alexametrics
23.5 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Kupas Warisan Budaya Ijen Geopark Bondowoso

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Jawa Pos Radar Ijen menghadirkan Tantri Ayuningtyas, tim ahli budaya Ijen Geopark, sebagai bintang tamu dalam program Ngopi (Ngobrol Tipis-Tipis) yang dikemas melalui live Instagram (IG) edisi kelima, kemarin. Live tersebut membahas warisan budaya dalam Ijen Geopark Bondowoso.


Diketahui, Kabupaten Bondowoso kaya akan  warisan budaya. Apalagi budaya tersebut tidak hanya satu sisi. Dari sisi peninggalan misalnya, banyak situs megalitikum yang tersebar di seluruh wilayah. Kemudian, terdapat juga peninggalan era klasik pada masa Majapahit dan kerjaan lainnya.
Kemudian, dari sisi tradisi, Bondowoso memiliki banyak budaya yang sampai saat ini masih dipertahankan di beberapa daerah. Seperti tradisi ojung dan beberapa tradisi budaya lainnya.
Tantri menjelaskan, terdapat lima situs budaya yang masuk dalam culture site Ijen Geopark. Yakni Singo Ulung, Tari Petik Kopi, situs megalitikum Maskuning Kulon, situs Gua Bhuta Cermee, dan situs Gua Bhuta Canting. “Beberapa yang kami angkat itu juga dilihat dari beberapa ketentuan teknis. Salah satunya layak atau tidak. Kedua, memiliki kajian ilmiah atau tidak. Kemudian, ada tidaknya regulasi pemerintah,” jelasnya.
Budaya dalam Ijen Geopark terdapat dua klasifikasi. Yakni warisan budaya benda dan warisan budaya bukan benda. Untuk warisan budaya benda, terdapat situs megalitikum Maskuning Kulon. “Desa Maskuning Kulon memiliki 58 situs megalitikum yang letaknya berkelompok. Serta memiliki satu keunggulan, yakni batuan dolmen terbesar se-Jawa Timur,” ungkapnya.
Kemudian, situs budaya lainnya adalah Gua Bhuta yang juga sudah memiliki regulasi. Kemudian, keunggulannya adalah struktur bangunannya mewakili peninggalan Hindu-Budha pada abad ke-13. “Itu memiliki nilai sejarah yang sangat kuat,” imbuhnya.
Sementara itu, dari warisan budaya bukan benda yang masuk dalam culture site Ijen Geopark, ada dua budaya. Yakni Singo Ulung dan Tari Petik Kopi. Singo Ulung sudah ditetapkan sebagai warisan nasional bukan benda pada tahun 2015. “Ini menjadi profil utama saat masuk Bondowoso. Ini menjadi pembeda dari yang lainnya,” ungkapnya. Asal-usulnya berawal dari tradisi yang dilestarikan dan dikembangkan oleh Padepokan Gema Buana, yang berupa Rontek Singo Ulung.
Kemudian, untuk budaya Tarian Petik Kopi karena Bondowoso merupakan daerah penghasil kopi. “Tari Petik Kopi juga biasanya ditampilkan saat panen raya kopi. Yang juga menggambarkan bagaimana perempuan-perempuan petani kopi, ketika memetik kopi,” tandasnya.

Jurnalis: mg3
Fotografer: mg3
Editor: Solikhul Huda

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Jawa Pos Radar Ijen menghadirkan Tantri Ayuningtyas, tim ahli budaya Ijen Geopark, sebagai bintang tamu dalam program Ngopi (Ngobrol Tipis-Tipis) yang dikemas melalui live Instagram (IG) edisi kelima, kemarin. Live tersebut membahas warisan budaya dalam Ijen Geopark Bondowoso.


