alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 2 December 2021

Gua Butha, Dipertahankan Karena Sejarahnya

Tak Permasalahkan Jarak Struktur Gua Butha

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pada culture sites Ijen Geopark, terdapat lima situs di dalamnya. Di antaranya adalah struktur Gua Butha Cermee, struktur Gua Butha Sumber Canting, Tari Petik Kopi, Singo Ulung, dan situs megalitikum Maskuning Kulon. Dua nama pertama adalah sebuah Gua Butha yang memiliki ciri unik dan sejarah panjang.
Tim Ijen Geopark pun memiliki alasan tersendiri memilih dua gua itu masuk dalam culture sites Ijen Geopark. Struktur Gua Butha Sumber Canting terletak di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumber Wringin. Sedangkan Gua Butha Cermee berada di Desa Jirek Mas, Kecamatan Cermee.
“Meskipun jarak tempuhnya cukup jauh dari kota Bondowoso, tetapi kami memilih dan mempertahankan struktur dua Gua Butha itu karena sejarahnya yang cukup panjang. Ada nilai historisnya,” ungkap Tantri Raras, tim ahli budaya Ijen Geopark.
Apalagi mengenai sejarah keagamaan Buddha yang masuk ke Bondowoso zaman dulu. “Situs struktur Gua Butha Cermee merupakan gua pertapaan pada akhir zaman Majapahit. Sekitar abad ke-13 dan 14. Butha memiliki arti dalam bahasa Madura adalah besar,” beber Tantri.
Terlebih, bentuk Gua Butha itu juga mengandung makna dalam agama Buddha. Strukturnya berupa cerukan pada tebing batu. Relief berbentuk raksasa berupa wajah dengan mata terbuka, gigi bertaring, dan tangan berkuku tajam.
Pada sisi barat gua terdapat beberapa relief yang merupakan relief induk. Yaitu berupa relief kuncup bunga teratai. Yang merupakan lambang agama Buddha.
“Sedangkan untuk Gua Butha Sumber Canting merupakan gua meditasi. Atau tempat untuk mengasingkan diri dari kehidupan dunia. Sebab, terdapat lubang kecil yang diperkirakan sebagai tempat lentera ketika ritual berlangsung,” pungkas Tantri.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pada culture sites Ijen Geopark, terdapat lima situs di dalamnya. Di antaranya adalah struktur Gua Butha Cermee, struktur Gua Butha Sumber Canting, Tari Petik Kopi, Singo Ulung, dan situs megalitikum Maskuning Kulon. Dua nama pertama adalah sebuah Gua Butha yang memiliki ciri unik dan sejarah panjang.
Tim Ijen Geopark pun memiliki alasan tersendiri memilih dua gua itu masuk dalam culture sites Ijen Geopark. Struktur Gua Butha Sumber Canting terletak di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumber Wringin. Sedangkan Gua Butha Cermee berada di Desa Jirek Mas, Kecamatan Cermee.
“Meskipun jarak tempuhnya cukup jauh dari kota Bondowoso, tetapi kami memilih dan mempertahankan struktur dua Gua Butha itu karena sejarahnya yang cukup panjang. Ada nilai historisnya,” ungkap Tantri Raras, tim ahli budaya Ijen Geopark.
Apalagi mengenai sejarah keagamaan Buddha yang masuk ke Bondowoso zaman dulu. “Situs struktur Gua Butha Cermee merupakan gua pertapaan pada akhir zaman Majapahit. Sekitar abad ke-13 dan 14. Butha memiliki arti dalam bahasa Madura adalah besar,” beber Tantri.
Terlebih, bentuk Gua Butha itu juga mengandung makna dalam agama Buddha. Strukturnya berupa cerukan pada tebing batu. Relief berbentuk raksasa berupa wajah dengan mata terbuka, gigi bertaring, dan tangan berkuku tajam.
Pada sisi barat gua terdapat beberapa relief yang merupakan relief induk. Yaitu berupa relief kuncup bunga teratai. Yang merupakan lambang agama Buddha.
“Sedangkan untuk Gua Butha Sumber Canting merupakan gua meditasi. Atau tempat untuk mengasingkan diri dari kehidupan dunia. Sebab, terdapat lubang kecil yang diperkirakan sebagai tempat lentera ketika ritual berlangsung,” pungkas Tantri.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pada culture sites Ijen Geopark, terdapat lima situs di dalamnya. Di antaranya adalah struktur Gua Butha Cermee, struktur Gua Butha Sumber Canting, Tari Petik Kopi, Singo Ulung, dan situs megalitikum Maskuning Kulon. Dua nama pertama adalah sebuah Gua Butha yang memiliki ciri unik dan sejarah panjang.
Tim Ijen Geopark pun memiliki alasan tersendiri memilih dua gua itu masuk dalam culture sites Ijen Geopark. Struktur Gua Butha Sumber Canting terletak di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumber Wringin. Sedangkan Gua Butha Cermee berada di Desa Jirek Mas, Kecamatan Cermee.
“Meskipun jarak tempuhnya cukup jauh dari kota Bondowoso, tetapi kami memilih dan mempertahankan struktur dua Gua Butha itu karena sejarahnya yang cukup panjang. Ada nilai historisnya,” ungkap Tantri Raras, tim ahli budaya Ijen Geopark.
Apalagi mengenai sejarah keagamaan Buddha yang masuk ke Bondowoso zaman dulu. “Situs struktur Gua Butha Cermee merupakan gua pertapaan pada akhir zaman Majapahit. Sekitar abad ke-13 dan 14. Butha memiliki arti dalam bahasa Madura adalah besar,” beber Tantri.
Terlebih, bentuk Gua Butha itu juga mengandung makna dalam agama Buddha. Strukturnya berupa cerukan pada tebing batu. Relief berbentuk raksasa berupa wajah dengan mata terbuka, gigi bertaring, dan tangan berkuku tajam.
Pada sisi barat gua terdapat beberapa relief yang merupakan relief induk. Yaitu berupa relief kuncup bunga teratai. Yang merupakan lambang agama Buddha.
“Sedangkan untuk Gua Butha Sumber Canting merupakan gua meditasi. Atau tempat untuk mengasingkan diri dari kehidupan dunia. Sebab, terdapat lubang kecil yang diperkirakan sebagai tempat lentera ketika ritual berlangsung,” pungkas Tantri.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca