alexametrics
29.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Monopoli Pupuk Subsidi Bondowoso, Dijual Hingga Rp 400.000 Per Kuintal

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejumlah petani di Kecamatan Pakem menjerit karena susahnya mendapatkan pupuk subsidi. Dugaan permainan pupuk di kalangan desa, distributor, serta kios pun mencuat. Bahkan, mereka menyebut pupuk subsidi yang selama ini ada dengan jumlah terbatas dijual di atas harga eceran tertinggi (HET).

Salah seorang petani asal Desa Ardisaeng, Kecamatan Pakem, Satibiyanto, kerap memprotes masalah pupuk subsidi ini. Namun, aspirasinya tak pernah menemukan solusi. Padahal dirinya sudah menyuarakan masalah pupuk itu di berbagai tempat. “Jangan petani, kelompok tani saja ini mengeluh karena setiap musim tanam hanya dapat tiga sampai empat kuintal pupuk urea,” bebernya ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Ijen, kemarin (24/1).

Padahal, anggota kelompok tani itu jumlahnya bisa mencapai 20 petani. Satibiyanto menjelaskan, kelangkaan pupuk ini membuat warga kesusahan dan berpotensi gagal panen. Satibi mencontohkan pupuk tersebut bukan hanya langka, bahkan tidak ada. Sebab, sejak akhir 2021 lalu, pupuk subsidi sudah habis. “Para petani datang ke kios, juga tidak ada,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lebih lanjut, dirinya mengaku, setiap hendak membeli pupuk selalu tidak dapat. Alasannya karena pupuk sudah habis. “Saya juga tidak tahu dapat alokasi berapa, karena tidak dikasih tahu,” paparnya.

Bahkan para petani lain juga merasakan hal yang sama. Mereka tidak tahu mendapatkan alokasi berapa pupuk subsidi tersebut. “Di sini tidak terbuka sama sekali di Pakem ini. Tidak ada yang tahu berapa jatahnya,” jelas dia.

Pria yang akrab disapa Satibi ini juga mengaku sudah menanyakan apakah dirinya sudah masuk E-RDKK, namun tidak pernah diberi tahu. Baik pada pihak kios maupun PPL setempat. “Saya pernah suruh orang tanya apa saya masuk, tapi tidak dikasih tahu,” terang dia.

Dugaan penyimpangan lainnya adalah dari sisi perubahan harga. Menurut dia, kalaupun ada pupuk harganya melambung. Berdasarkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk subsidi tahun 2021, harga pupuk urea senilai Rp 2.250 per kilogram atau Rp 225.000 per kuintal. Namun, informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, pupuk subsidi dijual dengan harga di atas HET. Harga yang dijual bisa mencapai Rp 300.000 hingga Rp 400.000.

“Saya pernah beli Rp 300.000 per kuintal pupuk urea. Bahkan, kalau nama tidak tercantum di E-RDKK bisa Rp 350.000,” ungkap dia.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejumlah petani di Kecamatan Pakem menjerit karena susahnya mendapatkan pupuk subsidi. Dugaan permainan pupuk di kalangan desa, distributor, serta kios pun mencuat. Bahkan, mereka menyebut pupuk subsidi yang selama ini ada dengan jumlah terbatas dijual di atas harga eceran tertinggi (HET).

Salah seorang petani asal Desa Ardisaeng, Kecamatan Pakem, Satibiyanto, kerap memprotes masalah pupuk subsidi ini. Namun, aspirasinya tak pernah menemukan solusi. Padahal dirinya sudah menyuarakan masalah pupuk itu di berbagai tempat. “Jangan petani, kelompok tani saja ini mengeluh karena setiap musim tanam hanya dapat tiga sampai empat kuintal pupuk urea,” bebernya ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Ijen, kemarin (24/1).

Padahal, anggota kelompok tani itu jumlahnya bisa mencapai 20 petani. Satibiyanto menjelaskan, kelangkaan pupuk ini membuat warga kesusahan dan berpotensi gagal panen. Satibi mencontohkan pupuk tersebut bukan hanya langka, bahkan tidak ada. Sebab, sejak akhir 2021 lalu, pupuk subsidi sudah habis. “Para petani datang ke kios, juga tidak ada,” ujarnya.

