alexametrics
23.5 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Perhutani Tunggu Tekad Pemda

Terkait Rencana Pembukaan Lahan di Ijen

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Perhutani KPH Bondowoso memberikan sinyal positif bagi petani di daerah Ijen untuk bisa kembali menggarap pertanian. Namun, untuk membuka kembali lahan, Perhutani menunggu tekad Pemda Bondowoso. Sebab, pemda harus turut serta bertanggung jawab dan mengawal agar fungsi hutan kembali sebagaimana semestinya.

Seperti diketahui, sejak terjadi banjir bandang berturut-turut, Perhutani menutup semua aktivitas pertanian yang memakai lahan Perhutani di wilayah Ijen. Administrator Perhutani Bondowoso Andi Adrian mengatakan, terjadinya banjir bandang disebabkan tegakan yang berada di atas tidak berjalan dengan semestinya. “Lihat sekarang di atas itu lahannya ditanami kentang dan kubis. Ini sudah alih fungsi lahan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, di atas ada dua aliran sungai besar yang kemudian menjadi satu. Banjir bandang tersebut juga kian parah saat aliran sungai itu jadi satu menjadi penyempitan. “Seperti botol, seharusnya lebar jadi menyempit, sehingga saat air datang akan loncat ke permukiman warga,” terangnya. Oleh sebab itu, tak salah jika kampung baru di Kecamatan Ijen menjadi yang terdampak dari banjir bandang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Terkait dengan kondisi hutan, kata dia, tentu bagaimana membuat perlindungan di bagian atas dataran Ijen yang optimal. Namun, di sisi lain juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk bisa bercocok tanam. “Di Ijen sejengkal tanah pribadi sebenarnya itu tidak ada. Semua yang digarap adalah tanah negara, mulai dari perkebunan, Perhutani, hingga BKSDA,” jelasnya.

Menurutnya, agroforestri pemanfaatan lahan secara optimal dan lestari, dengan cara mengombinasikan kegiatan kehutanan dan pertanian pada unit pengelolaan lahan yang sama dengan memperhatikan kondisi lingkungan fisik, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Berdasarkan  Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor 81 tentang Kerja Sama Penggunaan dan Pemanfaatan Kawasan Hutan untuk Mendukung Ketahanan Pangan, 51 persen konservasi dan 49 persen bisa dimanfaatkan tanaman pertanian.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Perhutani KPH Bondowoso memberikan sinyal positif bagi petani di daerah Ijen untuk bisa kembali menggarap pertanian. Namun, untuk membuka kembali lahan, Perhutani menunggu tekad Pemda Bondowoso. Sebab, pemda harus turut serta bertanggung jawab dan mengawal agar fungsi hutan kembali sebagaimana semestinya.

Seperti diketahui, sejak terjadi banjir bandang berturut-turut, Perhutani menutup semua aktivitas pertanian yang memakai lahan Perhutani di wilayah Ijen. Administrator Perhutani Bondowoso Andi Adrian mengatakan, terjadinya banjir bandang disebabkan tegakan yang berada di atas tidak berjalan dengan semestinya. “Lihat sekarang di atas itu lahannya ditanami kentang dan kubis. Ini sudah alih fungsi lahan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, di atas ada dua aliran sungai besar yang kemudian menjadi satu. Banjir bandang tersebut juga kian parah saat aliran sungai itu jadi satu menjadi penyempitan. “Seperti botol, seharusnya lebar jadi menyempit, sehingga saat air datang akan loncat ke permukiman warga,” terangnya. Oleh sebab itu, tak salah jika kampung baru di Kecamatan Ijen menjadi yang terdampak dari banjir bandang.

Terkait dengan kondisi hutan, kata dia, tentu bagaimana membuat perlindungan di bagian atas dataran Ijen yang optimal. Namun, di sisi lain juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk bisa bercocok tanam. “Di Ijen sejengkal tanah pribadi sebenarnya itu tidak ada. Semua yang digarap adalah tanah negara, mulai dari perkebunan, Perhutani, hingga BKSDA,” jelasnya.

Menurutnya, agroforestri pemanfaatan lahan secara optimal dan lestari, dengan cara mengombinasikan kegiatan kehutanan dan pertanian pada unit pengelolaan lahan yang sama dengan memperhatikan kondisi lingkungan fisik, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Berdasarkan  Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor 81 tentang Kerja Sama Penggunaan dan Pemanfaatan Kawasan Hutan untuk Mendukung Ketahanan Pangan, 51 persen konservasi dan 49 persen bisa dimanfaatkan tanaman pertanian.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Perhutani KPH Bondowoso memberikan sinyal positif bagi petani di daerah Ijen untuk bisa kembali menggarap pertanian. Namun, untuk membuka kembali lahan, Perhutani menunggu tekad Pemda Bondowoso. Sebab, pemda harus turut serta bertanggung jawab dan mengawal agar fungsi hutan kembali sebagaimana semestinya.

Seperti diketahui, sejak terjadi banjir bandang berturut-turut, Perhutani menutup semua aktivitas pertanian yang memakai lahan Perhutani di wilayah Ijen. Administrator Perhutani Bondowoso Andi Adrian mengatakan, terjadinya banjir bandang disebabkan tegakan yang berada di atas tidak berjalan dengan semestinya. “Lihat sekarang di atas itu lahannya ditanami kentang dan kubis. Ini sudah alih fungsi lahan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, di atas ada dua aliran sungai besar yang kemudian menjadi satu. Banjir bandang tersebut juga kian parah saat aliran sungai itu jadi satu menjadi penyempitan. “Seperti botol, seharusnya lebar jadi menyempit, sehingga saat air datang akan loncat ke permukiman warga,” terangnya. Oleh sebab itu, tak salah jika kampung baru di Kecamatan Ijen menjadi yang terdampak dari banjir bandang.

Terkait dengan kondisi hutan, kata dia, tentu bagaimana membuat perlindungan di bagian atas dataran Ijen yang optimal. Namun, di sisi lain juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk bisa bercocok tanam. “Di Ijen sejengkal tanah pribadi sebenarnya itu tidak ada. Semua yang digarap adalah tanah negara, mulai dari perkebunan, Perhutani, hingga BKSDA,” jelasnya.

Menurutnya, agroforestri pemanfaatan lahan secara optimal dan lestari, dengan cara mengombinasikan kegiatan kehutanan dan pertanian pada unit pengelolaan lahan yang sama dengan memperhatikan kondisi lingkungan fisik, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Berdasarkan  Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor 81 tentang Kerja Sama Penggunaan dan Pemanfaatan Kawasan Hutan untuk Mendukung Ketahanan Pangan, 51 persen konservasi dan 49 persen bisa dimanfaatkan tanaman pertanian.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/