alexametrics
25 C
Jember
Wednesday, 26 January 2022

Lagi, Viral Video Tolak Pemakaman dengan Peti Jenazah

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Setelah viralnya video pembakaran peti jenazah di Desa Kemirian, Kecamatan Tamanan, beberapa waktu lalu, masyarakat Bondowoso kembali digemparkan dengan video penolakan pemakan jenazah Covid-19 menggunakan protokol kesehatan. Sebuah video berdurasi 2 menit 50 detik menggambarkan masyarakat menolak pemakaman jenazah diduga terkonfirmasi Covid-19 menggunakan peti.

Dalam video tersebut tampak ambulans yang mengangkut jenazah berada di halaman sebuah masjid. Sementara, warga menggotong jenazah yang ada di dalam peti ramai-ramai keluar dari mobil ambulans. Setelah jenazah berada di dalam masjid, selang beberapa menit tampak seorang pemuda melempar dan menendang peti jenazah.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, diketahui peristiwa itu terjadi pada Senin (19/7) di Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari. Kapolsek Wonosari AKP Samsul Arif membenarkan hal tersebut terjadi di wilayahnya. Penolakan tersebut terjadi ditengarai karena ada salah satu anggota keluarga jenazah, N, 39, menolak pemakaman menggunakan peti jenazah. Hal tersebut karena keluarga menilai pemakaman dengan cara seperti itu tidak sesuai dengan syariat Islam.

Mobile_AP_Rectangle 2

Walaupun demikian, Samsul mengutarakan, jenazah akhirnya tetap dimakamkan dengan menggunakan kantong jenazah dan sesuai dengan protokol kesehatan. Jenazah dimakamkan di belakang masjid. “Karena yang meninggal adalah tokoh agama yang punya masjid itu. Jadi, tak mau pemakamannya menggunakan kotak jenazah, disalatkan di dalam masjid. Tapi tetap menggunakan kantong jenazah,” terangnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Setelah viralnya video pembakaran peti jenazah di Desa Kemirian, Kecamatan Tamanan, beberapa waktu lalu, masyarakat Bondowoso kembali digemparkan dengan video penolakan pemakan jenazah Covid-19 menggunakan protokol kesehatan. Sebuah video berdurasi 2 menit 50 detik menggambarkan masyarakat menolak pemakaman jenazah diduga terkonfirmasi Covid-19 menggunakan peti.

Dalam video tersebut tampak ambulans yang mengangkut jenazah berada di halaman sebuah masjid. Sementara, warga menggotong jenazah yang ada di dalam peti ramai-ramai keluar dari mobil ambulans. Setelah jenazah berada di dalam masjid, selang beberapa menit tampak seorang pemuda melempar dan menendang peti jenazah.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, diketahui peristiwa itu terjadi pada Senin (19/7) di Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari. Kapolsek Wonosari AKP Samsul Arif membenarkan hal tersebut terjadi di wilayahnya. Penolakan tersebut terjadi ditengarai karena ada salah satu anggota keluarga jenazah, N, 39, menolak pemakaman menggunakan peti jenazah. Hal tersebut karena keluarga menilai pemakaman dengan cara seperti itu tidak sesuai dengan syariat Islam.

Walaupun demikian, Samsul mengutarakan, jenazah akhirnya tetap dimakamkan dengan menggunakan kantong jenazah dan sesuai dengan protokol kesehatan. Jenazah dimakamkan di belakang masjid. “Karena yang meninggal adalah tokoh agama yang punya masjid itu. Jadi, tak mau pemakamannya menggunakan kotak jenazah, disalatkan di dalam masjid. Tapi tetap menggunakan kantong jenazah,” terangnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Setelah viralnya video pembakaran peti jenazah di Desa Kemirian, Kecamatan Tamanan, beberapa waktu lalu, masyarakat Bondowoso kembali digemparkan dengan video penolakan pemakan jenazah Covid-19 menggunakan protokol kesehatan. Sebuah video berdurasi 2 menit 50 detik menggambarkan masyarakat menolak pemakaman jenazah diduga terkonfirmasi Covid-19 menggunakan peti.

Dalam video tersebut tampak ambulans yang mengangkut jenazah berada di halaman sebuah masjid. Sementara, warga menggotong jenazah yang ada di dalam peti ramai-ramai keluar dari mobil ambulans. Setelah jenazah berada di dalam masjid, selang beberapa menit tampak seorang pemuda melempar dan menendang peti jenazah.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, diketahui peristiwa itu terjadi pada Senin (19/7) di Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari. Kapolsek Wonosari AKP Samsul Arif membenarkan hal tersebut terjadi di wilayahnya. Penolakan tersebut terjadi ditengarai karena ada salah satu anggota keluarga jenazah, N, 39, menolak pemakaman menggunakan peti jenazah. Hal tersebut karena keluarga menilai pemakaman dengan cara seperti itu tidak sesuai dengan syariat Islam.

Walaupun demikian, Samsul mengutarakan, jenazah akhirnya tetap dimakamkan dengan menggunakan kantong jenazah dan sesuai dengan protokol kesehatan. Jenazah dimakamkan di belakang masjid. “Karena yang meninggal adalah tokoh agama yang punya masjid itu. Jadi, tak mau pemakamannya menggunakan kotak jenazah, disalatkan di dalam masjid. Tapi tetap menggunakan kantong jenazah,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca