alexametrics
29.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Sterilisasi Harga, Datangkan Cabai dari Pulau Madura

Ketika Cabai Setara Daging Sapi Makan tanpa ada sambal menjadi kurang lengkap. Itulah mengapa bahan dasar sambal, yakni cabai, menjadi kebutuhan pokok saat ini. Bahkan, kini harganya mahal. Per kilogramnya setara dengan daging sapi super, yakni Rp 110 ribu.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) Bondowoso, produksi cabai rawit Bondowoso tahun 2020 mencapai 69.042 ton. Sedangkan untuk cabai besar sebanyak 1.934 ton. Produksi sebanyak itu nyatanya tak bisa memenuhi kebutuhan cabai di Bondowoso. Terbukti kini harganya melambung.
Sebenarnya, tak hanya di Bondowoso, kabupaten atau kota besar lainnya juga kelimpungan diterpa melonjaknya harga cabai yang makin pedas. Faktor penyebab mahalnya harga cabai karena permintaan tinggi, namun barangnya sedikit.
Sebagai langkah normalisasi, kini para pedagang mendatangkan cabai rawit dari luar kota. Sebab, memang Bondowoso sendiri bukan kabupaten yang termasuk dalam kota sentra produksi cabai di Jawa Timur. Data dari Diskoperindag provinsi, ada sembilan kabupaten yang masuk sentra produksi cabai, dan Bondowoso bukan salah satunya.
Hal itu dibenarkan oleh Hendriyanto, Kepala Seksi (Kasi) Perlindungan Konsumen Diskoperindag Bondowoso. “Mengapa Bondowoso tak masuk dalam sentra produksi cabai? Karena memang jumlah petani cabai di Bondowoso masih sedikit. Itu menjadi salah satu faktornya,” ungkap Hendriyanto.
Harga per kilogram cabai di pasaran kini bersaing dengan harga daging. Menembus angka Rp 110 ribu. Menyiasati itu, dikabarkan bahwa pasokan cabai dari pulau Madura mulai masuk ke Bondowoso. Harapannya, harga cabai mulai turun karena jumlahnya makin bertambah.
Menurut Totok Haryanto, Kepala Bidang (Kabid) Diskoperindag Bondowoso beberapa hari lalu, stok cabai bisa terpenuhi hingga Idul Fitri mendatang. Dengan masuknya cabai dari Madura, diharapkan harga cabai tidak melambung kembali. “Kemarin, berkat laporan teman-teman, cabai atau lombok yang dari Madura sudah masuk Bondowoso,” terangnya.
Mengenai penyebab naiknya harga cabai, Totok menjelaskan bahwa produksi cabai di musim hujan berkurang sehingga harga melonjak. Sementara, soal pasokan cabai yang dikirim ke luar daerah, Bondowoso yang bukan lumbung cabai memang dari dulu mengirim ke luar kota. “Tapi yang pasti faktor cuaca sangat memengaruhi produksi lombok. Itu hukum alam,” lanjutnya.
Ditambahkan Totok, upaya mengontrol harga dari pemerintah melalui Diskoperindag yakni dengan memantau harga di pasar-pasar. Selain itu, pihaknya menjalin komunikasi dengan para kelompok tani cabai agar harga tidak melampau tinggi.
“Dari petani keluhannya kalau musim (hujan) sekarang, menanam lombok riskan sekali. Walaupun harga naik, tapi mereka tidak berani menanam. Untuk tingkat pertumbuhannya kecil sekali,” pungkasnya.
Berdasarkan hasil monitoring Diskoperindag, Jumat (19/3), harga cabai rawit di Kota Tape berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 110 ribu per kilogram. Sedangkan cabai merah besar berkisar antara Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) Bondowoso, produksi cabai rawit Bondowoso tahun 2020 mencapai 69.042 ton. Sedangkan untuk cabai besar sebanyak 1.934 ton. Produksi sebanyak itu nyatanya tak bisa memenuhi kebutuhan cabai di Bondowoso. Terbukti kini harganya melambung.
Sebenarnya, tak hanya di Bondowoso, kabupaten atau kota besar lainnya juga kelimpungan diterpa melonjaknya harga cabai yang makin pedas. Faktor penyebab mahalnya harga cabai karena permintaan tinggi, namun barangnya sedikit.
Sebagai langkah normalisasi, kini para pedagang mendatangkan cabai rawit dari luar kota. Sebab, memang Bondowoso sendiri bukan kabupaten yang termasuk dalam kota sentra produksi cabai di Jawa Timur. Data dari Diskoperindag provinsi, ada sembilan kabupaten yang masuk sentra produksi cabai, dan Bondowoso bukan salah satunya.
Hal itu dibenarkan oleh Hendriyanto, Kepala Seksi (Kasi) Perlindungan Konsumen Diskoperindag Bondowoso. “Mengapa Bondowoso tak masuk dalam sentra produksi cabai? Karena memang jumlah petani cabai di Bondowoso masih sedikit. Itu menjadi salah satu faktornya,” ungkap Hendriyanto.
