alexametrics
31 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Berharap Bisa Panen Lebih dari Sekali

Seluas 5.010 Ha Lahan Tadah Hujan

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sawah nonirigasi alias lahan kering masih menjadi problem klasik di kalangan petani. Sampai saat ini belum ada solusi. Lahan kering itu bisa ditanam ketika musim hujan saja. Karena itu, dalam setahun hanya panen sekali.
Salah satu daerah yang memiliki lahan kering adalah Botolinggo. M Taha, seorang petani dari Dusun Krajan, Desa Klekean, Kecamatan Botolinggo, berharap dirinya bisa menanam padi dua kali dalam setahun. Tentunya tidak harus menunggu musim hujan.
Selama ini, petani sangat bergantung pada intensitas hujan. Sebab, adanya hujan sangat menentukan produksi. Ironisnya, pada dua tahun terakhir, 2019 dan 2020, sempat gagal panen karena hujannya kurang. “Alhamdulillah kalau tahun ini cukup hujannya. Akhir tahun ketika musim hujan menanam, bulan Maret atau April panen. Sebab, bulan enam kan kemarau lagi,” jelasnya.
Dia mengaku pernah menggunakan pompa untuk menyedot air dari sungai. Tetapi terlalu dalam dengan kedalaman 35 meter.  “Sehingga kalau menggunakan mesin, hasil panen tidak seusai dengan biaya garap,” jelasnya.
Karena hanya bisa tanam sekali dalam setahun, maka setelah padi, warga menanam jagung. “Itu pun kadang berhasil kadang tidak, kalau kemaraunya lebih awal,” imbuh dia.
Sementara, hasil panen padi tidak dijual, melainkan untuk konsumsi selama setahun. Kecuali warga memiliki lahan irigasi, maka hasil panen dijual untuk beli lauk-pauk.
“Kalau punya hanya lahan kering, maka tidak dijual. Sementara untuk konsumsi dalam setahun tidak nutut. Maka warga harus beli beras. Kami berharap bisa tanam lebih dari sekali,” paparnya.
Sementara, berdasarkan data di Dinas Pertanian Bondowoso yang mengacu pada RTRW (rencana tata ruang wilayah) kabupaten, total ada 5.010,81 hektare lahan kering (tadah hujan). Plt Kepala Dinas Pertanian Hendri Widotono mengatakan, di tanah marjinal atau lahan yang rendah potensi dan produktivitasnya, tidak ada yang tanam padi lebih satu kali. “Setelah tanam padi, ditanam palawija. Yaitu jagung, kedelai, atau tanaman yang tidak membutuhkan air banyak,” katanya.
Sementara, untuk tanam padi hanya bisa dilakukan musim hujan. Bulan kering (Mei-Oktober) sudah tidak bisa tanam lagi. Adapun solusinya adalah bor. Itu pun hanya mengungkit bukan kemudian menangani tanah marjinal. “Kami belum menjangkau lahan yang marjinal. Hanya menjangkau yang penyangga. Yang utama penyangga,” jelasnya.
Pihaknya sebenarnya memfokuskan menggali sumber air atau bor. Tetapi dalam jangkauan yang bisa diambil mata airnya. “Kalau pegunungan tidak bisa diambil airnya dari tanah dangkal. Ya sumur bor, untuk meningkatkan indeks panennya agar naik,” ucap Hendri.
Sementara, peta hidrologi atau pergerakan, distribusi, dan kualitas air di Bondowoso berada di Cangkring, Tenggarang, Tapen, sampai Cermee. “Tanah marjinal di beberapa daerah di Bondowoso belum bisa dijangkau. Air itu pada daerah irigasi. Sehingga tanam padi pada lahan kering hanya sekali dalam setahun,” pungkasnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sawah nonirigasi alias lahan kering masih menjadi problem klasik di kalangan petani. Sampai saat ini belum ada solusi. Lahan kering itu bisa ditanam ketika musim hujan saja. Karena itu, dalam setahun hanya panen sekali.
Salah satu daerah yang memiliki lahan kering adalah Botolinggo. M Taha, seorang petani dari Dusun Krajan, Desa Klekean, Kecamatan Botolinggo, berharap dirinya bisa menanam padi dua kali dalam setahun. Tentunya tidak harus menunggu musim hujan.
Selama ini, petani sangat bergantung pada intensitas hujan. Sebab, adanya hujan sangat menentukan produksi. Ironisnya, pada dua tahun terakhir, 2019 dan 2020, sempat gagal panen karena hujannya kurang. “Alhamdulillah kalau tahun ini cukup hujannya. Akhir tahun ketika musim hujan menanam, bulan Maret atau April panen. Sebab, bulan enam kan kemarau lagi,” jelasnya.
Dia mengaku pernah menggunakan pompa untuk menyedot air dari sungai. Tetapi terlalu dalam dengan kedalaman 35 meter.  “Sehingga kalau menggunakan mesin, hasil panen tidak seusai dengan biaya garap,” jelasnya.
Karena hanya bisa tanam sekali dalam setahun, maka setelah padi, warga menanam jagung. “Itu pun kadang berhasil kadang tidak, kalau kemaraunya lebih awal,” imbuh dia.
Sementara, hasil panen padi tidak dijual, melainkan untuk konsumsi selama setahun. Kecuali warga memiliki lahan irigasi, maka hasil panen dijual untuk beli lauk-pauk.
“Kalau punya hanya lahan kering, maka tidak dijual. Sementara untuk konsumsi dalam setahun tidak nutut. Maka warga harus beli beras. Kami berharap bisa tanam lebih dari sekali,” paparnya.
Sementara, berdasarkan data di Dinas Pertanian Bondowoso yang mengacu pada RTRW (rencana tata ruang wilayah) kabupaten, total ada 5.010,81 hektare lahan kering (tadah hujan). Plt Kepala Dinas Pertanian Hendri Widotono mengatakan, di tanah marjinal atau lahan yang rendah potensi dan produktivitasnya, tidak ada yang tanam padi lebih satu kali. “Setelah tanam padi, ditanam palawija. Yaitu jagung, kedelai, atau tanaman yang tidak membutuhkan air banyak,” katanya.
Sementara, untuk tanam padi hanya bisa dilakukan musim hujan. Bulan kering (Mei-Oktober) sudah tidak bisa tanam lagi. Adapun solusinya adalah bor. Itu pun hanya mengungkit bukan kemudian menangani tanah marjinal. “Kami belum menjangkau lahan yang marjinal. Hanya menjangkau yang penyangga. Yang utama penyangga,” jelasnya.
Pihaknya sebenarnya memfokuskan menggali sumber air atau bor. Tetapi dalam jangkauan yang bisa diambil mata airnya. “Kalau pegunungan tidak bisa diambil airnya dari tanah dangkal. Ya sumur bor, untuk meningkatkan indeks panennya agar naik,” ucap Hendri.
Sementara, peta hidrologi atau pergerakan, distribusi, dan kualitas air di Bondowoso berada di Cangkring, Tenggarang, Tapen, sampai Cermee. “Tanah marjinal di beberapa daerah di Bondowoso belum bisa dijangkau. Air itu pada daerah irigasi. Sehingga tanam padi pada lahan kering hanya sekali dalam setahun,” pungkasnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sawah nonirigasi alias lahan kering masih menjadi problem klasik di kalangan petani. Sampai saat ini belum ada solusi. Lahan kering itu bisa ditanam ketika musim hujan saja. Karena itu, dalam setahun hanya panen sekali.
Salah satu daerah yang memiliki lahan kering adalah Botolinggo. M Taha, seorang petani dari Dusun Krajan, Desa Klekean, Kecamatan Botolinggo, berharap dirinya bisa menanam padi dua kali dalam setahun. Tentunya tidak harus menunggu musim hujan.
Selama ini, petani sangat bergantung pada intensitas hujan. Sebab, adanya hujan sangat menentukan produksi. Ironisnya, pada dua tahun terakhir, 2019 dan 2020, sempat gagal panen karena hujannya kurang. “Alhamdulillah kalau tahun ini cukup hujannya. Akhir tahun ketika musim hujan menanam, bulan Maret atau April panen. Sebab, bulan enam kan kemarau lagi,” jelasnya.
Dia mengaku pernah menggunakan pompa untuk menyedot air dari sungai. Tetapi terlalu dalam dengan kedalaman 35 meter.  “Sehingga kalau menggunakan mesin, hasil panen tidak seusai dengan biaya garap,” jelasnya.
Karena hanya bisa tanam sekali dalam setahun, maka setelah padi, warga menanam jagung. “Itu pun kadang berhasil kadang tidak, kalau kemaraunya lebih awal,” imbuh dia.
Sementara, hasil panen padi tidak dijual, melainkan untuk konsumsi selama setahun. Kecuali warga memiliki lahan irigasi, maka hasil panen dijual untuk beli lauk-pauk.
“Kalau punya hanya lahan kering, maka tidak dijual. Sementara untuk konsumsi dalam setahun tidak nutut. Maka warga harus beli beras. Kami berharap bisa tanam lebih dari sekali,” paparnya.
Sementara, berdasarkan data di Dinas Pertanian Bondowoso yang mengacu pada RTRW (rencana tata ruang wilayah) kabupaten, total ada 5.010,81 hektare lahan kering (tadah hujan). Plt Kepala Dinas Pertanian Hendri Widotono mengatakan, di tanah marjinal atau lahan yang rendah potensi dan produktivitasnya, tidak ada yang tanam padi lebih satu kali. “Setelah tanam padi, ditanam palawija. Yaitu jagung, kedelai, atau tanaman yang tidak membutuhkan air banyak,” katanya.
Sementara, untuk tanam padi hanya bisa dilakukan musim hujan. Bulan kering (Mei-Oktober) sudah tidak bisa tanam lagi. Adapun solusinya adalah bor. Itu pun hanya mengungkit bukan kemudian menangani tanah marjinal. “Kami belum menjangkau lahan yang marjinal. Hanya menjangkau yang penyangga. Yang utama penyangga,” jelasnya.
Pihaknya sebenarnya memfokuskan menggali sumber air atau bor. Tetapi dalam jangkauan yang bisa diambil mata airnya. “Kalau pegunungan tidak bisa diambil airnya dari tanah dangkal. Ya sumur bor, untuk meningkatkan indeks panennya agar naik,” ucap Hendri.
Sementara, peta hidrologi atau pergerakan, distribusi, dan kualitas air di Bondowoso berada di Cangkring, Tenggarang, Tapen, sampai Cermee. “Tanah marjinal di beberapa daerah di Bondowoso belum bisa dijangkau. Air itu pada daerah irigasi. Sehingga tanam padi pada lahan kering hanya sekali dalam setahun,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/