alexametrics
28.1 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Bentuk Curahan Hati Tidak Bisa Menahan Mulut

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Berbagai karya seni rupa seperti lukisan, fotografi, dan sebagainya terpajang rapi dalam ruangan yang dicat berwarna merah muda. Ternyata sejumlah karya tersebut dalam rangka pameran seni rupa yang digagas oleh Komunitas Kalimat Project. Tema yang diangkat pun cukup menarik, yakni “Kento’ Bhaceng”.

Baca Juga : “Ilmuwan” Pesantren Nuris Ciptakan Biodetergen Ramah Lingkungan

Kento’ Bhaceng merupakan kosa kata yang diambil dari bahasa Madura. Kento’ dalam bahasa Madura memiliki makna kentut, sementara bhaceng artinya bau atau busuk. Ternyata pengambilan tema itu bukan tanpa sebab atau tanpa makna. Melainkan memiliki filosofi mendalam, terkait bagaimana cara menahan diri untuk tidak berbuat buruk.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pameran yang digelar 19 hingga 28 Maret tersebut cukup menjadi refleksi para seniman Bondowoso untuk terus berkreasi. Budiamin, Ketua Kalimat Project, menuturkan, pameran tersebut berangkat dari kegelisahan para seniman yang tergabung dalam komunitasnya. Terlebih, selama ini Budi menilai, seniman masih dianggap anomali oleh masyarakat. “Artinya dicibir lah begitu. Nah, itu yang ingin kami angkat, bahwa seniman juga bisa punya peran,” katanya.

Dikonfirmasi terkait tema yang diambil, Budiamin menjelaskan, tema tersebut merupakan sebuah kritik sosial bagi masyarakat maupun pemerintahan. Sebab, pihaknya melihat di Indonesia, khususnya di Bondowoso, masih ada hal yang percuma, tapi tetap saja diperebutkan. “Filosofi kentut, kalau ditahan kan sakit perut. Kalau dikeluarkan pasti bikin ribut,” jelasnya.

Sebenarnya pelajaran yang dapat diambil dari tema yang dicantumkan, menurut Budiamin, jika seseorang dapat menahan kentutnya, kenapa tidak mencoba untuk menahan mulutnya dari mengatakan hal-hal yang tidak baik. “Arti singkatnya begitu lah,” imbuhnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Berbagai karya seni rupa seperti lukisan, fotografi, dan sebagainya terpajang rapi dalam ruangan yang dicat berwarna merah muda. Ternyata sejumlah karya tersebut dalam rangka pameran seni rupa yang digagas oleh Komunitas Kalimat Project. Tema yang diangkat pun cukup menarik, yakni “Kento’ Bhaceng”.

Baca Juga : “Ilmuwan” Pesantren Nuris Ciptakan Biodetergen Ramah Lingkungan

Kento’ Bhaceng merupakan kosa kata yang diambil dari bahasa Madura. Kento’ dalam bahasa Madura memiliki makna kentut, sementara bhaceng artinya bau atau busuk. Ternyata pengambilan tema itu bukan tanpa sebab atau tanpa makna. Melainkan memiliki filosofi mendalam, terkait bagaimana cara menahan diri untuk tidak berbuat buruk.

Pameran yang digelar 19 hingga 28 Maret tersebut cukup menjadi refleksi para seniman Bondowoso untuk terus berkreasi. Budiamin, Ketua Kalimat Project, menuturkan, pameran tersebut berangkat dari kegelisahan para seniman yang tergabung dalam komunitasnya. Terlebih, selama ini Budi menilai, seniman masih dianggap anomali oleh masyarakat. “Artinya dicibir lah begitu. Nah, itu yang ingin kami angkat, bahwa seniman juga bisa punya peran,” katanya.

Dikonfirmasi terkait tema yang diambil, Budiamin menjelaskan, tema tersebut merupakan sebuah kritik sosial bagi masyarakat maupun pemerintahan. Sebab, pihaknya melihat di Indonesia, khususnya di Bondowoso, masih ada hal yang percuma, tapi tetap saja diperebutkan. “Filosofi kentut, kalau ditahan kan sakit perut. Kalau dikeluarkan pasti bikin ribut,” jelasnya.

Sebenarnya pelajaran yang dapat diambil dari tema yang dicantumkan, menurut Budiamin, jika seseorang dapat menahan kentutnya, kenapa tidak mencoba untuk menahan mulutnya dari mengatakan hal-hal yang tidak baik. “Arti singkatnya begitu lah,” imbuhnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Berbagai karya seni rupa seperti lukisan, fotografi, dan sebagainya terpajang rapi dalam ruangan yang dicat berwarna merah muda. Ternyata sejumlah karya tersebut dalam rangka pameran seni rupa yang digagas oleh Komunitas Kalimat Project. Tema yang diangkat pun cukup menarik, yakni “Kento’ Bhaceng”.

Baca Juga : “Ilmuwan” Pesantren Nuris Ciptakan Biodetergen Ramah Lingkungan

Kento’ Bhaceng merupakan kosa kata yang diambil dari bahasa Madura. Kento’ dalam bahasa Madura memiliki makna kentut, sementara bhaceng artinya bau atau busuk. Ternyata pengambilan tema itu bukan tanpa sebab atau tanpa makna. Melainkan memiliki filosofi mendalam, terkait bagaimana cara menahan diri untuk tidak berbuat buruk.

Pameran yang digelar 19 hingga 28 Maret tersebut cukup menjadi refleksi para seniman Bondowoso untuk terus berkreasi. Budiamin, Ketua Kalimat Project, menuturkan, pameran tersebut berangkat dari kegelisahan para seniman yang tergabung dalam komunitasnya. Terlebih, selama ini Budi menilai, seniman masih dianggap anomali oleh masyarakat. “Artinya dicibir lah begitu. Nah, itu yang ingin kami angkat, bahwa seniman juga bisa punya peran,” katanya.

Dikonfirmasi terkait tema yang diambil, Budiamin menjelaskan, tema tersebut merupakan sebuah kritik sosial bagi masyarakat maupun pemerintahan. Sebab, pihaknya melihat di Indonesia, khususnya di Bondowoso, masih ada hal yang percuma, tapi tetap saja diperebutkan. “Filosofi kentut, kalau ditahan kan sakit perut. Kalau dikeluarkan pasti bikin ribut,” jelasnya.

Sebenarnya pelajaran yang dapat diambil dari tema yang dicantumkan, menurut Budiamin, jika seseorang dapat menahan kentutnya, kenapa tidak mencoba untuk menahan mulutnya dari mengatakan hal-hal yang tidak baik. “Arti singkatnya begitu lah,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/