Kartini: Pejuang Poligami, Menyerah pada Tradisi

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pro dan kontra terjadi ketika Presiden RI pertama Ir Soekarno menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional, melalui surat Nomor 108 Tahun 1964 tertanggal 2 Mei 1964. Kontra, karena Kartini tidak bertempur di medan juang. Sedangkan Soekarno memilih alasan karena Kartini meninggalkan tulisan berupa surat-surat yang diterbitkan yang dibukukan oleh Abendanon Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Diterjemahkan Armijn Pane terbitan Balai Pustaka. Sangat terkenal di Indonesia. Namun sayang, tak banyak perpustakaan sekolah yang memiliki koleksi buku ini.

Mengapa Kartini menulis? Karena ia menjalani pingitan. Budaya pingitan berlaku keluarga bangsawan Jawa bahwa anak-anak putri tidak diperbolehkan keluar rumah sampai ada laki-laki yang meminang. Anak-anak gadis sejak usia 12 tahun harus menjalani pingitan. Saat itu, ia sedang bersekolah. Luluh lantak hati sang putri, ia harus berpamitan dengan teman-teman sekolahnya dan guru-gurunya.

Memohon kepada sang ayah agar tidak memberlakukan pingitan, sang ayah berkata tegas dan lirih “tidak”. Beruntung, sang ayah berpandangan modern, Kartini masih diperbolehkan membaca koran dan majalah terbitan Belanda. Awal menjalani pingitan bisa dibayangkan sedihnya Kartini hanya melihat tembok-tembok besar, kokoh, tinggi mengelilingi tempat tinggalnya. Tembok itu bagaikan penjara yang sulit ditembus celah-celahnya meski hanya untuk mengintip keluar.

Bacaan berbahasa Belanda memengaruhi pikiran Kartini. Ia sibuk membaca dan menulis. Kemudian, muncullah niat untuk mencari sahabat pena dari Negeri Kincir Angin. Iklan mencari sahabat pena disambut oleh Estelle Zehandelaar, seorang aktivis, lima tahun lebih tua darinya. Ia memanggilnya Stella. Terjadilah korespondensi dua gadis berpikiran modern. Kepada Stella, Kartini berkirim surat. Ia menceritakan banyak hal apa yang dirasakan, dan dilihat dalam kehidupan di lingkungannya, tentang tradisi, kebebasan, kemiskinan, kemandirian.

Kebebasan dan kemandirian yang dicita-citakan Kartini adalah tak ada paksaan kawin bagi para gadis-gadis Jawa seperti surat yang ditulis kepada Stella, “Saya berkehendak bebas supaya saya boleh dapat berdiri sendiri, jangan bergantung kepada orang lain, supaya jangan sekali-kali dipaksa kawin.”

Ketika Kartini berusia dua puluh empat tahun. Bupati Rembang melamar. Ia senang, kaget, sekaligus bersedih. Senangnya, usia yang tidak muda lagi, ukuran masyarakat gadis Jawa termasuk perawan tua, masih ada yang mau melamar. Ia memiliki kebiasaan tertawa menampakkan giginya dan pribadi periang. Ia kaget, ternyata sang bupati seorang duda karena istri utama meninggal dan memiliki 3 selir.

Ketika 2018 saya berkunjung ke Museum Kartini di Rembang, nampak jelas di bagian belakang ada bilik khusus untuk para selir. Ketika sang bupati melamar, ia menceritakan bila mendiang istrinya sangat mengagumi tulisan Kartini di majalah Belanda. Sedih, sebagai perempuan yang sering menulis tentang penindasan perempuan Jawa pada masanya (Kartini hidup masa Politik Etis), kini ia disibukkan mengolah hati untuk menerima kehidupan poligami yang sudah biasa dilihat. Perempuan harus kawin. Menerima atau menolak lamaran, itu pilihan yang sama-sama sulit. Menerima berarti ia mengingkari cita-cita dan perjuangannya yang selama itu gencar ia tuliskan dalam artikel di majalah Belanda maupun surat-surat yang dikirim ke sahabat-sahabatnya berkulit putih. Menolak, berarti ia egois, karena keluarga sangat menginginkan Kartini menikah. Keluarga tak perduli dengan perjuangannya melalui tulisannya.