22.4 C
Jember
Monday, 5 June 2023

Klaim Bisa Obati Covid-19 dan Jadi Disinfektan

Probiotik Organik Temuan Dokter Bondowoso

Mobile_AP_Rectangle 1

DABASAH, RADARJEMBER.ID – Dua orang putra daerah yang berprofesi sebagai dokter asal Bondowoso berhasil menemukan probiotik organik. Cairan itu diklaim bisa digunakan sebagai disinfektan menggantikan disinfektan kimia. Selain itu, penemuan ini juga bisa dikonsumsi untuk pengobatan pasien Covid-19.

Penemu probiotik organik, dr Indra Kusuma, mengatakan, awalnya mereka membuat probiotik karena merasa prihatin dengan kondisi penyebaran Covid-19 saat ini. Apalagi, sebelumnya ketika penyemprotan dilakukan menggunakan cairan disinfektan kimia, jumlah kasus Covid-19 tidak menunjukan penurunan yang signifikan. Bahkan sebaliknya, angkanya mengalami peningkatan. “Di sini berarti disinfektan yang dipakai tidak efektif. Terbukti dengan penyebaran virusnya semakin banyak,” jelasnya di Pendapa Bupati Bondowoso, kemarin (22/7).

Oleh sebab itu, ia mengaku memiliki inisiatif untuk membuat probiotik organik tersebut dengan bahan-bahan yang tersedia di Kabupaten Bondowoso. Ketika produknya sudah jadi, pihaknya mencoba untuk menyemprotkan di berbagai titik. Kemudian, menurut Indra, terbukti jumlah kasusnya berkurang bahkan tidak ada. Selain itu, pasien positif Covid-19 juga bisa negatif setelah mengonsumsi penemuannya itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dijelaskannya, selain bisa digunakan untuk disinfektan organik, penemuannya itu juga bisa dikonsumsi oleh para pasien Covid-19. Bahkan, beberapa orang sudah terbukti bisa negatif. “Bisa diminum juga itu. Ada contohnya sudah,” ungkapnya, sembari menunjukan probiotik yang ia bawa.

Pembuatannya membutuhkan waktu kurang lebih tiga minggu untuk melakukan fermentasi bahan-bahan yang dicampurkan tadi. Setelah proses fermentasi, probiotik itu bisa diaplikasikan. Baik untuk disinfektan maupun untuk dikonsumsi. “Fermentasinya baru masak setelah tiga minggu,” ujarnya.

Menurut dia, bahannya terbilang cukup mudah didapatkan. Apalagi, semua bahannya tersedia di Bondowoso. Seperti kentang, air kelapa, nanas, tape, dedak katul, daging sapi, serta berbagai bahan lainnya. Bahan-bahan tersebut kemudian difermentasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan.

Walau demikian, ternyata masyarakat belum bisa membuatnya sembarangan. Sebab, ada takaran khusus di setiap bahan yang dibutuhkan, serta ada beberapa bahan khusus untuk fermentasi. Dan bagi masyarakat yang ingin mendapatkan cairan itu bisa langsung mendatangi rumahnya yang ada di Desa Pakuniran, Kecamatan Maesan. “Khusus Bondowoso saya berikan gratis. Dalam rangka membantu Pemerintah Kabupaten Bondowoso,” tegasnya.

Pihaknya menyediakan probiotik organik itu untuk pemerintah kabupaten sebanyak 5.000 liter secara gratis. Sementara, satu liter probiotik memiliki rasio 20 liter air. Penyemprotannya bisa dilakukan selama tiga hari berturut-turut. “Insyaallah hari keempat bisa dicatat di lapangan seberapa besar penurunan kasus positif,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengaku, jika masih dibutuhkan, maka pihaknya siap memproduksi dalam jumlah banyak. Harapannya, Bondowoso bisa segera menjadi zona hijau dan terbebas dari Covid-19.

Sementara itu, dr Rasmono, penemu lainnya, mengatakan, pengaplikasian penemuan itu pada pasien Covid-19 menyesuaikan dengan kondisi pasien. Artinya, setiap pasien dengan kondisi penularan ringan, sedang, atau berat berbeda pula cara konsumsinya. “Untuk derajat ringan gunakan satu sendok makan dalam air 20 ml. Utamakan air hangat, bisa ditambah madu atau gula. Untuk yang derajat sedang gunakan dua sendok makan. Itu diminum tiga kali dalam sehari,” ungkapnya.

