alexametrics
24.5 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Tantangan Santri Lebih Kompleks, Refleksi HSN terhadap Para Pejuang

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) sebagai salah satu bentuk penghormatan pemerintah atas perlawanan santri terdahulu dalam mempertahankan NKRI. Peringatan tersebut secara resmi diperingati setiap 22 Oktober.

Penetapan Hari Santri tak lepas dari perjuangan santri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia di masa lalu. Lahirnya Hari Santri bermula dari fatwa yang disampaikan Pahlawan Nasional KH Haysim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 lalu. Kemudian, fatwa tersebut dikenal dengan Resolusi Jihad.

Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa Bondowoso KH Barri Sahlawi Zain mengatakan, pesantren adalah lembaga pendidikan dan dakwah, untuk menyemai para generasi penerus perjuangan nabi dan ulama.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain fungsi tersebut, pesantren dituntut untuk memiliki sumbangsih kepada bangsa dan negara. “Pesantren juga bisa menjadi lembaga perekonomian, lembaga sosial, dan sebagainya yang sesuai tuntutan zaman,” paparnya.

Menurut dia, santri juga harus bisa memahami teknologi untuk menyebarkan dakwah keagamaan yang benar dan menyejukkan. “Santri harus mengambil peran strategis sebagai benteng negara. Di mana santri harus bisa mengedukasi kesadaran berbangsa dan bernegara,” jelasnya.

Menurut dia, tantangan santri masa kini lebih kompleks. Untuk terjun di masyarakat, santri saat ini juga dituntut tidak hanya bisa ilmu agama, tetapi juga harus bisa IT, ilmu sosial, politik, dan lain-lain.

Hal yang sama diungkapkan oleh KH Asyari Pasha, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bondowoso. Menurut dia, kaum santri juga memiliki peran penting untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal itu baginya tidak boleh dilupakan. “Negara yang baik atau orang yang baik yang selalu mengingat sejarah perjuangan,” katanya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) sebagai salah satu bentuk penghormatan pemerintah atas perlawanan santri terdahulu dalam mempertahankan NKRI. Peringatan tersebut secara resmi diperingati setiap 22 Oktober.

Penetapan Hari Santri tak lepas dari perjuangan santri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia di masa lalu. Lahirnya Hari Santri bermula dari fatwa yang disampaikan Pahlawan Nasional KH Haysim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 lalu. Kemudian, fatwa tersebut dikenal dengan Resolusi Jihad.

Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa Bondowoso KH Barri Sahlawi Zain mengatakan, pesantren adalah lembaga pendidikan dan dakwah, untuk menyemai para generasi penerus perjuangan nabi dan ulama.

Selain fungsi tersebut, pesantren dituntut untuk memiliki sumbangsih kepada bangsa dan negara. “Pesantren juga bisa menjadi lembaga perekonomian, lembaga sosial, dan sebagainya yang sesuai tuntutan zaman,” paparnya.

Menurut dia, santri juga harus bisa memahami teknologi untuk menyebarkan dakwah keagamaan yang benar dan menyejukkan. “Santri harus mengambil peran strategis sebagai benteng negara. Di mana santri harus bisa mengedukasi kesadaran berbangsa dan bernegara,” jelasnya.

Menurut dia, tantangan santri masa kini lebih kompleks. Untuk terjun di masyarakat, santri saat ini juga dituntut tidak hanya bisa ilmu agama, tetapi juga harus bisa IT, ilmu sosial, politik, dan lain-lain.

Hal yang sama diungkapkan oleh KH Asyari Pasha, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bondowoso. Menurut dia, kaum santri juga memiliki peran penting untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal itu baginya tidak boleh dilupakan. “Negara yang baik atau orang yang baik yang selalu mengingat sejarah perjuangan,” katanya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) sebagai salah satu bentuk penghormatan pemerintah atas perlawanan santri terdahulu dalam mempertahankan NKRI. Peringatan tersebut secara resmi diperingati setiap 22 Oktober.

Penetapan Hari Santri tak lepas dari perjuangan santri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia di masa lalu. Lahirnya Hari Santri bermula dari fatwa yang disampaikan Pahlawan Nasional KH Haysim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 lalu. Kemudian, fatwa tersebut dikenal dengan Resolusi Jihad.

Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa Bondowoso KH Barri Sahlawi Zain mengatakan, pesantren adalah lembaga pendidikan dan dakwah, untuk menyemai para generasi penerus perjuangan nabi dan ulama.

Selain fungsi tersebut, pesantren dituntut untuk memiliki sumbangsih kepada bangsa dan negara. “Pesantren juga bisa menjadi lembaga perekonomian, lembaga sosial, dan sebagainya yang sesuai tuntutan zaman,” paparnya.

Menurut dia, santri juga harus bisa memahami teknologi untuk menyebarkan dakwah keagamaan yang benar dan menyejukkan. “Santri harus mengambil peran strategis sebagai benteng negara. Di mana santri harus bisa mengedukasi kesadaran berbangsa dan bernegara,” jelasnya.

Menurut dia, tantangan santri masa kini lebih kompleks. Untuk terjun di masyarakat, santri saat ini juga dituntut tidak hanya bisa ilmu agama, tetapi juga harus bisa IT, ilmu sosial, politik, dan lain-lain.

Hal yang sama diungkapkan oleh KH Asyari Pasha, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bondowoso. Menurut dia, kaum santri juga memiliki peran penting untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal itu baginya tidak boleh dilupakan. “Negara yang baik atau orang yang baik yang selalu mengingat sejarah perjuangan,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/