Lebih lanjut, dirinya mengaku, setiap hendak membeli pupuk selalu tidak dapat. Alasannya karena pupuk sudah habis. “Saya juga tidak tahu dapat alokasi berapa, karena tidak dikasih tahu,” paparnya.

Bahkan para petani lain juga merasakan hal yang sama. Mereka tidak tahu mendapatkan alokasi berapa pupuk subsidi tersebut. “Di sini tidak terbuka sama sekali di Pakem ini. Tidak ada yang tahu berapa jatahnya,” jelas dia.

Pria yang akrab disapa Satibi ini juga mengaku sudah menanyakan apakah dirinya sudah masuk E-RDKK, namun tidak pernah diberi tahu. Baik pada pihak kios maupun PPL setempat. “Saya pernah suruh orang tanya apa saya masuk, tapi tidak dikasih tahu,” terang dia.

Dugaan penyimpangan lainnya adalah dari sisi perubahan harga. Menurut dia, kalaupun ada pupuk harganya melambung. Berdasarkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk subsidi tahun 2021, harga pupuk urea senilai Rp 2.250 per kilogram atau Rp 225.000 per kuintal. Namun, informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, pupuk subsidi dijual dengan harga di atas HET. Harga yang dijual bisa mencapai Rp 300.000 hingga Rp 400.000.

“Saya pernah beli Rp 300.000 per kuintal pupuk urea. Bahkan, kalau nama tidak tercantum di E-RDKK bisa Rp 350.000,” ungkap dia.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejumlah petani di Kecamatan Pakem menjerit karena susahnya mendapatkan pupuk subsidi. Dugaan permainan pupuk di kalangan desa, distributor, serta kios pun mencuat. Bahkan, mereka menyebut pupuk subsidi yang selama ini ada dengan jumlah terbatas dijual di atas harga eceran tertinggi (HET).

Salah seorang petani asal Desa Ardisaeng, Kecamatan Pakem, Satibiyanto, kerap memprotes masalah pupuk subsidi ini. Namun, aspirasinya tak pernah menemukan solusi. Padahal dirinya sudah menyuarakan masalah pupuk itu di berbagai tempat. “Jangan petani, kelompok tani saja ini mengeluh karena setiap musim tanam hanya dapat tiga sampai empat kuintal pupuk urea,” bebernya ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Ijen, kemarin (24/1).

Padahal, anggota kelompok tani itu jumlahnya bisa mencapai 20 petani. Satibiyanto menjelaskan, kelangkaan pupuk ini membuat warga kesusahan dan berpotensi gagal panen. Satibi mencontohkan pupuk tersebut bukan hanya langka, bahkan tidak ada. Sebab, sejak akhir 2021 lalu, pupuk subsidi sudah habis. “Para petani datang ke kios, juga tidak ada,” ujarnya.

Lebih lanjut, dirinya mengaku, setiap hendak membeli pupuk selalu tidak dapat. Alasannya karena pupuk sudah habis. “Saya juga tidak tahu dapat alokasi berapa, karena tidak dikasih tahu,” paparnya.

Bahkan para petani lain juga merasakan hal yang sama. Mereka tidak tahu mendapatkan alokasi berapa pupuk subsidi tersebut. “Di sini tidak terbuka sama sekali di Pakem ini. Tidak ada yang tahu berapa jatahnya,” jelas dia.

Pria yang akrab disapa Satibi ini juga mengaku sudah menanyakan apakah dirinya sudah masuk E-RDKK, namun tidak pernah diberi tahu. Baik pada pihak kios maupun PPL setempat. “Saya pernah suruh orang tanya apa saya masuk, tapi tidak dikasih tahu,” terang dia.

Dugaan penyimpangan lainnya adalah dari sisi perubahan harga. Menurut dia, kalaupun ada pupuk harganya melambung. Berdasarkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk subsidi tahun 2021, harga pupuk urea senilai Rp 2.250 per kilogram atau Rp 225.000 per kuintal. Namun, informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, pupuk subsidi dijual dengan harga di atas HET. Harga yang dijual bisa mencapai Rp 300.000 hingga Rp 400.000.

“Saya pernah beli Rp 300.000 per kuintal pupuk urea. Bahkan, kalau nama tidak tercantum di E-RDKK bisa Rp 350.000,” ungkap dia.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/