Diketahui, Kabupaten Bondowoso kaya akan  warisan budaya. Apalagi budaya tersebut tidak hanya satu sisi. Dari sisi peninggalan misalnya, banyak situs megalitikum yang tersebar di seluruh wilayah. Kemudian, terdapat juga peninggalan era klasik pada masa Majapahit dan kerjaan lainnya.
Kemudian, dari sisi tradisi, Bondowoso memiliki banyak budaya yang sampai saat ini masih dipertahankan di beberapa daerah. Seperti tradisi ojung dan beberapa tradisi budaya lainnya.
Tantri menjelaskan, terdapat lima situs budaya yang masuk dalam culture site Ijen Geopark. Yakni Singo Ulung, Tari Petik Kopi, situs megalitikum Maskuning Kulon, situs Gua Bhuta Cermee, dan situs Gua Bhuta Canting. “Beberapa yang kami angkat itu juga dilihat dari beberapa ketentuan teknis. Salah satunya layak atau tidak. Kedua, memiliki kajian ilmiah atau tidak. Kemudian, ada tidaknya regulasi pemerintah,” jelasnya.
Budaya dalam Ijen Geopark terdapat dua klasifikasi. Yakni warisan budaya benda dan warisan budaya bukan benda. Untuk warisan budaya benda, terdapat situs megalitikum Maskuning Kulon. “Desa Maskuning Kulon memiliki 58 situs megalitikum yang letaknya berkelompok. Serta memiliki satu keunggulan, yakni batuan dolmen terbesar se-Jawa Timur,” ungkapnya.
Kemudian, situs budaya lainnya adalah Gua Bhuta yang juga sudah memiliki regulasi. Kemudian, keunggulannya adalah struktur bangunannya mewakili peninggalan Hindu-Budha pada abad ke-13. “Itu memiliki nilai sejarah yang sangat kuat,” imbuhnya.
Sementara itu, dari warisan budaya bukan benda yang masuk dalam culture site Ijen Geopark, ada dua budaya. Yakni Singo Ulung dan Tari Petik Kopi. Singo Ulung sudah ditetapkan sebagai warisan nasional bukan benda pada tahun 2015. “Ini menjadi profil utama saat masuk Bondowoso. Ini menjadi pembeda dari yang lainnya,” ungkapnya. Asal-usulnya berawal dari tradisi yang dilestarikan dan dikembangkan oleh Padepokan Gema Buana, yang berupa Rontek Singo Ulung.
Kemudian, untuk budaya Tarian Petik Kopi karena Bondowoso merupakan daerah penghasil kopi. “Tari Petik Kopi juga biasanya ditampilkan saat panen raya kopi. Yang juga menggambarkan bagaimana perempuan-perempuan petani kopi, ketika memetik kopi,” tandasnya.

Jurnalis: mg3
Fotografer: mg3
Editor: Solikhul Huda

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Jawa Pos Radar Ijen menghadirkan Tantri Ayuningtyas, tim ahli budaya Ijen Geopark, sebagai bintang tamu dalam program Ngopi (Ngobrol Tipis-Tipis) yang dikemas melalui live Instagram (IG) edisi kelima, kemarin. Live tersebut membahas warisan budaya dalam Ijen Geopark Bondowoso.


Diketahui, Kabupaten Bondowoso kaya akan  warisan budaya. Apalagi budaya tersebut tidak hanya satu sisi. Dari sisi peninggalan misalnya, banyak situs megalitikum yang tersebar di seluruh wilayah. Kemudian, terdapat juga peninggalan era klasik pada masa Majapahit dan kerjaan lainnya.
Kemudian, dari sisi tradisi, Bondowoso memiliki banyak budaya yang sampai saat ini masih dipertahankan di beberapa daerah. Seperti tradisi ojung dan beberapa tradisi budaya lainnya.
Tantri menjelaskan, terdapat lima situs budaya yang masuk dalam culture site Ijen Geopark. Yakni Singo Ulung, Tari Petik Kopi, situs megalitikum Maskuning Kulon, situs Gua Bhuta Cermee, dan situs Gua Bhuta Canting. “Beberapa yang kami angkat itu juga dilihat dari beberapa ketentuan teknis. Salah satunya layak atau tidak. Kedua, memiliki kajian ilmiah atau tidak. Kemudian, ada tidaknya regulasi pemerintah,” jelasnya.
Budaya dalam Ijen Geopark terdapat dua klasifikasi. Yakni warisan budaya benda dan warisan budaya bukan benda. Untuk warisan budaya benda, terdapat situs megalitikum Maskuning Kulon. “Desa Maskuning Kulon memiliki 58 situs megalitikum yang letaknya berkelompok. Serta memiliki satu keunggulan, yakni batuan dolmen terbesar se-Jawa Timur,” ungkapnya.
Kemudian, situs budaya lainnya adalah Gua Bhuta yang juga sudah memiliki regulasi. Kemudian, keunggulannya adalah struktur bangunannya mewakili peninggalan Hindu-Budha pada abad ke-13. “Itu memiliki nilai sejarah yang sangat kuat,” imbuhnya.
Sementara itu, dari warisan budaya bukan benda yang masuk dalam culture site Ijen Geopark, ada dua budaya. Yakni Singo Ulung dan Tari Petik Kopi. Singo Ulung sudah ditetapkan sebagai warisan nasional bukan benda pada tahun 2015. “Ini menjadi profil utama saat masuk Bondowoso. Ini menjadi pembeda dari yang lainnya,” ungkapnya. Asal-usulnya berawal dari tradisi yang dilestarikan dan dikembangkan oleh Padepokan Gema Buana, yang berupa Rontek Singo Ulung.
Kemudian, untuk budaya Tarian Petik Kopi karena Bondowoso merupakan daerah penghasil kopi. “Tari Petik Kopi juga biasanya ditampilkan saat panen raya kopi. Yang juga menggambarkan bagaimana perempuan-perempuan petani kopi, ketika memetik kopi,” tandasnya.

Jurnalis: mg3
Fotografer: mg3
Editor: Solikhul Huda

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/