alexametrics
30.5 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Terimbas Refocusing, Pengadaan Buku Perpusda Nihil

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID  – Perpustakaan disebut sebagai jantung ilmu pengetahuan. Karenanya, perpustakaan daerah (perpusda) perlu memiliki koleksi buku-buku baru untuk meningkatkan tingkat literasi masyarakatnya. Untuk mendapatkan buku anyar itu, biasanya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bondowoso selalu melakukan pengadaan tiap tahun. Bagaimana dengan tahun ini?

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Ijen, kegiatan pengadaan buku baru itu memang rutin dilakukan oleh Dinas Perpustakaan. Hanya, akibat adanya refocusing anggaran untuk penanganan pandemi, tahun lalu dinas hanya menambah separuh jumlah koleksinya. Tahun ini dipastikan tidak ada. Akibat refocusing, penambahan koleksi buku jadi nihil.

Kabid Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bondowoso Achmad Syaihu mengatakan, biasanya setiap tahun pihaknya rutin melakukan pengadaan buku. Jumlahnya bisa mencapai 2.000 eksemplar dalam sekali pengadaan. “Kurang lebih 700 judul buku,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun, karena adanya refocusing anggaran sejak tahun 2020 lalu, pihaknya harus mengurangi jumlah pengadaan buku. Tahun lalu, hanya bisa mengadakan sebanyak 300 judul buku saja. “Lebih dari separuh ya. Pastinya karena pengaruh refocusing. Kan memang semua di-refocusing,” ucapnya.

Bahkan, menurut Syaihu, pengurangan jumlah buku baru tidak hanya terjadi di perpusda. Di berbagai desa juga terpengaruh. Biasanya, setiap tahun ada dua desa yang terpilih akan dihibahkan sebanyak seribu buku di masing-masing desa itu. Namun, tahun ini tidak ada.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID  – Perpustakaan disebut sebagai jantung ilmu pengetahuan. Karenanya, perpustakaan daerah (perpusda) perlu memiliki koleksi buku-buku baru untuk meningkatkan tingkat literasi masyarakatnya. Untuk mendapatkan buku anyar itu, biasanya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bondowoso selalu melakukan pengadaan tiap tahun. Bagaimana dengan tahun ini?

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Ijen, kegiatan pengadaan buku baru itu memang rutin dilakukan oleh Dinas Perpustakaan. Hanya, akibat adanya refocusing anggaran untuk penanganan pandemi, tahun lalu dinas hanya menambah separuh jumlah koleksinya. Tahun ini dipastikan tidak ada. Akibat refocusing, penambahan koleksi buku jadi nihil.

Kabid Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bondowoso Achmad Syaihu mengatakan, biasanya setiap tahun pihaknya rutin melakukan pengadaan buku. Jumlahnya bisa mencapai 2.000 eksemplar dalam sekali pengadaan. “Kurang lebih 700 judul buku,” ungkapnya.

Namun, karena adanya refocusing anggaran sejak tahun 2020 lalu, pihaknya harus mengurangi jumlah pengadaan buku. Tahun lalu, hanya bisa mengadakan sebanyak 300 judul buku saja. “Lebih dari separuh ya. Pastinya karena pengaruh refocusing. Kan memang semua di-refocusing,” ucapnya.

Bahkan, menurut Syaihu, pengurangan jumlah buku baru tidak hanya terjadi di perpusda. Di berbagai desa juga terpengaruh. Biasanya, setiap tahun ada dua desa yang terpilih akan dihibahkan sebanyak seribu buku di masing-masing desa itu. Namun, tahun ini tidak ada.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID  – Perpustakaan disebut sebagai jantung ilmu pengetahuan. Karenanya, perpustakaan daerah (perpusda) perlu memiliki koleksi buku-buku baru untuk meningkatkan tingkat literasi masyarakatnya. Untuk mendapatkan buku anyar itu, biasanya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bondowoso selalu melakukan pengadaan tiap tahun. Bagaimana dengan tahun ini?

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Ijen, kegiatan pengadaan buku baru itu memang rutin dilakukan oleh Dinas Perpustakaan. Hanya, akibat adanya refocusing anggaran untuk penanganan pandemi, tahun lalu dinas hanya menambah separuh jumlah koleksinya. Tahun ini dipastikan tidak ada. Akibat refocusing, penambahan koleksi buku jadi nihil.

Kabid Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bondowoso Achmad Syaihu mengatakan, biasanya setiap tahun pihaknya rutin melakukan pengadaan buku. Jumlahnya bisa mencapai 2.000 eksemplar dalam sekali pengadaan. “Kurang lebih 700 judul buku,” ungkapnya.

Namun, karena adanya refocusing anggaran sejak tahun 2020 lalu, pihaknya harus mengurangi jumlah pengadaan buku. Tahun lalu, hanya bisa mengadakan sebanyak 300 judul buku saja. “Lebih dari separuh ya. Pastinya karena pengaruh refocusing. Kan memang semua di-refocusing,” ucapnya.

Bahkan, menurut Syaihu, pengurangan jumlah buku baru tidak hanya terjadi di perpusda. Di berbagai desa juga terpengaruh. Biasanya, setiap tahun ada dua desa yang terpilih akan dihibahkan sebanyak seribu buku di masing-masing desa itu. Namun, tahun ini tidak ada.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/