alexametrics
24.3 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Belum Bisa Kembangkan Wisata Heritage, Terkendala Pendanaan yang Masih Minim.

Di Bondowoso masih banyak bangunan kuno peninggalan zaman penjajahan Belanda. Bangunan kuno itu pun di antaranya sudah ada yang ditetapkan menjadi cagar budaya. Namun, banyak juga yang masih belum dirawat ataupun ditetapkan.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Berbagai bangunan peninggalan Belanda menjadi khazanah sejarah tersendiri di Bondowoso. Sebab, dulunya Bondowoso menjadi pusat Karesidenan Besuki. Sampai saat ini bangunan itu ada yang dikelola dan ada juga yang belum dikelola.

Misalnya saja bangunan yang saat ini menjadi Cafe The Raung di Sumberwringin. Bangunan berbentuk rumah bola itu merupakan peninggalan Belanda. Kini, dikelola Pemkab Bondowoso melalui Disparpora.

Contoh lainnya adalah Guest House Jampit yang dikelola PTPN XII. Merupakan rumah peninggalan Belanda yang memiliki pemandangan menakjubkan. Pun dengan wilayah kota, banyak bangunan Belanda yang belum dikelola. Jika semuanya dipadukan, sebenarnya bisa menjadi wisata heritage.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hery Kusdaryanto, Kepala Seksi (Kasi) Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Bondowoso, mengatakan, dinas masih terkendala anggaran untuk mengembangkan bangunan-bangunan kuno peninggalan kolonial Belanda menjadi wisata heritage.

Menurut dia, pemerintah daerah selama ini sangat ingin mengembangkan wisata heritage. Namun, kemampuan anggaran masih terbatas. Sebab, pendapatan asli daerah (PAD) Bondowoso masih tergolong kecil. Sementara, untuk pengembangan wisata heritage membutuhkan anggaran besar. “Anggaran kami terbatas, pendapatan asli daerah (PAD) juga kecil. Sedangkan untuk mengembangkan wisata heritage, biayanya tak sedikit,” katanya.

Hery menambahkan, akhirnya hanya bisa berharap peran sejumlah pihak untuk turut andil dalam proses pengembangan wisata heritage di Kota Tape. Sebab, katanya, dimulai dengan menciptakan embrio terlebih dahulu di kalangan masyarakat. Bila pengelolaan bangunan kuno diarahkan untuk tempat wisata oleh masyarakat, maka bisa menjadi sebuah gabungan wisata. Ketika sudah berjalan, maka bantuan dari pemerintah pusat akan berdatangan. “Kalau bergantung pada anggaran Pemkab Bondowoso, tentu sulit,” beber Hery.

Di Bondowoso sendiri baru Stasiun Kereta Api Bondowoso yang ditetapkan menjadi cagar budaya atau wisata heritage. Sementara, bangunan lainnya ada yang milik pemerintah, ada yang dikelola PT Perkebunan Nusantara XII di Desa Jampit, Ijen, Guest House, ataupun gedung Lapas Kelas II B Bondowoso belum ditetapkan. Ada juga yang sudah menjadi tempat hunian masyarakat.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Berbagai bangunan peninggalan Belanda menjadi khazanah sejarah tersendiri di Bondowoso. Sebab, dulunya Bondowoso menjadi pusat Karesidenan Besuki. Sampai saat ini bangunan itu ada yang dikelola dan ada juga yang belum dikelola.

Misalnya saja bangunan yang saat ini menjadi Cafe The Raung di Sumberwringin. Bangunan berbentuk rumah bola itu merupakan peninggalan Belanda. Kini, dikelola Pemkab Bondowoso melalui Disparpora.

Contoh lainnya adalah Guest House Jampit yang dikelola PTPN XII. Merupakan rumah peninggalan Belanda yang memiliki pemandangan menakjubkan. Pun dengan wilayah kota, banyak bangunan Belanda yang belum dikelola. Jika semuanya dipadukan, sebenarnya bisa menjadi wisata heritage.

Hery Kusdaryanto, Kepala Seksi (Kasi) Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Bondowoso, mengatakan, dinas masih terkendala anggaran untuk mengembangkan bangunan-bangunan kuno peninggalan kolonial Belanda menjadi wisata heritage.

