alexametrics
23.4 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Musim Hujan Waspadai DBD dan Cikungunya, Warga Mulai Minta Fogging

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kasus demam berdarah dengue (DBD) serta penyakit cikungunya masih ditemukan, beberapa waktu lalu. Pada akhir tahun 2021 lalu, di beberapa wilayah muncul penyakit cikungunya di masyarakat. Bahkan, hal tersebut diperkirakan tidak hanya terjadi di Bumi Ki Ronggo, tapi hampir di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur.

Terkait hal itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso mengingatkan agar masyarakat waspada terhadap penyakit cikungunya dan demam berdarah dengue (DBD), khususnya saat musim hujan seperti saat ini. “Tak hanya di Bondowoso, cikungunya di tahun 2022 ini memang merebak. Mulai ada kasus,” ungkap Goek Fitri Purwandari, Subkoordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Bondowoso.

Goek menerangkan, untuk penyakit cikungunya tak ada data orang yang terjangkit. Sebab, biasanya ketika ada kasus akan merebak dalam satu wilayah. Namun, permintaan fogging yang dianggap cukup tinggi pada beberapa waktu terakhir. Dengan alasan ditemukan kasus dengan masyarakat terjangkit cikungunya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ia menyebutkan beberapa wilayah yang mulai meminta untuk dilakukan fogging karena khawatir terjangkit cikungunya. Di antaranya Desa Cangkring Kecamatan Prajekan, Desa Sukowiryo Kecamatan Bondowoso, Desa Taman Krocok, Desa Gentong, Desa Mandiro dan Tanggul Angin di Kecamatan Tegalampel. Serta Desa Kasemek dan Pelalangan.

Gejalanya sendiri, kata Goek, seperti badan nyeri hingga tulang seperti tak berdaya, demam, serta ditemukan bintik-bintik merah. “Cikungunya tidak kita bedakan trombositnya di bawah 100 atau tidak,” katanya.

Berbeda dengan Cikungunya, kata Goek, kasus DBD di Bondowoso sepanjang 2021 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Yakni 153 kasus, empat di antaranya meninggal dunia. Sementara, pada tahun sebelumnya jumlah kasus mencapai 278 lebih. Sementara pada tahun ini, hingga 18 Januari sudah tercatat 13 kasus DBD dengan nol kasus meninggal dunia.

Kendati mengalami penurunan, pihaknya meminta masyarakat untuk terus melakukan perilaku hidup bersih dan sehat. Termasuk melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M (menguras, menutup, dan mengubur). “Tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti, nyamuk yang elite.  Dia tak mau hidup atau menelurkan telurnya dalam air kotor,” ujarnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kasus demam berdarah dengue (DBD) serta penyakit cikungunya masih ditemukan, beberapa waktu lalu. Pada akhir tahun 2021 lalu, di beberapa wilayah muncul penyakit cikungunya di masyarakat. Bahkan, hal tersebut diperkirakan tidak hanya terjadi di Bumi Ki Ronggo, tapi hampir di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur.

Terkait hal itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso mengingatkan agar masyarakat waspada terhadap penyakit cikungunya dan demam berdarah dengue (DBD), khususnya saat musim hujan seperti saat ini. “Tak hanya di Bondowoso, cikungunya di tahun 2022 ini memang merebak. Mulai ada kasus,” ungkap Goek Fitri Purwandari, Subkoordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Bondowoso.

Goek menerangkan, untuk penyakit cikungunya tak ada data orang yang terjangkit. Sebab, biasanya ketika ada kasus akan merebak dalam satu wilayah. Namun, permintaan fogging yang dianggap cukup tinggi pada beberapa waktu terakhir. Dengan alasan ditemukan kasus dengan masyarakat terjangkit cikungunya.

Ia menyebutkan beberapa wilayah yang mulai meminta untuk dilakukan fogging karena khawatir terjangkit cikungunya. Di antaranya Desa Cangkring Kecamatan Prajekan, Desa Sukowiryo Kecamatan Bondowoso, Desa Taman Krocok, Desa Gentong, Desa Mandiro dan Tanggul Angin di Kecamatan Tegalampel. Serta Desa Kasemek dan Pelalangan.

Gejalanya sendiri, kata Goek, seperti badan nyeri hingga tulang seperti tak berdaya, demam, serta ditemukan bintik-bintik merah. “Cikungunya tidak kita bedakan trombositnya di bawah 100 atau tidak,” katanya.

Berbeda dengan Cikungunya, kata Goek, kasus DBD di Bondowoso sepanjang 2021 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Yakni 153 kasus, empat di antaranya meninggal dunia. Sementara, pada tahun sebelumnya jumlah kasus mencapai 278 lebih. Sementara pada tahun ini, hingga 18 Januari sudah tercatat 13 kasus DBD dengan nol kasus meninggal dunia.

Kendati mengalami penurunan, pihaknya meminta masyarakat untuk terus melakukan perilaku hidup bersih dan sehat. Termasuk melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M (menguras, menutup, dan mengubur). “Tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti, nyamuk yang elite.  Dia tak mau hidup atau menelurkan telurnya dalam air kotor,” ujarnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kasus demam berdarah dengue (DBD) serta penyakit cikungunya masih ditemukan, beberapa waktu lalu. Pada akhir tahun 2021 lalu, di beberapa wilayah muncul penyakit cikungunya di masyarakat. Bahkan, hal tersebut diperkirakan tidak hanya terjadi di Bumi Ki Ronggo, tapi hampir di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur.

Terkait hal itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso mengingatkan agar masyarakat waspada terhadap penyakit cikungunya dan demam berdarah dengue (DBD), khususnya saat musim hujan seperti saat ini. “Tak hanya di Bondowoso, cikungunya di tahun 2022 ini memang merebak. Mulai ada kasus,” ungkap Goek Fitri Purwandari, Subkoordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Bondowoso.

Goek menerangkan, untuk penyakit cikungunya tak ada data orang yang terjangkit. Sebab, biasanya ketika ada kasus akan merebak dalam satu wilayah. Namun, permintaan fogging yang dianggap cukup tinggi pada beberapa waktu terakhir. Dengan alasan ditemukan kasus dengan masyarakat terjangkit cikungunya.

Ia menyebutkan beberapa wilayah yang mulai meminta untuk dilakukan fogging karena khawatir terjangkit cikungunya. Di antaranya Desa Cangkring Kecamatan Prajekan, Desa Sukowiryo Kecamatan Bondowoso, Desa Taman Krocok, Desa Gentong, Desa Mandiro dan Tanggul Angin di Kecamatan Tegalampel. Serta Desa Kasemek dan Pelalangan.

Gejalanya sendiri, kata Goek, seperti badan nyeri hingga tulang seperti tak berdaya, demam, serta ditemukan bintik-bintik merah. “Cikungunya tidak kita bedakan trombositnya di bawah 100 atau tidak,” katanya.

Berbeda dengan Cikungunya, kata Goek, kasus DBD di Bondowoso sepanjang 2021 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Yakni 153 kasus, empat di antaranya meninggal dunia. Sementara, pada tahun sebelumnya jumlah kasus mencapai 278 lebih. Sementara pada tahun ini, hingga 18 Januari sudah tercatat 13 kasus DBD dengan nol kasus meninggal dunia.

Kendati mengalami penurunan, pihaknya meminta masyarakat untuk terus melakukan perilaku hidup bersih dan sehat. Termasuk melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M (menguras, menutup, dan mengubur). “Tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti, nyamuk yang elite.  Dia tak mau hidup atau menelurkan telurnya dalam air kotor,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/