alexametrics
23 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Belum Punya Kendaraan Operasional ODGJ

Terpaksa Harus Gunakan Bentor hingga Mobil Pribadi

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) masih sering dijumpai di Bondowoso. Mereka tidak hanya tersebar di wilayah kota, tapi juga di wilayah pelosok. Mirisnya, hingga saat ini belum ada kendaraan operasional dalam menjemput mereka. Akibatnya, tidak jarang para ODGJ harus dibawa menggunakan bentor bahkan mobil pribadi.

Doping Kerja, Kasun Nguter Nyabu

Muzayanah, pendamping ODGJ Bondowoso, menyampaikan, untuk melakukan penanganan terhadap mereka memang membutuhkan ketelatenan. Jika tidak, maka bisa saja orang tersebut akan mengamuk atau melakukan hal-hal lain yang tidak terduga. Tapi, usaha mereka tampaknya harus terhalang kendaraan operasional serta tempat penampungan khusus. “Tidak jarang juga harus pakai mobil pribadi saya,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hal itu tentu menjadi kesulitan tersendiri ketika para pendamping akan menjemput ODGJ. Seperti yang terjadi di Kecamatan Curahdami, beberapa waktu lalu. Karena tidak ada kendaraan, sementara yang bersangkutan harus dirujuk ke rumah sakit, akhirnya dia dibawa menggunakan bentor milik warga sekitar. “Itu sering dilakukan. Kami sudah tidak memikirkan nasib kami, apakah dipukul dan lainnya,” imbuhnya.

Selain itu, perempuan yang akrab disapa Moza itu juga menyampaikan, selain belum memiliki kendaraan operasional, mereka juga tidak memiliki selter untuk menampung para ODGJ. Padahal sudah tidak jarang pihaknya membawa surat permohonan pembuatan selter dari pemprov untuk Pemda Bondowoso. Mengingat jumlah ODGJ di Jatim semakin hari semakin membeludak. “Akibatnya mungkin terjadi pembuangan, dari satu daerah ke daerah lain,” imbuhnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) masih sering dijumpai di Bondowoso. Mereka tidak hanya tersebar di wilayah kota, tapi juga di wilayah pelosok. Mirisnya, hingga saat ini belum ada kendaraan operasional dalam menjemput mereka. Akibatnya, tidak jarang para ODGJ harus dibawa menggunakan bentor bahkan mobil pribadi.

Doping Kerja, Kasun Nguter Nyabu

Muzayanah, pendamping ODGJ Bondowoso, menyampaikan, untuk melakukan penanganan terhadap mereka memang membutuhkan ketelatenan. Jika tidak, maka bisa saja orang tersebut akan mengamuk atau melakukan hal-hal lain yang tidak terduga. Tapi, usaha mereka tampaknya harus terhalang kendaraan operasional serta tempat penampungan khusus. “Tidak jarang juga harus pakai mobil pribadi saya,” katanya.

Hal itu tentu menjadi kesulitan tersendiri ketika para pendamping akan menjemput ODGJ. Seperti yang terjadi di Kecamatan Curahdami, beberapa waktu lalu. Karena tidak ada kendaraan, sementara yang bersangkutan harus dirujuk ke rumah sakit, akhirnya dia dibawa menggunakan bentor milik warga sekitar. “Itu sering dilakukan. Kami sudah tidak memikirkan nasib kami, apakah dipukul dan lainnya,” imbuhnya.

Selain itu, perempuan yang akrab disapa Moza itu juga menyampaikan, selain belum memiliki kendaraan operasional, mereka juga tidak memiliki selter untuk menampung para ODGJ. Padahal sudah tidak jarang pihaknya membawa surat permohonan pembuatan selter dari pemprov untuk Pemda Bondowoso. Mengingat jumlah ODGJ di Jatim semakin hari semakin membeludak. “Akibatnya mungkin terjadi pembuangan, dari satu daerah ke daerah lain,” imbuhnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) masih sering dijumpai di Bondowoso. Mereka tidak hanya tersebar di wilayah kota, tapi juga di wilayah pelosok. Mirisnya, hingga saat ini belum ada kendaraan operasional dalam menjemput mereka. Akibatnya, tidak jarang para ODGJ harus dibawa menggunakan bentor bahkan mobil pribadi.

Doping Kerja, Kasun Nguter Nyabu

Muzayanah, pendamping ODGJ Bondowoso, menyampaikan, untuk melakukan penanganan terhadap mereka memang membutuhkan ketelatenan. Jika tidak, maka bisa saja orang tersebut akan mengamuk atau melakukan hal-hal lain yang tidak terduga. Tapi, usaha mereka tampaknya harus terhalang kendaraan operasional serta tempat penampungan khusus. “Tidak jarang juga harus pakai mobil pribadi saya,” katanya.

Hal itu tentu menjadi kesulitan tersendiri ketika para pendamping akan menjemput ODGJ. Seperti yang terjadi di Kecamatan Curahdami, beberapa waktu lalu. Karena tidak ada kendaraan, sementara yang bersangkutan harus dirujuk ke rumah sakit, akhirnya dia dibawa menggunakan bentor milik warga sekitar. “Itu sering dilakukan. Kami sudah tidak memikirkan nasib kami, apakah dipukul dan lainnya,” imbuhnya.

Selain itu, perempuan yang akrab disapa Moza itu juga menyampaikan, selain belum memiliki kendaraan operasional, mereka juga tidak memiliki selter untuk menampung para ODGJ. Padahal sudah tidak jarang pihaknya membawa surat permohonan pembuatan selter dari pemprov untuk Pemda Bondowoso. Mengingat jumlah ODGJ di Jatim semakin hari semakin membeludak. “Akibatnya mungkin terjadi pembuangan, dari satu daerah ke daerah lain,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/