Menurut dia, pemerintah daerah selama ini sangat ingin mengembangkan wisata heritage. Namun, kemampuan anggaran masih terbatas. Sebab, pendapatan asli daerah (PAD) Bondowoso masih tergolong kecil. Sementara, untuk pengembangan wisata heritage membutuhkan anggaran besar. “Anggaran kami terbatas, pendapatan asli daerah (PAD) juga kecil. Sedangkan untuk mengembangkan wisata heritage, biayanya tak sedikit,” katanya.

Hery menambahkan, akhirnya hanya bisa berharap peran sejumlah pihak untuk turut andil dalam proses pengembangan wisata heritage di Kota Tape. Sebab, katanya, dimulai dengan menciptakan embrio terlebih dahulu di kalangan masyarakat. Bila pengelolaan bangunan kuno diarahkan untuk tempat wisata oleh masyarakat, maka bisa menjadi sebuah gabungan wisata. Ketika sudah berjalan, maka bantuan dari pemerintah pusat akan berdatangan. “Kalau bergantung pada anggaran Pemkab Bondowoso, tentu sulit,” beber Hery.

Di Bondowoso sendiri baru Stasiun Kereta Api Bondowoso yang ditetapkan menjadi cagar budaya atau wisata heritage. Sementara, bangunan lainnya ada yang milik pemerintah, ada yang dikelola PT Perkebunan Nusantara XII di Desa Jampit, Ijen, Guest House, ataupun gedung Lapas Kelas II B Bondowoso belum ditetapkan. Ada juga yang sudah menjadi tempat hunian masyarakat.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Berbagai bangunan peninggalan Belanda menjadi khazanah sejarah tersendiri di Bondowoso. Sebab, dulunya Bondowoso menjadi pusat Karesidenan Besuki. Sampai saat ini bangunan itu ada yang dikelola dan ada juga yang belum dikelola.

Misalnya saja bangunan yang saat ini menjadi Cafe The Raung di Sumberwringin. Bangunan berbentuk rumah bola itu merupakan peninggalan Belanda. Kini, dikelola Pemkab Bondowoso melalui Disparpora.

Contoh lainnya adalah Guest House Jampit yang dikelola PTPN XII. Merupakan rumah peninggalan Belanda yang memiliki pemandangan menakjubkan. Pun dengan wilayah kota, banyak bangunan Belanda yang belum dikelola. Jika semuanya dipadukan, sebenarnya bisa menjadi wisata heritage.

Hery Kusdaryanto, Kepala Seksi (Kasi) Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Bondowoso, mengatakan, dinas masih terkendala anggaran untuk mengembangkan bangunan-bangunan kuno peninggalan kolonial Belanda menjadi wisata heritage.

Menurut dia, pemerintah daerah selama ini sangat ingin mengembangkan wisata heritage. Namun, kemampuan anggaran masih terbatas. Sebab, pendapatan asli daerah (PAD) Bondowoso masih tergolong kecil. Sementara, untuk pengembangan wisata heritage membutuhkan anggaran besar. “Anggaran kami terbatas, pendapatan asli daerah (PAD) juga kecil. Sedangkan untuk mengembangkan wisata heritage, biayanya tak sedikit,” katanya.

Hery menambahkan, akhirnya hanya bisa berharap peran sejumlah pihak untuk turut andil dalam proses pengembangan wisata heritage di Kota Tape. Sebab, katanya, dimulai dengan menciptakan embrio terlebih dahulu di kalangan masyarakat. Bila pengelolaan bangunan kuno diarahkan untuk tempat wisata oleh masyarakat, maka bisa menjadi sebuah gabungan wisata. Ketika sudah berjalan, maka bantuan dari pemerintah pusat akan berdatangan. “Kalau bergantung pada anggaran Pemkab Bondowoso, tentu sulit,” beber Hery.

Di Bondowoso sendiri baru Stasiun Kereta Api Bondowoso yang ditetapkan menjadi cagar budaya atau wisata heritage. Sementara, bangunan lainnya ada yang milik pemerintah, ada yang dikelola PT Perkebunan Nusantara XII di Desa Jampit, Ijen, Guest House, ataupun gedung Lapas Kelas II B Bondowoso belum ditetapkan. Ada juga yang sudah menjadi tempat hunian masyarakat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/