alexametrics
29.3 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Difabel Tak Mudah Menyerah, Produksi Batik Tulis

Aura Itu Pancarkan Semangat Membara Lahir dengan anugerah khusus tak membuat Siti Rahmatillah patah arang. Semakin dewasa, dia ingin menggali potensinya. Kini, di rumahnya berbagai karya batik dihasilkan.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Aura semangat terpancar pada wajah Rahma, nama panggilan Siti Rahmatillah. Di rumahnya, Desa Jetis, Kecamatan Curahdami, puluhan karya dihasilkan. Dukungan semua pihak menjadi motivasinya.

Rahma adalah pembatik asal Bondowoso yang dianugerahi tubuh khusus. Dia tak memiliki tangan yang sempurna. Bahkan, hanya satu kakinya yang sempurna. Walau begitu, Rahma sangat piawai menggunakan kaki kanannya. Hasilnya tak kalah dengan karya pembatik lain.

Menjadi difabel sejak lahir ternyata tidak menyurutkan niatnya untuk terus berkarya. Sejak usia SD, Rahma memang suka menggambar. Hanya, saat itu Rahma tidak sampai tamat SD. Saat akan naik ke kelas dua, ia memutuskan untuk berhenti. Walau tak lulus SD, Rahma sangat lancar membaca dan menulis.

Mobile_AP_Rectangle 2

Khusus kepiawaian mencanting, Rahma bisa menghasilkan gambar satu lembar kain full dalam sehari. Motif yang dicantig kebanyakan dibuat sendiri. Motif kesukaannya adalah daun singkong. “Karena daun singkong menjadi tema batik khas Bondowoso. Sebab, Bondowoso terkenal Kota Tape, dan tape berasal dari singkong,” terangnya.

Kepada Jawa Pos Radar Ijen, Rahma bercerita jika awal kemampuannya membatik karena diikutkan pelatihan membatik oleh Dinas Sosial (Dinsos). Pertama ikut pelatihan membatik di salah satu sentra batik di Desa Pucang Anom, Jambesari Darus Sholah, oleh Dinas Sosial (Dinsos). “Saat pelatihan pertama, saya sempat jatuh ketika dalam perjalan menuju ke tempat perajin batik tersebut,” ungkapnya. Namun, ia tidak lantas patah semangat.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Aura semangat terpancar pada wajah Rahma, nama panggilan Siti Rahmatillah. Di rumahnya, Desa Jetis, Kecamatan Curahdami, puluhan karya dihasilkan. Dukungan semua pihak menjadi motivasinya.

Rahma adalah pembatik asal Bondowoso yang dianugerahi tubuh khusus. Dia tak memiliki tangan yang sempurna. Bahkan, hanya satu kakinya yang sempurna. Walau begitu, Rahma sangat piawai menggunakan kaki kanannya. Hasilnya tak kalah dengan karya pembatik lain.

Menjadi difabel sejak lahir ternyata tidak menyurutkan niatnya untuk terus berkarya. Sejak usia SD, Rahma memang suka menggambar. Hanya, saat itu Rahma tidak sampai tamat SD. Saat akan naik ke kelas dua, ia memutuskan untuk berhenti. Walau tak lulus SD, Rahma sangat lancar membaca dan menulis.

Khusus kepiawaian mencanting, Rahma bisa menghasilkan gambar satu lembar kain full dalam sehari. Motif yang dicantig kebanyakan dibuat sendiri. Motif kesukaannya adalah daun singkong. “Karena daun singkong menjadi tema batik khas Bondowoso. Sebab, Bondowoso terkenal Kota Tape, dan tape berasal dari singkong,” terangnya.

Kepada Jawa Pos Radar Ijen, Rahma bercerita jika awal kemampuannya membatik karena diikutkan pelatihan membatik oleh Dinas Sosial (Dinsos). Pertama ikut pelatihan membatik di salah satu sentra batik di Desa Pucang Anom, Jambesari Darus Sholah, oleh Dinas Sosial (Dinsos). “Saat pelatihan pertama, saya sempat jatuh ketika dalam perjalan menuju ke tempat perajin batik tersebut,” ungkapnya. Namun, ia tidak lantas patah semangat.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Aura semangat terpancar pada wajah Rahma, nama panggilan Siti Rahmatillah. Di rumahnya, Desa Jetis, Kecamatan Curahdami, puluhan karya dihasilkan. Dukungan semua pihak menjadi motivasinya.

Rahma adalah pembatik asal Bondowoso yang dianugerahi tubuh khusus. Dia tak memiliki tangan yang sempurna. Bahkan, hanya satu kakinya yang sempurna. Walau begitu, Rahma sangat piawai menggunakan kaki kanannya. Hasilnya tak kalah dengan karya pembatik lain.

Menjadi difabel sejak lahir ternyata tidak menyurutkan niatnya untuk terus berkarya. Sejak usia SD, Rahma memang suka menggambar. Hanya, saat itu Rahma tidak sampai tamat SD. Saat akan naik ke kelas dua, ia memutuskan untuk berhenti. Walau tak lulus SD, Rahma sangat lancar membaca dan menulis.

Khusus kepiawaian mencanting, Rahma bisa menghasilkan gambar satu lembar kain full dalam sehari. Motif yang dicantig kebanyakan dibuat sendiri. Motif kesukaannya adalah daun singkong. “Karena daun singkong menjadi tema batik khas Bondowoso. Sebab, Bondowoso terkenal Kota Tape, dan tape berasal dari singkong,” terangnya.

Kepada Jawa Pos Radar Ijen, Rahma bercerita jika awal kemampuannya membatik karena diikutkan pelatihan membatik oleh Dinas Sosial (Dinsos). Pertama ikut pelatihan membatik di salah satu sentra batik di Desa Pucang Anom, Jambesari Darus Sholah, oleh Dinas Sosial (Dinsos). “Saat pelatihan pertama, saya sempat jatuh ketika dalam perjalan menuju ke tempat perajin batik tersebut,” ungkapnya. Namun, ia tidak lantas patah semangat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/