Menurutnya, dalam waktu dua hingga tiga hari sudah bisa dilihat perubahannya. Artinya, sudah mulai ada perbaikan pada kondisi pasien Covid-19. Karena itu, ketika terus dikonsumsi, pihaknya meyakini orang yang positif bisa menjadi negatif dan sehat seperti semula.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

DABASAH, RADARJEMBER.ID – Dua orang putra daerah yang berprofesi sebagai dokter asal Bondowoso berhasil menemukan probiotik organik. Cairan itu diklaim bisa digunakan sebagai disinfektan menggantikan disinfektan kimia. Selain itu, penemuan ini juga bisa dikonsumsi untuk pengobatan pasien Covid-19.

Penemu probiotik organik, dr Indra Kusuma, mengatakan, awalnya mereka membuat probiotik karena merasa prihatin dengan kondisi penyebaran Covid-19 saat ini. Apalagi, sebelumnya ketika penyemprotan dilakukan menggunakan cairan disinfektan kimia, jumlah kasus Covid-19 tidak menunjukan penurunan yang signifikan. Bahkan sebaliknya, angkanya mengalami peningkatan. “Di sini berarti disinfektan yang dipakai tidak efektif. Terbukti dengan penyebaran virusnya semakin banyak,” jelasnya di Pendapa Bupati Bondowoso, kemarin (22/7).

Oleh sebab itu, ia mengaku memiliki inisiatif untuk membuat probiotik organik tersebut dengan bahan-bahan yang tersedia di Kabupaten Bondowoso. Ketika produknya sudah jadi, pihaknya mencoba untuk menyemprotkan di berbagai titik. Kemudian, menurut Indra, terbukti jumlah kasusnya berkurang bahkan tidak ada. Selain itu, pasien positif Covid-19 juga bisa negatif setelah mengonsumsi penemuannya itu.

Dijelaskannya, selain bisa digunakan untuk disinfektan organik, penemuannya itu juga bisa dikonsumsi oleh para pasien Covid-19. Bahkan, beberapa orang sudah terbukti bisa negatif. “Bisa diminum juga itu. Ada contohnya sudah,” ungkapnya, sembari menunjukan probiotik yang ia bawa.

Pembuatannya membutuhkan waktu kurang lebih tiga minggu untuk melakukan fermentasi bahan-bahan yang dicampurkan tadi. Setelah proses fermentasi, probiotik itu bisa diaplikasikan. Baik untuk disinfektan maupun untuk dikonsumsi. “Fermentasinya baru masak setelah tiga minggu,” ujarnya.

Menurut dia, bahannya terbilang cukup mudah didapatkan. Apalagi, semua bahannya tersedia di Bondowoso. Seperti kentang, air kelapa, nanas, tape, dedak katul, daging sapi, serta berbagai bahan lainnya. Bahan-bahan tersebut kemudian difermentasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan.

Walau demikian, ternyata masyarakat belum bisa membuatnya sembarangan. Sebab, ada takaran khusus di setiap bahan yang dibutuhkan, serta ada beberapa bahan khusus untuk fermentasi. Dan bagi masyarakat yang ingin mendapatkan cairan itu bisa langsung mendatangi rumahnya yang ada di Desa Pakuniran, Kecamatan Maesan. “Khusus Bondowoso saya berikan gratis. Dalam rangka membantu Pemerintah Kabupaten Bondowoso,” tegasnya.

Pihaknya menyediakan probiotik organik itu untuk pemerintah kabupaten sebanyak 5.000 liter secara gratis. Sementara, satu liter probiotik memiliki rasio 20 liter air. Penyemprotannya bisa dilakukan selama tiga hari berturut-turut. “Insyaallah hari keempat bisa dicatat di lapangan seberapa besar penurunan kasus positif,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengaku, jika masih dibutuhkan, maka pihaknya siap memproduksi dalam jumlah banyak. Harapannya, Bondowoso bisa segera menjadi zona hijau dan terbebas dari Covid-19.

Sementara itu, dr Rasmono, penemu lainnya, mengatakan, pengaplikasian penemuan itu pada pasien Covid-19 menyesuaikan dengan kondisi pasien. Artinya, setiap pasien dengan kondisi penularan ringan, sedang, atau berat berbeda pula cara konsumsinya. “Untuk derajat ringan gunakan satu sendok makan dalam air 20 ml. Utamakan air hangat, bisa ditambah madu atau gula. Untuk yang derajat sedang gunakan dua sendok makan. Itu diminum tiga kali dalam sehari,” ungkapnya.

