alexametrics
27.5 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Sampai Kapan Kelangkaan Minyak Goreng di Toko Modern?

Kelangkaan minyak goreng subsidi di Kabupaten Bondowoso masih menjadi momok tersendiri bagi masyarakat. Pasalnya, di toko modern hampir setiap hari stok minyak goreng selalu habis. Sejumlah warga mengeluhkan hal itu, karena baru di toko modern harga subsidi bisa didapat. Sementara di toko kelontong harganya masih di atas harga yang ditetapkan pemerintah.

Mobile_AP_Rectangle 1

Dirinya menceritakan, ketika ke toko berjaringan memang ada minyak goreng, tapi harganya cukup mahal. Yakni mencapai Rp 34.000 per liternya. “Tadi saya ke sana, tapi tidak tau jenis minyak apa. Pokok bukan kayak minyak biasa itu,” imbuhnya.

Karena hal itu, pihaknya kemudian terpaksa membeli minyak di toko kelontong, meskipun harganya cukup mahal dan di atas HET yang ditetapkan oleh pemerintah, untuk kebutuhan sehari harinya. “Daripada tidak masak, ya terpaksa beli minyak di toko biasa,” ujarnya menggunakan bahasa Madura.

Sementara itu Corporate Communication Alfamart Cabang Jember Mohammad Sofi’i mengaku pihaknya sangat bergantung pada pasokan dari penyuplai. Kebetulan antara suplai dan permintaan tidak sebanding sehingga tidak mencukupi. “Bukan hanya Indomaret dan Alfamart, kita setelah pemberlakuan itu sangat bergantung pada penyuplai,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dihubungi terpisah, Kepala UPT Pengawasan dan Perlindungan Konsumen Area Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Situbondo, Lumajang dan Probolinggo Sunaryo mengungkapkan fenomena tersebut hampir merata di Indonesia. Sehingga pemerintah pusat tengah memproses sebuah kebijakan. “Kebijakan itu kan perlu waktu. Karena ada perubahan harga,” bebernya.

Dia pun tak bisa menjelaskan penyebab kelangkaan minyak goreng. Padahal produksi minyak goreng di Jawa Timur tetap berjalan normal seperti biasa. “Kalau penimbunan nggak ada,” pungkasnya. (ham/lin)

- Advertisement -

Dirinya menceritakan, ketika ke toko berjaringan memang ada minyak goreng, tapi harganya cukup mahal. Yakni mencapai Rp 34.000 per liternya. “Tadi saya ke sana, tapi tidak tau jenis minyak apa. Pokok bukan kayak minyak biasa itu,” imbuhnya.

Karena hal itu, pihaknya kemudian terpaksa membeli minyak di toko kelontong, meskipun harganya cukup mahal dan di atas HET yang ditetapkan oleh pemerintah, untuk kebutuhan sehari harinya. “Daripada tidak masak, ya terpaksa beli minyak di toko biasa,” ujarnya menggunakan bahasa Madura.

Sementara itu Corporate Communication Alfamart Cabang Jember Mohammad Sofi’i mengaku pihaknya sangat bergantung pada pasokan dari penyuplai. Kebetulan antara suplai dan permintaan tidak sebanding sehingga tidak mencukupi. “Bukan hanya Indomaret dan Alfamart, kita setelah pemberlakuan itu sangat bergantung pada penyuplai,” jelasnya.

Dihubungi terpisah, Kepala UPT Pengawasan dan Perlindungan Konsumen Area Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Situbondo, Lumajang dan Probolinggo Sunaryo mengungkapkan fenomena tersebut hampir merata di Indonesia. Sehingga pemerintah pusat tengah memproses sebuah kebijakan. “Kebijakan itu kan perlu waktu. Karena ada perubahan harga,” bebernya.

Dia pun tak bisa menjelaskan penyebab kelangkaan minyak goreng. Padahal produksi minyak goreng di Jawa Timur tetap berjalan normal seperti biasa. “Kalau penimbunan nggak ada,” pungkasnya. (ham/lin)

Dirinya menceritakan, ketika ke toko berjaringan memang ada minyak goreng, tapi harganya cukup mahal. Yakni mencapai Rp 34.000 per liternya. “Tadi saya ke sana, tapi tidak tau jenis minyak apa. Pokok bukan kayak minyak biasa itu,” imbuhnya.

Karena hal itu, pihaknya kemudian terpaksa membeli minyak di toko kelontong, meskipun harganya cukup mahal dan di atas HET yang ditetapkan oleh pemerintah, untuk kebutuhan sehari harinya. “Daripada tidak masak, ya terpaksa beli minyak di toko biasa,” ujarnya menggunakan bahasa Madura.

Sementara itu Corporate Communication Alfamart Cabang Jember Mohammad Sofi’i mengaku pihaknya sangat bergantung pada pasokan dari penyuplai. Kebetulan antara suplai dan permintaan tidak sebanding sehingga tidak mencukupi. “Bukan hanya Indomaret dan Alfamart, kita setelah pemberlakuan itu sangat bergantung pada penyuplai,” jelasnya.

Dihubungi terpisah, Kepala UPT Pengawasan dan Perlindungan Konsumen Area Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Situbondo, Lumajang dan Probolinggo Sunaryo mengungkapkan fenomena tersebut hampir merata di Indonesia. Sehingga pemerintah pusat tengah memproses sebuah kebijakan. “Kebijakan itu kan perlu waktu. Karena ada perubahan harga,” bebernya.

Dia pun tak bisa menjelaskan penyebab kelangkaan minyak goreng. Padahal produksi minyak goreng di Jawa Timur tetap berjalan normal seperti biasa. “Kalau penimbunan nggak ada,” pungkasnya. (ham/lin)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/