alexametrics
24.7 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Kios Pasar Induk Bondowoso Diambil Alih Pemerintah Kembali

Aturan Terbaru agar Semua Tempat Dibuka

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Banyak kios di Pasar Induk Bondowoso yang ditemukan tidak digunakan sebagaimana mestinya. Hal ini dianggap dapat menjadi penyebab potential loss pendapatan asli daerah (PAD). Oleh sebab itu, berdasar aturan berlaku sejak 2022, kios yang tidak dipakai dua bulan berturut-turut serta tidak membayar retribusi bisa diambil alih oleh pemerintah.

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Komisi II Bondowoso Andi Hermanto setelah melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) setempat, Selasa (18/1). Pihaknya memang tidak menyebutkan secara detail berapa potential loss PAD yang terjadi. Walaupun demikian, jumlahnya diperkirakan cukup signifikan, akibat penyewanya enggan untuk membayar retribusi. “Potensi tidak ada pemasukan itu ratusan juta dari sana saja, per tahun,” tegasnya.

Andi menjelaskan, pengambilalihan itu bertujuan agar kios yang sudah disediakan tidak hanya dijadikan sebagai gudang. Artinya, tidak ada lagi kios yang tidak digunakan sebagaimana mestinya. Terlebih, pihaknya menyebut, masih ditemukan sejumlah pedagang yang hanya mengambil nama pertama kali. Tapi, kios tersebut hanya dijadikan sebagai tempat penyimpanan atau gudang. “Ini kan merugikan, sehingga masih banyak warga yang berjualan di bawah,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Oleh karena itu, ia mengharap dinas terkait bisa bertindak tegas. Mengingat, sudah ada aturan penarikan kios itu, yang sudah dapat diterapkan pada tahun ini. Pemerintah daerah pun bisa mengambil alih kios atau los yang tidak buka dan tidak membayar retribusi selama dua bulan berturut-turut. “Digantikan kepada warga yang mau jualan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Diskoperindag Bondowoso Sigit Purnomo mengatakan, saat ini mereka masih melakukan inventarisasi atau pendataan terhadap para penyewa kios. Termasuk membentuk tim kabupaten yang dapat menertibkan nantinya. Mengingat, di tengah pandemi, sering terjadi relaksasi yang dapat menghambat. “Semua kan ada prosesnya,” katanya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Banyak kios di Pasar Induk Bondowoso yang ditemukan tidak digunakan sebagaimana mestinya. Hal ini dianggap dapat menjadi penyebab potential loss pendapatan asli daerah (PAD). Oleh sebab itu, berdasar aturan berlaku sejak 2022, kios yang tidak dipakai dua bulan berturut-turut serta tidak membayar retribusi bisa diambil alih oleh pemerintah.

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Komisi II Bondowoso Andi Hermanto setelah melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) setempat, Selasa (18/1). Pihaknya memang tidak menyebutkan secara detail berapa potential loss PAD yang terjadi. Walaupun demikian, jumlahnya diperkirakan cukup signifikan, akibat penyewanya enggan untuk membayar retribusi. “Potensi tidak ada pemasukan itu ratusan juta dari sana saja, per tahun,” tegasnya.

Andi menjelaskan, pengambilalihan itu bertujuan agar kios yang sudah disediakan tidak hanya dijadikan sebagai gudang. Artinya, tidak ada lagi kios yang tidak digunakan sebagaimana mestinya. Terlebih, pihaknya menyebut, masih ditemukan sejumlah pedagang yang hanya mengambil nama pertama kali. Tapi, kios tersebut hanya dijadikan sebagai tempat penyimpanan atau gudang. “Ini kan merugikan, sehingga masih banyak warga yang berjualan di bawah,” katanya.

Oleh karena itu, ia mengharap dinas terkait bisa bertindak tegas. Mengingat, sudah ada aturan penarikan kios itu, yang sudah dapat diterapkan pada tahun ini. Pemerintah daerah pun bisa mengambil alih kios atau los yang tidak buka dan tidak membayar retribusi selama dua bulan berturut-turut. “Digantikan kepada warga yang mau jualan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Diskoperindag Bondowoso Sigit Purnomo mengatakan, saat ini mereka masih melakukan inventarisasi atau pendataan terhadap para penyewa kios. Termasuk membentuk tim kabupaten yang dapat menertibkan nantinya. Mengingat, di tengah pandemi, sering terjadi relaksasi yang dapat menghambat. “Semua kan ada prosesnya,” katanya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Banyak kios di Pasar Induk Bondowoso yang ditemukan tidak digunakan sebagaimana mestinya. Hal ini dianggap dapat menjadi penyebab potential loss pendapatan asli daerah (PAD). Oleh sebab itu, berdasar aturan berlaku sejak 2022, kios yang tidak dipakai dua bulan berturut-turut serta tidak membayar retribusi bisa diambil alih oleh pemerintah.

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Komisi II Bondowoso Andi Hermanto setelah melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) setempat, Selasa (18/1). Pihaknya memang tidak menyebutkan secara detail berapa potential loss PAD yang terjadi. Walaupun demikian, jumlahnya diperkirakan cukup signifikan, akibat penyewanya enggan untuk membayar retribusi. “Potensi tidak ada pemasukan itu ratusan juta dari sana saja, per tahun,” tegasnya.

Andi menjelaskan, pengambilalihan itu bertujuan agar kios yang sudah disediakan tidak hanya dijadikan sebagai gudang. Artinya, tidak ada lagi kios yang tidak digunakan sebagaimana mestinya. Terlebih, pihaknya menyebut, masih ditemukan sejumlah pedagang yang hanya mengambil nama pertama kali. Tapi, kios tersebut hanya dijadikan sebagai tempat penyimpanan atau gudang. “Ini kan merugikan, sehingga masih banyak warga yang berjualan di bawah,” katanya.

Oleh karena itu, ia mengharap dinas terkait bisa bertindak tegas. Mengingat, sudah ada aturan penarikan kios itu, yang sudah dapat diterapkan pada tahun ini. Pemerintah daerah pun bisa mengambil alih kios atau los yang tidak buka dan tidak membayar retribusi selama dua bulan berturut-turut. “Digantikan kepada warga yang mau jualan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Diskoperindag Bondowoso Sigit Purnomo mengatakan, saat ini mereka masih melakukan inventarisasi atau pendataan terhadap para penyewa kios. Termasuk membentuk tim kabupaten yang dapat menertibkan nantinya. Mengingat, di tengah pandemi, sering terjadi relaksasi yang dapat menghambat. “Semua kan ada prosesnya,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/