Menurutnya, dalam waktu dua hingga tiga hari sudah bisa dilihat perubahannya. Artinya, sudah mulai ada perbaikan pada kondisi pasien Covid-19. Karena itu, ketika terus dikonsumsi, pihaknya meyakini orang yang positif bisa menjadi negatif dan sehat seperti semula.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Mahrus Sholih

DABASAH, RADARJEMBER.ID – Dua orang putra daerah yang berprofesi sebagai dokter asal Bondowoso berhasil menemukan probiotik organik. Cairan itu diklaim bisa digunakan sebagai disinfektan menggantikan disinfektan kimia. Selain itu, penemuan ini juga bisa dikonsumsi untuk pengobatan pasien Covid-19.

Penemu probiotik organik, dr Indra Kusuma, mengatakan, awalnya mereka membuat probiotik karena merasa prihatin dengan kondisi penyebaran Covid-19 saat ini. Apalagi, sebelumnya ketika penyemprotan dilakukan menggunakan cairan disinfektan kimia, jumlah kasus Covid-19 tidak menunjukan penurunan yang signifikan. Bahkan sebaliknya, angkanya mengalami peningkatan. “Di sini berarti disinfektan yang dipakai tidak efektif. Terbukti dengan penyebaran virusnya semakin banyak,” jelasnya di Pendapa Bupati Bondowoso, kemarin (22/7).

Oleh sebab itu, ia mengaku memiliki inisiatif untuk membuat probiotik organik tersebut dengan bahan-bahan yang tersedia di Kabupaten Bondowoso. Ketika produknya sudah jadi, pihaknya mencoba untuk menyemprotkan di berbagai titik. Kemudian, menurut Indra, terbukti jumlah kasusnya berkurang bahkan tidak ada. Selain itu, pasien positif Covid-19 juga bisa negatif setelah mengonsumsi penemuannya itu.

Dijelaskannya, selain bisa digunakan untuk disinfektan organik, penemuannya itu juga bisa dikonsumsi oleh para pasien Covid-19. Bahkan, beberapa orang sudah terbukti bisa negatif. “Bisa diminum juga itu. Ada contohnya sudah,” ungkapnya, sembari menunjukan probiotik yang ia bawa.

Pembuatannya membutuhkan waktu kurang lebih tiga minggu untuk melakukan fermentasi bahan-bahan yang dicampurkan tadi. Setelah proses fermentasi, probiotik itu bisa diaplikasikan. Baik untuk disinfektan maupun untuk dikonsumsi. “Fermentasinya baru masak setelah tiga minggu,” ujarnya.

Menurut dia, bahannya terbilang cukup mudah didapatkan. Apalagi, semua bahannya tersedia di Bondowoso. Seperti kentang, air kelapa, nanas, tape, dedak katul, daging sapi, serta berbagai bahan lainnya. Bahan-bahan tersebut kemudian difermentasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan.

Walau demikian, ternyata masyarakat belum bisa membuatnya sembarangan. Sebab, ada takaran khusus di setiap bahan yang dibutuhkan, serta ada beberapa bahan khusus untuk fermentasi. Dan bagi masyarakat yang ingin mendapatkan cairan itu bisa langsung mendatangi rumahnya yang ada di Desa Pakuniran, Kecamatan Maesan. “Khusus Bondowoso saya berikan gratis. Dalam rangka membantu Pemerintah Kabupaten Bondowoso,” tegasnya.

Pihaknya menyediakan probiotik organik itu untuk pemerintah kabupaten sebanyak 5.000 liter secara gratis. Sementara, satu liter probiotik memiliki rasio 20 liter air. Penyemprotannya bisa dilakukan selama tiga hari berturut-turut. “Insyaallah hari keempat bisa dicatat di lapangan seberapa besar penurunan kasus positif,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengaku, jika masih dibutuhkan, maka pihaknya siap memproduksi dalam jumlah banyak. Harapannya, Bondowoso bisa segera menjadi zona hijau dan terbebas dari Covid-19.

Sementara itu, dr Rasmono, penemu lainnya, mengatakan, pengaplikasian penemuan itu pada pasien Covid-19 menyesuaikan dengan kondisi pasien. Artinya, setiap pasien dengan kondisi penularan ringan, sedang, atau berat berbeda pula cara konsumsinya. “Untuk derajat ringan gunakan satu sendok makan dalam air 20 ml. Utamakan air hangat, bisa ditambah madu atau gula. Untuk yang derajat sedang gunakan dua sendok makan. Itu diminum tiga kali dalam sehari,” ungkapnya.

Menurutnya, dalam waktu dua hingga tiga hari sudah bisa dilihat perubahannya. Artinya, sudah mulai ada perbaikan pada kondisi pasien Covid-19. Karena itu, ketika terus dikonsumsi, pihaknya meyakini orang yang positif bisa menjadi negatif dan sehat seperti semula.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca