24 C
Jember
Thursday, 1 June 2023

Terdakwa PTBG Dituntut Tinggi

Padahal Sudah Blak-blakan dalam Sidang

Mobile_AP_Rectangle 1

SURABAYA, RADARJEMBER.ID – Rudy Hartoyo, terdakwa perkara rasuah PT Bondowoso Gemilang (PTBG) mendapat tuntutan cukup tinggi. Padahal, dirinya sudah menjabarkan semua keterangannya di depan majelis hakim bahwa dia tak menikmati sepeser pun kerugian negara dan mendapatkan perintah atasannya.

Dalam sidang agenda pembacaan tuntutan di ruang sidang Candra Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya di Sidoarjo, kemarin, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bondowoso membacakan tuntutan.

Terdakwa Rudy bersama Dedi Rahman, penasihat hukumnya, juga hadir langsung di ruang sidang. Terdakwa asal Jember itu mendapat tuntutan enam tahun dengan denda Rp 50 juta subsider enam bulan kurungan penjara. “Tuntutannya cukup tinggi bagi klien kami. Padahal terdakwa sudah blak-blakan di persidangan,” ujar Dedi kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Dedi, dalam sidang agenda pemeriksaan terdakwa, kliennya tak ingin menutup-nutupi. Rudy sudah memberikan keterangan di meja hijau, bahwa dirinya menjadi direktur produksi serta Plt direktur administrasi atas petunjuk dari Plt direktur utama, yakni Surya Kodrat.

“Nantinya, dalam pleidoi kami, tetap akan kami tekankan kalau terdakwa tidak menikmati satu rupiah pun uang kerugian negara itu masuk ke kantong pribadinya. Selain itu, semua yang dijalankan Rudy juga diperintah oleh bosnya yang di atas,” ungkap Dedi.

Sebelumnya, Dedi menambahkan, terdakwa juga diperintah membuat rekening baru untuk membelanjakan kopi. Ada dana sebesar Rp 1,6 miliar yang dibelanjakan. Namun, pembelian kopi itu seharusnya kopi grade satu. Tapi, setelah dikroscek di lapangan oleh tim Kejari Bondowoso, ternyata kopi yang dibeli adalah kualitas dengan grade tiga. “Jadi, semua tindakannya membeli 20 ton kopi atas instruksi atasannya,” lanjut Dedi.

Sebagai informasi, kasus rasuah itu bermula saat PTBG mendapat kucuran dana dari Pemkab Bondowoso untuk usaha di bidang perkopian pada 2018 lalu. Nilainya cukup besar, yakni sekitar Rp 2,9 miliar. Dalam perjalanannya, ternyata penggunaan anggaran tersebut tidak sesuai aturan. Karena itu, ada dugaan korupsi dengan kerugian negara sekitar Rp 477 juta. Perhitungan kerugian negara itu didapat dari penghitungan laporan keuangan yang menjadi alat bukti. Baik laporan kuitansi pembelian kopi maupun laporan keuangan perusahaan.

 

 

Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Solikhul Huda

- Advertisement -

SURABAYA, RADARJEMBER.ID – Rudy Hartoyo, terdakwa perkara rasuah PT Bondowoso Gemilang (PTBG) mendapat tuntutan cukup tinggi. Padahal, dirinya sudah menjabarkan semua keterangannya di depan majelis hakim bahwa dia tak menikmati sepeser pun kerugian negara dan mendapatkan perintah atasannya.

Dalam sidang agenda pembacaan tuntutan di ruang sidang Candra Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya di Sidoarjo, kemarin, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bondowoso membacakan tuntutan.

Terdakwa Rudy bersama Dedi Rahman, penasihat hukumnya, juga hadir langsung di ruang sidang. Terdakwa asal Jember itu mendapat tuntutan enam tahun dengan denda Rp 50 juta subsider enam bulan kurungan penjara. “Tuntutannya cukup tinggi bagi klien kami. Padahal terdakwa sudah blak-blakan di persidangan,” ujar Dedi kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Menurut Dedi, dalam sidang agenda pemeriksaan terdakwa, kliennya tak ingin menutup-nutupi. Rudy sudah memberikan keterangan di meja hijau, bahwa dirinya menjadi direktur produksi serta Plt direktur administrasi atas petunjuk dari Plt direktur utama, yakni Surya Kodrat.

“Nantinya, dalam pleidoi kami, tetap akan kami tekankan kalau terdakwa tidak menikmati satu rupiah pun uang kerugian negara itu masuk ke kantong pribadinya. Selain itu, semua yang dijalankan Rudy juga diperintah oleh bosnya yang di atas,” ungkap Dedi.

Sebelumnya, Dedi menambahkan, terdakwa juga diperintah membuat rekening baru untuk membelanjakan kopi. Ada dana sebesar Rp 1,6 miliar yang dibelanjakan. Namun, pembelian kopi itu seharusnya kopi grade satu. Tapi, setelah dikroscek di lapangan oleh tim Kejari Bondowoso, ternyata kopi yang dibeli adalah kualitas dengan grade tiga. “Jadi, semua tindakannya membeli 20 ton kopi atas instruksi atasannya,” lanjut Dedi.

Sebagai informasi, kasus rasuah itu bermula saat PTBG mendapat kucuran dana dari Pemkab Bondowoso untuk usaha di bidang perkopian pada 2018 lalu. Nilainya cukup besar, yakni sekitar Rp 2,9 miliar. Dalam perjalanannya, ternyata penggunaan anggaran tersebut tidak sesuai aturan. Karena itu, ada dugaan korupsi dengan kerugian negara sekitar Rp 477 juta. Perhitungan kerugian negara itu didapat dari penghitungan laporan keuangan yang menjadi alat bukti. Baik laporan kuitansi pembelian kopi maupun laporan keuangan perusahaan.

 

 

Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Solikhul Huda

SURABAYA, RADARJEMBER.ID – Rudy Hartoyo, terdakwa perkara rasuah PT Bondowoso Gemilang (PTBG) mendapat tuntutan cukup tinggi. Padahal, dirinya sudah menjabarkan semua keterangannya di depan majelis hakim bahwa dia tak menikmati sepeser pun kerugian negara dan mendapatkan perintah atasannya.

Dalam sidang agenda pembacaan tuntutan di ruang sidang Candra Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya di Sidoarjo, kemarin, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bondowoso membacakan tuntutan.

Terdakwa Rudy bersama Dedi Rahman, penasihat hukumnya, juga hadir langsung di ruang sidang. Terdakwa asal Jember itu mendapat tuntutan enam tahun dengan denda Rp 50 juta subsider enam bulan kurungan penjara. “Tuntutannya cukup tinggi bagi klien kami. Padahal terdakwa sudah blak-blakan di persidangan,” ujar Dedi kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Menurut Dedi, dalam sidang agenda pemeriksaan terdakwa, kliennya tak ingin menutup-nutupi. Rudy sudah memberikan keterangan di meja hijau, bahwa dirinya menjadi direktur produksi serta Plt direktur administrasi atas petunjuk dari Plt direktur utama, yakni Surya Kodrat.

“Nantinya, dalam pleidoi kami, tetap akan kami tekankan kalau terdakwa tidak menikmati satu rupiah pun uang kerugian negara itu masuk ke kantong pribadinya. Selain itu, semua yang dijalankan Rudy juga diperintah oleh bosnya yang di atas,” ungkap Dedi.

Sebelumnya, Dedi menambahkan, terdakwa juga diperintah membuat rekening baru untuk membelanjakan kopi. Ada dana sebesar Rp 1,6 miliar yang dibelanjakan. Namun, pembelian kopi itu seharusnya kopi grade satu. Tapi, setelah dikroscek di lapangan oleh tim Kejari Bondowoso, ternyata kopi yang dibeli adalah kualitas dengan grade tiga. “Jadi, semua tindakannya membeli 20 ton kopi atas instruksi atasannya,” lanjut Dedi.

Sebagai informasi, kasus rasuah itu bermula saat PTBG mendapat kucuran dana dari Pemkab Bondowoso untuk usaha di bidang perkopian pada 2018 lalu. Nilainya cukup besar, yakni sekitar Rp 2,9 miliar. Dalam perjalanannya, ternyata penggunaan anggaran tersebut tidak sesuai aturan. Karena itu, ada dugaan korupsi dengan kerugian negara sekitar Rp 477 juta. Perhitungan kerugian negara itu didapat dari penghitungan laporan keuangan yang menjadi alat bukti. Baik laporan kuitansi pembelian kopi maupun laporan keuangan perusahaan.

 

 

Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Solikhul Huda

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca