahas tentang konflik agama dan kitab suci. “Setelah itu, kita buat antologi puisi, kemudian baru sabtu kemaren kita launching buku cerpen,” urai pria dua anak tersebut.
“Kita terus ada agenda ya, tujuannya untuk merangsang para penulis-penulis baru untuk belajar menulis buku. Pada akhirnya kita harapkan orang-orang yang menulis buku antologi tersebut bisa membuat buku tunggal,” imbuhnya.
Taufik Hidayat sudah berhasil menerbitkan 20 buku secara mandiri. Hal tersebut dilakukan sejak januari 2020 lalu. Uniknya, hal itu tidak membuat Taufik puas dengan berbagai karyanya. “Hari ini sudah proses lagi saya, rencana akan diterbitkan bulan April mendatang. Ada empat buku, tapi kalau waktunya nutut bisa nambah lagi,” pungkasnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Penerbit Licensi Bondowoso merupakan satu-satunya penerbit di kota yang terkenal dengan Republik Kopi ini. Keberadaannya menjadi salah satu solusi bagi para penulis yang kesulitan menerbitkan tulisannya. Penerbit ini mengakomodasi para penulis yang ada di Kabupaten Bondowoso.
Taufik, panggilan akrabnya, menyampaikan, Licensi merupakan kepanjangan dari Library Center Indonesia. Diharapkan menjadi pusat dari kepustakaan di Indonesia, khususnya di Kabupaten Bondowoso. Apalagi di kabupaten ini belum ada penerbit yang menerbitkan buku dari para penulis lokal.
Proses pembuatan penerbitan ini terbilang cukup singkat. Dibuat sejak minggu kedua Agustus 2020. Proses perizinannya diselesaikan dalam waktu satu minggu saja. “Minggu pertama kami punya rencana, dan minggu kedua kami urus syarat-syaratnya. Kemudian pada minggu ketiga kami resmi punya penerbit,” ungkap pria umur 34 tahun ini.
Penerbitan itu dibuat agar bisa menjadi wadah para penulis di Bondowoso. Sebab, menurutnya, kabupaten ini memiliki banyak potensi penulis. Baik penulis senior maupun penulis muda yang masih baru terjun dalam dunia tulis-menulis. Kebanyakan mereka mengalami kesulitan dalam mencetak tulisannya. Sehingga, dengan adanya penerbit ini, para penulis sudah mulai muncul ke permukaan. “Orang Bondowoso sendiri sampai sejauh ini sudah banyak yang menerbitkan bukunya di sini,” ungkap mantan aktivis PMII ini.
Selama berjalan tujuh bulan hingga saat ini, pihaknya sudah menerbitkan 60 buku dari para penulis Bondowoso dan luar Bondowoso. Setiap bulan dia bisa menerbitkan delapan sampai sembilan buku secara rutin. “Memang gak menentu waktu terbitnya. Tapi setiap bulan pasti kita menerbitkan buku,” tegas alumnus STAI At Taqwa Bondowoso ini.
Selain menampung tulisan dari para penulis lokal, penerbit juga menampung tulisan dari para penulis luar Bondowoso. Sebab, dari banyaknya buku yang diterbitkan saat ini masih didominasi oleh tulisan dari orang-orang luar daerah. “Kalau persentase 100 persen, penulis Bondowoso yang menerbitkan buku di sini mungkin hanya 30 persen,” tuturnya.
Untuk merangsang minat menulis masyarakat Bondowoso, Licensi memiliki program menulis bareng buku antologi, dengan tema yang sudah ditentukan oleh para Licensi. Kemudian, siapa saja boleh menulis dalam buku tersebut, dengan syarat sesuai dengan ketentuan tema yang ditentukan.
Program tersebut sudah berjalan beberapa kali selama penerbitan ini dibuat. Desember tahun lalu merupakan kali pertama penerbit ini menerbitkan buku antologi dengan tema agama, tradisi, dan budaya yang ada di Bondowoso. Buku tersebut diberi judul Yang Tak Ku Izinkan Hilang. Kemudian, buku antologi kedua mengangkat segala momen sepanjang 2020, dengan tema Unforgettable Moment.
Buku antologi ketiga membahas tentang konflik agama dan kitab suci. “Setelah itu, kita buat antologi puisi, kemudian baru sabtu kemaren kita launching buku cerpen,” urai pria dua anak tersebut.
“Kita terus ada agenda ya, tujuannya untuk merangsang para penulis-penulis baru untuk belajar menulis buku. Pada akhirnya kita harapkan orang-orang yang menulis buku antologi tersebut bisa membuat buku tunggal,” imbuhnya.
Taufik Hidayat sudah berhasil menerbitkan 20 buku secara mandiri. Hal tersebut dilakukan sejak januari 2020 lalu. Uniknya, hal itu tidak membuat Taufik puas dengan berbagai karyanya. “Hari ini sudah proses lagi saya, rencana akan diterbitkan bulan April mendatang. Ada empat buku, tapi kalau waktunya nutut bisa nambah lagi,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/