alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Pandemi, 10 Persen Siswa SMA Putus Sekolah

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejak adanya pandemi Covid-19, kegiatan belajar mengajar di sekolah menengah atas (SMA) lebih banyak dilakukan secara daring. Pembelajaran yang tidak menerapkan tatap muka secara langsung tersebut ternyata memiliki dampak negatif. Termasuk angka putus sekolah yang meningkat dari biasanya.

Sugiono Eksantoso, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Jawa Timur wilayah Bondowoso dan Situbondo, menyampaikan, di tengah pandemi ini, angka putus sekolah siswa SMA dan SMK di Bondowoso mengalami peningkatan drastis. “Dampak daring ini memang ada pengaruh yang signifikan,” ungkap Sugiono.

Disebutkan, temuannya terdapat sejumlah siswa yang sudah masuk dalam jangka tiga bulan sudah ada yang keluar atau drop out. Ternyata setelah ditelusuri, siswa tersebut menikah atau dinikahkan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain itu, ada juga siswa yang lebih memilih untuk melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren. Sebab, pesantren dinilai pendidikannya tidak pernah libur serta pembelajarannya tetap menggunakan pembelajaran tatap muka langsung.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejak adanya pandemi Covid-19, kegiatan belajar mengajar di sekolah menengah atas (SMA) lebih banyak dilakukan secara daring. Pembelajaran yang tidak menerapkan tatap muka secara langsung tersebut ternyata memiliki dampak negatif. Termasuk angka putus sekolah yang meningkat dari biasanya.

Sugiono Eksantoso, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Jawa Timur wilayah Bondowoso dan Situbondo, menyampaikan, di tengah pandemi ini, angka putus sekolah siswa SMA dan SMK di Bondowoso mengalami peningkatan drastis. “Dampak daring ini memang ada pengaruh yang signifikan,” ungkap Sugiono.

Disebutkan, temuannya terdapat sejumlah siswa yang sudah masuk dalam jangka tiga bulan sudah ada yang keluar atau drop out. Ternyata setelah ditelusuri, siswa tersebut menikah atau dinikahkan.

Selain itu, ada juga siswa yang lebih memilih untuk melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren. Sebab, pesantren dinilai pendidikannya tidak pernah libur serta pembelajarannya tetap menggunakan pembelajaran tatap muka langsung.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejak adanya pandemi Covid-19, kegiatan belajar mengajar di sekolah menengah atas (SMA) lebih banyak dilakukan secara daring. Pembelajaran yang tidak menerapkan tatap muka secara langsung tersebut ternyata memiliki dampak negatif. Termasuk angka putus sekolah yang meningkat dari biasanya.

Sugiono Eksantoso, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Jawa Timur wilayah Bondowoso dan Situbondo, menyampaikan, di tengah pandemi ini, angka putus sekolah siswa SMA dan SMK di Bondowoso mengalami peningkatan drastis. “Dampak daring ini memang ada pengaruh yang signifikan,” ungkap Sugiono.

Disebutkan, temuannya terdapat sejumlah siswa yang sudah masuk dalam jangka tiga bulan sudah ada yang keluar atau drop out. Ternyata setelah ditelusuri, siswa tersebut menikah atau dinikahkan.

Selain itu, ada juga siswa yang lebih memilih untuk melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren. Sebab, pesantren dinilai pendidikannya tidak pernah libur serta pembelajarannya tetap menggunakan pembelajaran tatap muka langsung.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/