Harga per kilogram cabai di pasaran kini bersaing dengan harga daging. Menembus angka Rp 110 ribu. Menyiasati itu, dikabarkan bahwa pasokan cabai dari pulau Madura mulai masuk ke Bondowoso. Harapannya, harga cabai mulai turun karena jumlahnya makin bertambah.
Menurut Totok Haryanto, Kepala Bidang (Kabid) Diskoperindag Bondowoso beberapa hari lalu, stok cabai bisa terpenuhi hingga Idul Fitri mendatang. Dengan masuknya cabai dari Madura, diharapkan harga cabai tidak melambung kembali. “Kemarin, berkat laporan teman-teman, cabai atau lombok yang dari Madura sudah masuk Bondowoso,” terangnya.
Mengenai penyebab naiknya harga cabai, Totok menjelaskan bahwa produksi cabai di musim hujan berkurang sehingga harga melonjak. Sementara, soal pasokan cabai yang dikirim ke luar daerah, Bondowoso yang bukan lumbung cabai memang dari dulu mengirim ke luar kota. “Tapi yang pasti faktor cuaca sangat memengaruhi produksi lombok. Itu hukum alam,” lanjutnya.
Ditambahkan Totok, upaya mengontrol harga dari pemerintah melalui Diskoperindag yakni dengan memantau harga di pasar-pasar. Selain itu, pihaknya menjalin komunikasi dengan para kelompok tani cabai agar harga tidak melampau tinggi.
“Dari petani keluhannya kalau musim (hujan) sekarang, menanam lombok riskan sekali. Walaupun harga naik, tapi mereka tidak berani menanam. Untuk tingkat pertumbuhannya kecil sekali,” pungkasnya.
Berdasarkan hasil monitoring Diskoperindag, Jumat (19/3), harga cabai rawit di Kota Tape berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 110 ribu per kilogram. Sedangkan cabai merah besar berkisar antara Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) Bondowoso, produksi cabai rawit Bondowoso tahun 2020 mencapai 69.042 ton. Sedangkan untuk cabai besar sebanyak 1.934 ton. Produksi sebanyak itu nyatanya tak bisa memenuhi kebutuhan cabai di Bondowoso. Terbukti kini harganya melambung.
Sebenarnya, tak hanya di Bondowoso, kabupaten atau kota besar lainnya juga kelimpungan diterpa melonjaknya harga cabai yang makin pedas. Faktor penyebab mahalnya harga cabai karena permintaan tinggi, namun barangnya sedikit.
Sebagai langkah normalisasi, kini para pedagang mendatangkan cabai rawit dari luar kota. Sebab, memang Bondowoso sendiri bukan kabupaten yang termasuk dalam kota sentra produksi cabai di Jawa Timur. Data dari Diskoperindag provinsi, ada sembilan kabupaten yang masuk sentra produksi cabai, dan Bondowoso bukan salah satunya.
Hal itu dibenarkan oleh Hendriyanto, Kepala Seksi (Kasi) Perlindungan Konsumen Diskoperindag Bondowoso. “Mengapa Bondowoso tak masuk dalam sentra produksi cabai? Karena memang jumlah petani cabai di Bondowoso masih sedikit. Itu menjadi salah satu faktornya,” ungkap Hendriyanto.
Harga per kilogram cabai di pasaran kini bersaing dengan harga daging. Menembus angka Rp 110 ribu. Menyiasati itu, dikabarkan bahwa pasokan cabai dari pulau Madura mulai masuk ke Bondowoso. Harapannya, harga cabai mulai turun karena jumlahnya makin bertambah.
Menurut Totok Haryanto, Kepala Bidang (Kabid) Diskoperindag Bondowoso beberapa hari lalu, stok cabai bisa terpenuhi hingga Idul Fitri mendatang. Dengan masuknya cabai dari Madura, diharapkan harga cabai tidak melambung kembali. “Kemarin, berkat laporan teman-teman, cabai atau lombok yang dari Madura sudah masuk Bondowoso,” terangnya.
Mengenai penyebab naiknya harga cabai, Totok menjelaskan bahwa produksi cabai di musim hujan berkurang sehingga harga melonjak. Sementara, soal pasokan cabai yang dikirim ke luar daerah, Bondowoso yang bukan lumbung cabai memang dari dulu mengirim ke luar kota. “Tapi yang pasti faktor cuaca sangat memengaruhi produksi lombok. Itu hukum alam,” lanjutnya.
Ditambahkan Totok, upaya mengontrol harga dari pemerintah melalui Diskoperindag yakni dengan memantau harga di pasar-pasar. Selain itu, pihaknya menjalin komunikasi dengan para kelompok tani cabai agar harga tidak melampau tinggi.
“Dari petani keluhannya kalau musim (hujan) sekarang, menanam lombok riskan sekali. Walaupun harga naik, tapi mereka tidak berani menanam. Untuk tingkat pertumbuhannya kecil sekali,” pungkasnya.
Berdasarkan hasil monitoring Diskoperindag, Jumat (19/3), harga cabai rawit di Kota Tape berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 110 ribu per kilogram. Sedangkan cabai merah besar berkisar antara Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/