alexametrics
24.1 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Termakan Isu Pengambilan Organ Tubuh, Warga Tolak Pemakaman dengan Prokes

Mobile_AP_Rectangle 1

DABASAH, RADARJEMBER.ID – Dalam dua pekan terakhir, masyarakat Kabupaten Bondowoso dihebohkan dengan kejadian penolakan pemakaman jenazah menggunakan peti oleh keluarga. Bahkan, kejadiannya terjadi di dua lokasi berbeda. Di antaranya Desa Kemirian, Kecamatan Tamanan, dan Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rahmat menerangkan, terkait dua kejadian itu, pihaknya telah melakukan identifikasi. Ternyata, salah satu penyebabnya adalah banyaknya informasi hoax yang sedang berkembang di masyarakat. Misalnya, sebelum pemakaman, dikabarkan jenazah akan diotopsi atau beberapa organ tubuh jenazah diambil.

Kondisi itu pun semakin diperparah dengan keterlambatan datangnya jenazah ke rumah duka, serta adanya provokasi yang terjadi di lapangan. Menurutnya, hal tersebut membuat munculnya ketakutan yang berkembang di masyarakat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Padahal, menurut Irwan, pada saat pemulasaraan, mulai dari memandikan di kamar jenazah RSUD dr Koesnadi hingga proses penguburan, pihak keluarga bisa turut mendampingi proses tersebut. Tentunya dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sudah disediakan. “Sebetulnya kami sudah memberikan ruang kepada pihak keluarga untuk memandikan dan pemulasaraan jenazah,” ujarnya.

Sementara, mengenai keterlambatan datangnya jenazah, Irwan mengatakan, untuk ke depan pihaknya menekankan armada ambulans akan dibuatkan grup yang siaga di kecamatan. Tujuannya membantu bila sewaktu-waktu ada antrean pemakaman di rumah sakit.

Selain itu, pihaknya juga menekankan pentingnya peran forum pimpinan kecamatan (forpimca) untuk lebih proaktif dalam mengedukasi masyarakat. “Peran camat, danramil, dan kapolsek ini harus lebih proaktif lagi melakukan pendekatan kepada masyarakat,” ujarnya.

- Advertisement -

DABASAH, RADARJEMBER.ID – Dalam dua pekan terakhir, masyarakat Kabupaten Bondowoso dihebohkan dengan kejadian penolakan pemakaman jenazah menggunakan peti oleh keluarga. Bahkan, kejadiannya terjadi di dua lokasi berbeda. Di antaranya Desa Kemirian, Kecamatan Tamanan, dan Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rahmat menerangkan, terkait dua kejadian itu, pihaknya telah melakukan identifikasi. Ternyata, salah satu penyebabnya adalah banyaknya informasi hoax yang sedang berkembang di masyarakat. Misalnya, sebelum pemakaman, dikabarkan jenazah akan diotopsi atau beberapa organ tubuh jenazah diambil.

Kondisi itu pun semakin diperparah dengan keterlambatan datangnya jenazah ke rumah duka, serta adanya provokasi yang terjadi di lapangan. Menurutnya, hal tersebut membuat munculnya ketakutan yang berkembang di masyarakat.

Padahal, menurut Irwan, pada saat pemulasaraan, mulai dari memandikan di kamar jenazah RSUD dr Koesnadi hingga proses penguburan, pihak keluarga bisa turut mendampingi proses tersebut. Tentunya dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sudah disediakan. “Sebetulnya kami sudah memberikan ruang kepada pihak keluarga untuk memandikan dan pemulasaraan jenazah,” ujarnya.

Sementara, mengenai keterlambatan datangnya jenazah, Irwan mengatakan, untuk ke depan pihaknya menekankan armada ambulans akan dibuatkan grup yang siaga di kecamatan. Tujuannya membantu bila sewaktu-waktu ada antrean pemakaman di rumah sakit.

Selain itu, pihaknya juga menekankan pentingnya peran forum pimpinan kecamatan (forpimca) untuk lebih proaktif dalam mengedukasi masyarakat. “Peran camat, danramil, dan kapolsek ini harus lebih proaktif lagi melakukan pendekatan kepada masyarakat,” ujarnya.

DABASAH, RADARJEMBER.ID – Dalam dua pekan terakhir, masyarakat Kabupaten Bondowoso dihebohkan dengan kejadian penolakan pemakaman jenazah menggunakan peti oleh keluarga. Bahkan, kejadiannya terjadi di dua lokasi berbeda. Di antaranya Desa Kemirian, Kecamatan Tamanan, dan Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rahmat menerangkan, terkait dua kejadian itu, pihaknya telah melakukan identifikasi. Ternyata, salah satu penyebabnya adalah banyaknya informasi hoax yang sedang berkembang di masyarakat. Misalnya, sebelum pemakaman, dikabarkan jenazah akan diotopsi atau beberapa organ tubuh jenazah diambil.

Kondisi itu pun semakin diperparah dengan keterlambatan datangnya jenazah ke rumah duka, serta adanya provokasi yang terjadi di lapangan. Menurutnya, hal tersebut membuat munculnya ketakutan yang berkembang di masyarakat.

Padahal, menurut Irwan, pada saat pemulasaraan, mulai dari memandikan di kamar jenazah RSUD dr Koesnadi hingga proses penguburan, pihak keluarga bisa turut mendampingi proses tersebut. Tentunya dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sudah disediakan. “Sebetulnya kami sudah memberikan ruang kepada pihak keluarga untuk memandikan dan pemulasaraan jenazah,” ujarnya.

Sementara, mengenai keterlambatan datangnya jenazah, Irwan mengatakan, untuk ke depan pihaknya menekankan armada ambulans akan dibuatkan grup yang siaga di kecamatan. Tujuannya membantu bila sewaktu-waktu ada antrean pemakaman di rumah sakit.

Selain itu, pihaknya juga menekankan pentingnya peran forum pimpinan kecamatan (forpimca) untuk lebih proaktif dalam mengedukasi masyarakat. “Peran camat, danramil, dan kapolsek ini harus lebih proaktif lagi melakukan pendekatan kepada masyarakat,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/