23.7 C
Jember
Saturday, 4 February 2023

Bencana Mengintai, Mulai Bentuk Satgas Bencana

Bondowoso memiliki berbagai potensi bencana alam. Apalagi, di Kota Tape ini ada tiga gunung berapi. Dua di antaranya tergolong gunung aktif, yaitu Gunung Ijen dan Gunung Raung. Bagaimana upaya menghadapi bencana?

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Peningkatan aktivitas Gunung Ijen dan naiknya status Level II waspada, membuat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Bondowoso berencana membentuk satgas bencana. Hal itu guna mengantisipasi dan menghadapi segala kemungkinan bencana. Namun, tentu tugasnya bukan hanya mengantisipasi bencana gunung berapi, tapi juga bencana lainnya. Mengingat, musim hujan belum selesai, potensi bencana hidrometeorologi masih mungkin terjadi.

BACA JUGA : 10 Orang Tewas dalam Insiden Penembakan di California

Forkopimda Bondowoso bersama sejumlah instansi terkait lainnya melakukan rapat koordinasi di Pendapa Bondowoso, kemarin (24/1). Mereka membahas siapa saja yang akan dilibatkan dalam satgas itu. Serta bentuk mitigasi bencana apabila terjadi hal yang tak diinginkan. Khususnya antisipasi terjadinya erupsi Gunung Ijen.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bupati Bondowoso Salwa Arifin mengatakan, satgas bencana dibentuk sebagai langkah antisipasi terjadinya bencana alam. Namun, bukan hanya mengantisipasi Gunung Ijen. Tapi juga berbagai bentuk bencana-bencana lain seperti banjir, puting beliung, hingga tanah longsor. “Ini suatu keniscayaan untuk mengantisipasi bencana,” katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rahmat menegaskan, dalam satgas bencana harus dijelaskan secara terperinci terkait tugasnya masing-masing. Tujuannya untuk mencapai koordinasi yang baik antarinstansi, dalam rangka menanggulangi bencana. “Tolong job description-nya. Siapa berbuat apa harus jelas,” katanya.

Wabup juga menegaskan, semua pihak harus terlibat untuk mengantisipasi bencana. Termasuk Palang Merah Indonesia (PMI). Bahkan, mereka diminta untuk juga dilibatkan dalam struktur organisasi satgas bencana, sebelum akhirnya dikeluarkan surat keputusan (SK) oleh bupati. “Semua stakeholder harus bergotong-royong dalam menghadapi bencana ini,” imbuhnya.

Ketika semua instansi mengetahui tugasnya masing-masing, lanjut Irwan, maka penanggulangan bencana dinilai akan lebih cepat. Sebab, semuanya sudah memiliki perannya sendiri. Bukan hanya dilimpahkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Termasuk logistik, tenaga, dan lainnya. “Begitu terjadi emergency, begitu terjadi kebencanaan, sudah bergerak bersama-sama,” pungkasnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Peningkatan aktivitas Gunung Ijen dan naiknya status Level II waspada, membuat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Bondowoso berencana membentuk satgas bencana. Hal itu guna mengantisipasi dan menghadapi segala kemungkinan bencana. Namun, tentu tugasnya bukan hanya mengantisipasi bencana gunung berapi, tapi juga bencana lainnya. Mengingat, musim hujan belum selesai, potensi bencana hidrometeorologi masih mungkin terjadi.

BACA JUGA : 10 Orang Tewas dalam Insiden Penembakan di California

Forkopimda Bondowoso bersama sejumlah instansi terkait lainnya melakukan rapat koordinasi di Pendapa Bondowoso, kemarin (24/1). Mereka membahas siapa saja yang akan dilibatkan dalam satgas itu. Serta bentuk mitigasi bencana apabila terjadi hal yang tak diinginkan. Khususnya antisipasi terjadinya erupsi Gunung Ijen.

Bupati Bondowoso Salwa Arifin mengatakan, satgas bencana dibentuk sebagai langkah antisipasi terjadinya bencana alam. Namun, bukan hanya mengantisipasi Gunung Ijen. Tapi juga berbagai bentuk bencana-bencana lain seperti banjir, puting beliung, hingga tanah longsor. “Ini suatu keniscayaan untuk mengantisipasi bencana,” katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rahmat menegaskan, dalam satgas bencana harus dijelaskan secara terperinci terkait tugasnya masing-masing. Tujuannya untuk mencapai koordinasi yang baik antarinstansi, dalam rangka menanggulangi bencana. “Tolong job description-nya. Siapa berbuat apa harus jelas,” katanya.

Wabup juga menegaskan, semua pihak harus terlibat untuk mengantisipasi bencana. Termasuk Palang Merah Indonesia (PMI). Bahkan, mereka diminta untuk juga dilibatkan dalam struktur organisasi satgas bencana, sebelum akhirnya dikeluarkan surat keputusan (SK) oleh bupati. “Semua stakeholder harus bergotong-royong dalam menghadapi bencana ini,” imbuhnya.

Ketika semua instansi mengetahui tugasnya masing-masing, lanjut Irwan, maka penanggulangan bencana dinilai akan lebih cepat. Sebab, semuanya sudah memiliki perannya sendiri. Bukan hanya dilimpahkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Termasuk logistik, tenaga, dan lainnya. “Begitu terjadi emergency, begitu terjadi kebencanaan, sudah bergerak bersama-sama,” pungkasnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Peningkatan aktivitas Gunung Ijen dan naiknya status Level II waspada, membuat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Bondowoso berencana membentuk satgas bencana. Hal itu guna mengantisipasi dan menghadapi segala kemungkinan bencana. Namun, tentu tugasnya bukan hanya mengantisipasi bencana gunung berapi, tapi juga bencana lainnya. Mengingat, musim hujan belum selesai, potensi bencana hidrometeorologi masih mungkin terjadi.

BACA JUGA : 10 Orang Tewas dalam Insiden Penembakan di California

Forkopimda Bondowoso bersama sejumlah instansi terkait lainnya melakukan rapat koordinasi di Pendapa Bondowoso, kemarin (24/1). Mereka membahas siapa saja yang akan dilibatkan dalam satgas itu. Serta bentuk mitigasi bencana apabila terjadi hal yang tak diinginkan. Khususnya antisipasi terjadinya erupsi Gunung Ijen.

Bupati Bondowoso Salwa Arifin mengatakan, satgas bencana dibentuk sebagai langkah antisipasi terjadinya bencana alam. Namun, bukan hanya mengantisipasi Gunung Ijen. Tapi juga berbagai bentuk bencana-bencana lain seperti banjir, puting beliung, hingga tanah longsor. “Ini suatu keniscayaan untuk mengantisipasi bencana,” katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rahmat menegaskan, dalam satgas bencana harus dijelaskan secara terperinci terkait tugasnya masing-masing. Tujuannya untuk mencapai koordinasi yang baik antarinstansi, dalam rangka menanggulangi bencana. “Tolong job description-nya. Siapa berbuat apa harus jelas,” katanya.

Wabup juga menegaskan, semua pihak harus terlibat untuk mengantisipasi bencana. Termasuk Palang Merah Indonesia (PMI). Bahkan, mereka diminta untuk juga dilibatkan dalam struktur organisasi satgas bencana, sebelum akhirnya dikeluarkan surat keputusan (SK) oleh bupati. “Semua stakeholder harus bergotong-royong dalam menghadapi bencana ini,” imbuhnya.

Ketika semua instansi mengetahui tugasnya masing-masing, lanjut Irwan, maka penanggulangan bencana dinilai akan lebih cepat. Sebab, semuanya sudah memiliki perannya sendiri. Bukan hanya dilimpahkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Termasuk logistik, tenaga, dan lainnya. “Begitu terjadi emergency, begitu terjadi kebencanaan, sudah bergerak bersama-sama,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca