alexametrics
32.2 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Abad 18 sampai 19 Jadi Kota Maju

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Bangunan kuno peninggalan kolonial Belanda banyak dijumpai di Bondowoso. Hal ini karena pada abad ke-18 sampai 19 Bondowoso menjadi pusat kota bagi Belanda. Kini, berbagai bangunan itu memiliki nilai-nilai historis yang tinggi. Bangunan tersebut perlu dilestarikan.

Dalam literatur sejarah, pada abad 18, Belanda membangun kompleks kantor pemerintahan di Bondowoso. Kemudian, pada abad 19, Belanda mengembangkan usaha di sektor perkebunan. Tak pelak, di wilayah Ijen dan Sumberwringin sering dijumpai kantor perkebunan peninggalan Belanda.

Selain di Ijen dan Sumberwringin, beberapa bangunan di kawasan kota pun banyak dijumpai. Seperti kantor Dinas PU, kantor dinas bupati, maupun Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Bondowoso.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tetapi, baru satu saja bangunan kuno yang ditetapkan menjadi cagar budaya. Yakni Stasiun Bondowoso, yang kini sekaligus menjadi Museum Kereta Api (KA). Identik dengan Gerbong Maut.

Stasiun Bondowoso sekaligus museum itu sekarang kondisinya sedang tak baik-baik saja. Perawatan dan pemeliharaan masih tetap dilakukan. Namun, kondisi pandemi membuat tingkat kunjungan menurun. “Pandemi ini kunjungan wisatawan sepi sekali,” ujar Sugeng Adi, Kepala Stasiun (KS) Bondowoso.

Sementara itu, di sisi lain, gedung Lapas Bondowoso adalah salah satu bangunan peninggalan zaman Belanda. Tepat berada di kawasan alun-alun, bangunan lapas memang seperti kecil tampak luarnya. Namun, di dalam ada sejumlah kamar blok warga binaan yang masih dalam nuansa kolonial belanda.

“Kalau di Lapas Bondowoso ada kamar atau sel bagi para narapidana yang dulunya awal mula kisah Gerbong Maut. Yaitu kamar nomor 12. Para tawanan yang dimasukan ke Gerbong Maut itu, dulunya berasal dari kamar 12 itu,” ungkap Mamatrono, Kepala Seksi (Kasi) Pembinaan dan Pendidikan (Binadik) Lapas Bondowoso.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Bangunan kuno peninggalan kolonial Belanda banyak dijumpai di Bondowoso. Hal ini karena pada abad ke-18 sampai 19 Bondowoso menjadi pusat kota bagi Belanda. Kini, berbagai bangunan itu memiliki nilai-nilai historis yang tinggi. Bangunan tersebut perlu dilestarikan.

Dalam literatur sejarah, pada abad 18, Belanda membangun kompleks kantor pemerintahan di Bondowoso. Kemudian, pada abad 19, Belanda mengembangkan usaha di sektor perkebunan. Tak pelak, di wilayah Ijen dan Sumberwringin sering dijumpai kantor perkebunan peninggalan Belanda.

Selain di Ijen dan Sumberwringin, beberapa bangunan di kawasan kota pun banyak dijumpai. Seperti kantor Dinas PU, kantor dinas bupati, maupun Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Bondowoso.

Tetapi, baru satu saja bangunan kuno yang ditetapkan menjadi cagar budaya. Yakni Stasiun Bondowoso, yang kini sekaligus menjadi Museum Kereta Api (KA). Identik dengan Gerbong Maut.

Stasiun Bondowoso sekaligus museum itu sekarang kondisinya sedang tak baik-baik saja. Perawatan dan pemeliharaan masih tetap dilakukan. Namun, kondisi pandemi membuat tingkat kunjungan menurun. “Pandemi ini kunjungan wisatawan sepi sekali,” ujar Sugeng Adi, Kepala Stasiun (KS) Bondowoso.

Sementara itu, di sisi lain, gedung Lapas Bondowoso adalah salah satu bangunan peninggalan zaman Belanda. Tepat berada di kawasan alun-alun, bangunan lapas memang seperti kecil tampak luarnya. Namun, di dalam ada sejumlah kamar blok warga binaan yang masih dalam nuansa kolonial belanda.

“Kalau di Lapas Bondowoso ada kamar atau sel bagi para narapidana yang dulunya awal mula kisah Gerbong Maut. Yaitu kamar nomor 12. Para tawanan yang dimasukan ke Gerbong Maut itu, dulunya berasal dari kamar 12 itu,” ungkap Mamatrono, Kepala Seksi (Kasi) Pembinaan dan Pendidikan (Binadik) Lapas Bondowoso.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Bangunan kuno peninggalan kolonial Belanda banyak dijumpai di Bondowoso. Hal ini karena pada abad ke-18 sampai 19 Bondowoso menjadi pusat kota bagi Belanda. Kini, berbagai bangunan itu memiliki nilai-nilai historis yang tinggi. Bangunan tersebut perlu dilestarikan.

Dalam literatur sejarah, pada abad 18, Belanda membangun kompleks kantor pemerintahan di Bondowoso. Kemudian, pada abad 19, Belanda mengembangkan usaha di sektor perkebunan. Tak pelak, di wilayah Ijen dan Sumberwringin sering dijumpai kantor perkebunan peninggalan Belanda.

Selain di Ijen dan Sumberwringin, beberapa bangunan di kawasan kota pun banyak dijumpai. Seperti kantor Dinas PU, kantor dinas bupati, maupun Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Bondowoso.

Tetapi, baru satu saja bangunan kuno yang ditetapkan menjadi cagar budaya. Yakni Stasiun Bondowoso, yang kini sekaligus menjadi Museum Kereta Api (KA). Identik dengan Gerbong Maut.

Stasiun Bondowoso sekaligus museum itu sekarang kondisinya sedang tak baik-baik saja. Perawatan dan pemeliharaan masih tetap dilakukan. Namun, kondisi pandemi membuat tingkat kunjungan menurun. “Pandemi ini kunjungan wisatawan sepi sekali,” ujar Sugeng Adi, Kepala Stasiun (KS) Bondowoso.

Sementara itu, di sisi lain, gedung Lapas Bondowoso adalah salah satu bangunan peninggalan zaman Belanda. Tepat berada di kawasan alun-alun, bangunan lapas memang seperti kecil tampak luarnya. Namun, di dalam ada sejumlah kamar blok warga binaan yang masih dalam nuansa kolonial belanda.

“Kalau di Lapas Bondowoso ada kamar atau sel bagi para narapidana yang dulunya awal mula kisah Gerbong Maut. Yaitu kamar nomor 12. Para tawanan yang dimasukan ke Gerbong Maut itu, dulunya berasal dari kamar 12 itu,” ungkap Mamatrono, Kepala Seksi (Kasi) Pembinaan dan Pendidikan (Binadik) Lapas Bondowoso.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/