alexametrics
29 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Pungli di Kalipait, Sudah dari Dulu

Masalah Klasik yang Terus Membelit

Mobile_AP_Rectangle 1

Sebenarnya, kata Purwanto, selain menerima laporan dari masyarakat, pihaknya juga pernah memergoki langsung mereka yang diduga melakukan penarikan tiket terhadap pengunjung. Padahal, tak ada legal formalnya. “Saya mendapat informasi, dulu pernah saya memergoki, dan sudah saya minta untuk berhenti karena tak ada legal formalnya. Pada waktu itu kan sifatnya pembinaan. Sudah ada usaha dari kami untuk menegur itu,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, Kalipait sendiri sejak pertengahan tahun 2020 lalu sudah berubah status dari cagar alam menjadi taman wisata alam. Dengan perubahan status ini, maka Kalipait dimungkinkan bisa menjadi objek legal yang bisa dikunjungi wisatawan. “Ada SK menterinya perubahan itu,” jelasnya.

Catatan Jawa Pos Radar Ijen, pada 4 Desember 2018, Wabup Irwan Bachtiar  bersama Disparpora, Perhutani, dan BKSDA melakukan sidak ke tempat itu. Saat itu, yang menjaga kawasan tersebut mengaku bernama Bambang. Saat itu, dia mengaku sudah tiga tahun menjaga kawasan tersebut sebelum ditetapkan sebagai kawasan cagar alam. Karenanya, ia tidak mau apa yang dilakukannya disebut pungli. Sebab, selama ini dia merasa mengamankan daerah sekitar dan membersihkan kotoran sisa pengunjung. “Saya tidak merusak. Saya menjaga keamanan dan kebersihannya. Saya sudah tiga tahun. Awalnya saya dari karang taruna,” terangnya, waktu itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bambang mengaku, selama ini pemerintah sendiri tidak tegas tentang pengelolaan kawasan wisata. Karena itu, pihaknya ingin ikut andil mengamankan. Sistemnya, setiap pengunjung dimintai Rp 3000. Bambang mengaku, uang itu tidak mengalir ke mana-mana, namun hanya untuk dirinya.

Jurnalis: Muchammad Ainul Budi
Fotografer: Istimewa
Editor: Solikhul Huda

- Advertisement -

Sebenarnya, kata Purwanto, selain menerima laporan dari masyarakat, pihaknya juga pernah memergoki langsung mereka yang diduga melakukan penarikan tiket terhadap pengunjung. Padahal, tak ada legal formalnya. “Saya mendapat informasi, dulu pernah saya memergoki, dan sudah saya minta untuk berhenti karena tak ada legal formalnya. Pada waktu itu kan sifatnya pembinaan. Sudah ada usaha dari kami untuk menegur itu,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, Kalipait sendiri sejak pertengahan tahun 2020 lalu sudah berubah status dari cagar alam menjadi taman wisata alam. Dengan perubahan status ini, maka Kalipait dimungkinkan bisa menjadi objek legal yang bisa dikunjungi wisatawan. “Ada SK menterinya perubahan itu,” jelasnya.

Catatan Jawa Pos Radar Ijen, pada 4 Desember 2018, Wabup Irwan Bachtiar  bersama Disparpora, Perhutani, dan BKSDA melakukan sidak ke tempat itu. Saat itu, yang menjaga kawasan tersebut mengaku bernama Bambang. Saat itu, dia mengaku sudah tiga tahun menjaga kawasan tersebut sebelum ditetapkan sebagai kawasan cagar alam. Karenanya, ia tidak mau apa yang dilakukannya disebut pungli. Sebab, selama ini dia merasa mengamankan daerah sekitar dan membersihkan kotoran sisa pengunjung. “Saya tidak merusak. Saya menjaga keamanan dan kebersihannya. Saya sudah tiga tahun. Awalnya saya dari karang taruna,” terangnya, waktu itu.

Bambang mengaku, selama ini pemerintah sendiri tidak tegas tentang pengelolaan kawasan wisata. Karena itu, pihaknya ingin ikut andil mengamankan. Sistemnya, setiap pengunjung dimintai Rp 3000. Bambang mengaku, uang itu tidak mengalir ke mana-mana, namun hanya untuk dirinya.

Jurnalis: Muchammad Ainul Budi
Fotografer: Istimewa
Editor: Solikhul Huda

Sebenarnya, kata Purwanto, selain menerima laporan dari masyarakat, pihaknya juga pernah memergoki langsung mereka yang diduga melakukan penarikan tiket terhadap pengunjung. Padahal, tak ada legal formalnya. “Saya mendapat informasi, dulu pernah saya memergoki, dan sudah saya minta untuk berhenti karena tak ada legal formalnya. Pada waktu itu kan sifatnya pembinaan. Sudah ada usaha dari kami untuk menegur itu,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, Kalipait sendiri sejak pertengahan tahun 2020 lalu sudah berubah status dari cagar alam menjadi taman wisata alam. Dengan perubahan status ini, maka Kalipait dimungkinkan bisa menjadi objek legal yang bisa dikunjungi wisatawan. “Ada SK menterinya perubahan itu,” jelasnya.

Catatan Jawa Pos Radar Ijen, pada 4 Desember 2018, Wabup Irwan Bachtiar  bersama Disparpora, Perhutani, dan BKSDA melakukan sidak ke tempat itu. Saat itu, yang menjaga kawasan tersebut mengaku bernama Bambang. Saat itu, dia mengaku sudah tiga tahun menjaga kawasan tersebut sebelum ditetapkan sebagai kawasan cagar alam. Karenanya, ia tidak mau apa yang dilakukannya disebut pungli. Sebab, selama ini dia merasa mengamankan daerah sekitar dan membersihkan kotoran sisa pengunjung. “Saya tidak merusak. Saya menjaga keamanan dan kebersihannya. Saya sudah tiga tahun. Awalnya saya dari karang taruna,” terangnya, waktu itu.

Bambang mengaku, selama ini pemerintah sendiri tidak tegas tentang pengelolaan kawasan wisata. Karena itu, pihaknya ingin ikut andil mengamankan. Sistemnya, setiap pengunjung dimintai Rp 3000. Bambang mengaku, uang itu tidak mengalir ke mana-mana, namun hanya untuk dirinya.

Jurnalis: Muchammad Ainul Budi
Fotografer: Istimewa
Editor: Solikhul Huda

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/