alexametrics
23 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Angka Kematian Bayi Tembus 128

Tekan AKI dan AKB, Gembleng Kader Kesehatan

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Bondowoso cukup tinggi. Persentase AKI dan AKB hingga September tahun 2020 lebih tinggi dibandingkan tahun 2019 lalu. Total, AKI sudah mencapai 128 kasus. Sedangkan AKB tembus 13 kasus.

Untuk itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso kian giat menjalankan program pemerintah untuk menekan angka AKI dan AKB di Kota Tape. Salah satunya program revitalisasi P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi).

Menurut Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Bondowoso dr Titik Erna Erawati, pihaknya akan terus berupaya keras untuk menekan AKI dan AKB. “Kita ada aplikasi SIBUBA (Sistem Informasi Ibu dan Bayi), di mana semua ibu hamil (bumil) masuk dalam aplikasi. Sehingga sebaran ibu hamil sampai nifas diketahui sewaktu waktu per kecamatan dan per desa,” tutur dr Titik Erna Erawati kepada Jawa Pos Radar Ijen, kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 2

AKI tahun 2019 sebanyak 14 kasus dan AKB sebanyak 155 kasus. Sedangkan angka AKI tahun 2018 lalu sebanyak 19 kasus dan AKB sejumlah 172 kasus. “Memang angka kematian bayi (AKB, Red) sampai triwulan ketiga sudah tembus 128 bayi, AKB-nya sudah sebanyak 13 orang,” imbuhnya.

Dengan SIBUBA tersebut, bumil yang sudah terdata juga dikelompokkan berdasarkan risikonya. Apakah risiko rendah, tinggi, atau sangat tinggi. “Dari situ nanti ditindaklanjuti dengan kegiatan revitalisasi P4K. Kegiatan P4K berupa penandaan di rumah bumil, dengan maksud untuk meningkatkan peran serta masyarakat,” imbuhnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Bondowoso cukup tinggi. Persentase AKI dan AKB hingga September tahun 2020 lebih tinggi dibandingkan tahun 2019 lalu. Total, AKI sudah mencapai 128 kasus. Sedangkan AKB tembus 13 kasus.

Untuk itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso kian giat menjalankan program pemerintah untuk menekan angka AKI dan AKB di Kota Tape. Salah satunya program revitalisasi P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi).

Menurut Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Bondowoso dr Titik Erna Erawati, pihaknya akan terus berupaya keras untuk menekan AKI dan AKB. “Kita ada aplikasi SIBUBA (Sistem Informasi Ibu dan Bayi), di mana semua ibu hamil (bumil) masuk dalam aplikasi. Sehingga sebaran ibu hamil sampai nifas diketahui sewaktu waktu per kecamatan dan per desa,” tutur dr Titik Erna Erawati kepada Jawa Pos Radar Ijen, kemarin.

AKI tahun 2019 sebanyak 14 kasus dan AKB sebanyak 155 kasus. Sedangkan angka AKI tahun 2018 lalu sebanyak 19 kasus dan AKB sejumlah 172 kasus. “Memang angka kematian bayi (AKB, Red) sampai triwulan ketiga sudah tembus 128 bayi, AKB-nya sudah sebanyak 13 orang,” imbuhnya.

Dengan SIBUBA tersebut, bumil yang sudah terdata juga dikelompokkan berdasarkan risikonya. Apakah risiko rendah, tinggi, atau sangat tinggi. “Dari situ nanti ditindaklanjuti dengan kegiatan revitalisasi P4K. Kegiatan P4K berupa penandaan di rumah bumil, dengan maksud untuk meningkatkan peran serta masyarakat,” imbuhnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Bondowoso cukup tinggi. Persentase AKI dan AKB hingga September tahun 2020 lebih tinggi dibandingkan tahun 2019 lalu. Total, AKI sudah mencapai 128 kasus. Sedangkan AKB tembus 13 kasus.

Untuk itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso kian giat menjalankan program pemerintah untuk menekan angka AKI dan AKB di Kota Tape. Salah satunya program revitalisasi P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi).

Menurut Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Bondowoso dr Titik Erna Erawati, pihaknya akan terus berupaya keras untuk menekan AKI dan AKB. “Kita ada aplikasi SIBUBA (Sistem Informasi Ibu dan Bayi), di mana semua ibu hamil (bumil) masuk dalam aplikasi. Sehingga sebaran ibu hamil sampai nifas diketahui sewaktu waktu per kecamatan dan per desa,” tutur dr Titik Erna Erawati kepada Jawa Pos Radar Ijen, kemarin.

AKI tahun 2019 sebanyak 14 kasus dan AKB sebanyak 155 kasus. Sedangkan angka AKI tahun 2018 lalu sebanyak 19 kasus dan AKB sejumlah 172 kasus. “Memang angka kematian bayi (AKB, Red) sampai triwulan ketiga sudah tembus 128 bayi, AKB-nya sudah sebanyak 13 orang,” imbuhnya.

Dengan SIBUBA tersebut, bumil yang sudah terdata juga dikelompokkan berdasarkan risikonya. Apakah risiko rendah, tinggi, atau sangat tinggi. “Dari situ nanti ditindaklanjuti dengan kegiatan revitalisasi P4K. Kegiatan P4K berupa penandaan di rumah bumil, dengan maksud untuk meningkatkan peran serta masyarakat,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/