alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Meski Merosot, Sebagian Petani Masih Untung

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Meski panen cabai di Kabupaten Bondowoso mengalami kemerosotan akibat cuaca ekstrem, namun sebagian petani merasa diuntungkan. Sebab, harga cabai di pasaran mengalami kenaikan yang sangat drastis.
Seperti yang dialami petani di Desa Paguan, Kecamatan Taman Krocok, Bondowoso. Mereka mengaku, jumlah panen cabai saat ini mengalami pengurangan ketimbang musim panen sebelumnya. “Dari lahan seluas 1,7 hektare yang ditanami cabai, sekali panen hanya mentok di 200 kilogram saja. Beda dengan panen yang sebelumnya, sekali panen bisa sampai 400 hingga 500 kilogram,” kata Fauzi salah satu petani.

Lelaki berumur 52 tahun itu mengaku, panen cabai saat ini dipicu oleh cuaca yang tidak stabil. “Ya, karena cuaca yang tidak menentu. Kadang hujan, kadang juga panas seharian. Sehingga tanaman banyak yang layu kemudian mengering banyak yang mati,” jelasnya.
Meski jumlah panennya menurun, mereka tetap merasa diuntungkan oleh kenaikan harga. “Alhamdulilah meski mengalami kemerosotan akibat cuaca, petani disini masih tertolong dengan mahalnya harga cabai sekarang. Sehingga seimbang antara pengeluaran dan pendapatan, bahkan masih ada lebihnya,” paparnya.

Dia menyebutkan, harga cabai rawit merah yang di patok untuk para tengkulak Rp 60 ribu per kilogramnya. “Untuk di pasaran saat ini, harga eceran sudah samapai Rp 70 ribu per kilogramnya,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain memberikan kegembiraan untuk para petani, para buruh tani yang bekerja sebagai pemetik juga diuntungkan. Sebab, ada penambahan harga dari orang yang mempekerjanya. “Untuk harga cabai sebelum mahal biasanya diberi upah Rp 25 ribu, namun semenjak harga cabai mahal upah naik jadi Rp 35 ribu per kilonya. Umpama dari pagi-siang dari tiap orang bisa memetik hingga 10 sampai 15 kilo, kan tinggal mengalikan sudah,” tambah Jumasin, buruh pemetik cabai.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Meski panen cabai di Kabupaten Bondowoso mengalami kemerosotan akibat cuaca ekstrem, namun sebagian petani merasa diuntungkan. Sebab, harga cabai di pasaran mengalami kenaikan yang sangat drastis.
Seperti yang dialami petani di Desa Paguan, Kecamatan Taman Krocok, Bondowoso. Mereka mengaku, jumlah panen cabai saat ini mengalami pengurangan ketimbang musim panen sebelumnya. “Dari lahan seluas 1,7 hektare yang ditanami cabai, sekali panen hanya mentok di 200 kilogram saja. Beda dengan panen yang sebelumnya, sekali panen bisa sampai 400 hingga 500 kilogram,” kata Fauzi salah satu petani.

Lelaki berumur 52 tahun itu mengaku, panen cabai saat ini dipicu oleh cuaca yang tidak stabil. “Ya, karena cuaca yang tidak menentu. Kadang hujan, kadang juga panas seharian. Sehingga tanaman banyak yang layu kemudian mengering banyak yang mati,” jelasnya.
Meski jumlah panennya menurun, mereka tetap merasa diuntungkan oleh kenaikan harga. “Alhamdulilah meski mengalami kemerosotan akibat cuaca, petani disini masih tertolong dengan mahalnya harga cabai sekarang. Sehingga seimbang antara pengeluaran dan pendapatan, bahkan masih ada lebihnya,” paparnya.

Dia menyebutkan, harga cabai rawit merah yang di patok untuk para tengkulak Rp 60 ribu per kilogramnya. “Untuk di pasaran saat ini, harga eceran sudah samapai Rp 70 ribu per kilogramnya,” imbuhnya.

Selain memberikan kegembiraan untuk para petani, para buruh tani yang bekerja sebagai pemetik juga diuntungkan. Sebab, ada penambahan harga dari orang yang mempekerjanya. “Untuk harga cabai sebelum mahal biasanya diberi upah Rp 25 ribu, namun semenjak harga cabai mahal upah naik jadi Rp 35 ribu per kilonya. Umpama dari pagi-siang dari tiap orang bisa memetik hingga 10 sampai 15 kilo, kan tinggal mengalikan sudah,” tambah Jumasin, buruh pemetik cabai.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Meski panen cabai di Kabupaten Bondowoso mengalami kemerosotan akibat cuaca ekstrem, namun sebagian petani merasa diuntungkan. Sebab, harga cabai di pasaran mengalami kenaikan yang sangat drastis.
Seperti yang dialami petani di Desa Paguan, Kecamatan Taman Krocok, Bondowoso. Mereka mengaku, jumlah panen cabai saat ini mengalami pengurangan ketimbang musim panen sebelumnya. “Dari lahan seluas 1,7 hektare yang ditanami cabai, sekali panen hanya mentok di 200 kilogram saja. Beda dengan panen yang sebelumnya, sekali panen bisa sampai 400 hingga 500 kilogram,” kata Fauzi salah satu petani.

Lelaki berumur 52 tahun itu mengaku, panen cabai saat ini dipicu oleh cuaca yang tidak stabil. “Ya, karena cuaca yang tidak menentu. Kadang hujan, kadang juga panas seharian. Sehingga tanaman banyak yang layu kemudian mengering banyak yang mati,” jelasnya.
Meski jumlah panennya menurun, mereka tetap merasa diuntungkan oleh kenaikan harga. “Alhamdulilah meski mengalami kemerosotan akibat cuaca, petani disini masih tertolong dengan mahalnya harga cabai sekarang. Sehingga seimbang antara pengeluaran dan pendapatan, bahkan masih ada lebihnya,” paparnya.

Dia menyebutkan, harga cabai rawit merah yang di patok untuk para tengkulak Rp 60 ribu per kilogramnya. “Untuk di pasaran saat ini, harga eceran sudah samapai Rp 70 ribu per kilogramnya,” imbuhnya.

Selain memberikan kegembiraan untuk para petani, para buruh tani yang bekerja sebagai pemetik juga diuntungkan. Sebab, ada penambahan harga dari orang yang mempekerjanya. “Untuk harga cabai sebelum mahal biasanya diberi upah Rp 25 ribu, namun semenjak harga cabai mahal upah naik jadi Rp 35 ribu per kilonya. Umpama dari pagi-siang dari tiap orang bisa memetik hingga 10 sampai 15 kilo, kan tinggal mengalikan sudah,” tambah Jumasin, buruh pemetik cabai.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/