alexametrics
31.1 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Tak Kenal Waktu dan Sering Dapat Penolakan dari Warga

Setiap jenazah yang terdiagnosis Covid-19, prosesi pemakamannya harus menerapkan protokol kesehatan ketat. Para petugas pemakaman dalam setiap tugasnya selalu mengenakan APD lengkap. Tentu bukan perkara mudah bagi para petugas.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Selain tak kenal waktu, tugas mereka dalam memulasarakan jenazah dengan protokol kesehatan tak jarang mendapatkan penolakan. Mereka juga harus siap dibutuhkan selama 24 jam. Sehingga tak jarang mereka memakamkan pasien Covid-19 tengah malam, bahkan pernah melakukan pemakaman pukul 2.00 WIB.

Di sisi lain, mereka haru siap meninggalkan keluarga untuk sementara waktu, bila dibutuhkan sewaktu-waktu. Belum lagi mereka bekerja menggunakan alat pelindung diri (APD) yang tebal dan panas. Bahkan, sesekali istirahat di atas trotoar di sela-sela melaksanakan tugas, menjadi pemandangan yang biasa.

Seperti diceritakan koordinator tim pemakaman jenazah pasien Covid-19 BPBD Bondowoso, Purwadi. Dia mengaku, bersama timnya pernah mendapatkan penolakan saat bertugas. Sebagaimana terjadi beberapa waktu lalu, seorang pemuda warga Desa Kajar, Tenggarang, Bondowoso, menolak ibunya dimakamkan secara protokol Covid-19.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bahkan, saat itu, pemuda tersebut marah sambil mengacungkan pedang jenis samurai ke masyarakat dan aparat. Saat itu, kata dia, pihaknya sempat khawatir dan takut terjadi apa-apa pada dirinya dan petugas yang lain. “Beruntung, polisi mengamankan orang tersebut. Pemakaman pun tetap dilakukan secara protokol Covid-19,” terangnya.

Di tengah menjalankan tugas yang cukup mengurus tenaga itu, tak jarang dia mendengar makian yang dilontarkan warga. Bahkan, kata dia, sejumlah warga beranggapan mereka hanya mencari uang atau keuntungan saja dalam bekerja.

“Ada pula yang mengumpat dengan kata-kata kotor dan menghina kami. Kedatangan kami dipandang negatif,” katanya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Selain tak kenal waktu, tugas mereka dalam memulasarakan jenazah dengan protokol kesehatan tak jarang mendapatkan penolakan. Mereka juga harus siap dibutuhkan selama 24 jam. Sehingga tak jarang mereka memakamkan pasien Covid-19 tengah malam, bahkan pernah melakukan pemakaman pukul 2.00 WIB.

Di sisi lain, mereka haru siap meninggalkan keluarga untuk sementara waktu, bila dibutuhkan sewaktu-waktu. Belum lagi mereka bekerja menggunakan alat pelindung diri (APD) yang tebal dan panas. Bahkan, sesekali istirahat di atas trotoar di sela-sela melaksanakan tugas, menjadi pemandangan yang biasa.

Seperti diceritakan koordinator tim pemakaman jenazah pasien Covid-19 BPBD Bondowoso, Purwadi. Dia mengaku, bersama timnya pernah mendapatkan penolakan saat bertugas. Sebagaimana terjadi beberapa waktu lalu, seorang pemuda warga Desa Kajar, Tenggarang, Bondowoso, menolak ibunya dimakamkan secara protokol Covid-19.

Bahkan, saat itu, pemuda tersebut marah sambil mengacungkan pedang jenis samurai ke masyarakat dan aparat. Saat itu, kata dia, pihaknya sempat khawatir dan takut terjadi apa-apa pada dirinya dan petugas yang lain. “Beruntung, polisi mengamankan orang tersebut. Pemakaman pun tetap dilakukan secara protokol Covid-19,” terangnya.

Di tengah menjalankan tugas yang cukup mengurus tenaga itu, tak jarang dia mendengar makian yang dilontarkan warga. Bahkan, kata dia, sejumlah warga beranggapan mereka hanya mencari uang atau keuntungan saja dalam bekerja.

“Ada pula yang mengumpat dengan kata-kata kotor dan menghina kami. Kedatangan kami dipandang negatif,” katanya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Selain tak kenal waktu, tugas mereka dalam memulasarakan jenazah dengan protokol kesehatan tak jarang mendapatkan penolakan. Mereka juga harus siap dibutuhkan selama 24 jam. Sehingga tak jarang mereka memakamkan pasien Covid-19 tengah malam, bahkan pernah melakukan pemakaman pukul 2.00 WIB.

Di sisi lain, mereka haru siap meninggalkan keluarga untuk sementara waktu, bila dibutuhkan sewaktu-waktu. Belum lagi mereka bekerja menggunakan alat pelindung diri (APD) yang tebal dan panas. Bahkan, sesekali istirahat di atas trotoar di sela-sela melaksanakan tugas, menjadi pemandangan yang biasa.

Seperti diceritakan koordinator tim pemakaman jenazah pasien Covid-19 BPBD Bondowoso, Purwadi. Dia mengaku, bersama timnya pernah mendapatkan penolakan saat bertugas. Sebagaimana terjadi beberapa waktu lalu, seorang pemuda warga Desa Kajar, Tenggarang, Bondowoso, menolak ibunya dimakamkan secara protokol Covid-19.

Bahkan, saat itu, pemuda tersebut marah sambil mengacungkan pedang jenis samurai ke masyarakat dan aparat. Saat itu, kata dia, pihaknya sempat khawatir dan takut terjadi apa-apa pada dirinya dan petugas yang lain. “Beruntung, polisi mengamankan orang tersebut. Pemakaman pun tetap dilakukan secara protokol Covid-19,” terangnya.

Di tengah menjalankan tugas yang cukup mengurus tenaga itu, tak jarang dia mendengar makian yang dilontarkan warga. Bahkan, kata dia, sejumlah warga beranggapan mereka hanya mencari uang atau keuntungan saja dalam bekerja.

“Ada pula yang mengumpat dengan kata-kata kotor dan menghina kami. Kedatangan kami dipandang negatif,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/