alexametrics
23.4 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Tidak Ada Persatuan, Harga Kocar-kacir

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Ketika melintas di Desa Pejaten, Kecamatan Bondowoso, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan para perajin mebel yang berjajar di sepanjang jalan. Desa itu memang rata-rata penduduknya memiliki usaha mebel. Bahkan, bukan hanya yang berada di pinggir jalan, para perajin juga tersebar di berbagai pelosok desa. Ironisnya, para pekerja mebel di sana belum memiliki wadah persatuan. Hal itu membuat para pengusaha kesulitan menyeragamkan harga jual dari hasil produksinya.

Imam Subari, salah seorang pengusaha mebel, menyampaikan, di tempatnya sampai saat ini memang belum ada paguyuban atau organisasi yang bisa membuat harga jual seragam. Berbeda dengan kabupaten/kota lain yang rata-rata warganya berprofesi sebagai pengusaha mebel. Dirinya mencontohkan Kabupaten Pasuruan sebagai salah satu yang sudah memiliki persatuan untuk para pengusaha.

“Kalau di sana, misal harga barang itu kesepakatan satu juta, terus ada salah satu pengusaha yang menjual di bawahnya, terus ketahuan sama teman-teman yang lain, langsung didatangi orang itu,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Imam, adanya paguyuban atau organisasi bisa menguntungkan para pengusaha mebel di tempatnya. Hal itu karena harga jual ke toko ataupun ke konsumen langsung akan seragam. Permainan harga akan disesuaikan dengan kesepakatan dari seluruh anggota paguyuban itu.

Sementara, saat ini yang masih sering terjadi di tempatnya gara-gara tidak adanya paguyuban, banyak persaingan antarpengusaha yang kurang sehat. Ia mencontohkan, misal ada pengusaha yang memiliki niat untuk menghancurkan usahanya, maka tidak segan-segan untuk menurunkan harganya. Hal itu membuat toko tidak akan mengambil barang darinya lagi. “Ya gak laku otomatis barang saya,” katanya.

“Seandainya saingan itu, misal harganya satu juta, ya jual ke toko rata satu juta. Kan bagus. Jadi, toko itu cari barang gak hancur-hancuran. Mereka akan membeli barang berdasarkan kualitas,” tambahnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Ketika melintas di Desa Pejaten, Kecamatan Bondowoso, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan para perajin mebel yang berjajar di sepanjang jalan. Desa itu memang rata-rata penduduknya memiliki usaha mebel. Bahkan, bukan hanya yang berada di pinggir jalan, para perajin juga tersebar di berbagai pelosok desa. Ironisnya, para pekerja mebel di sana belum memiliki wadah persatuan. Hal itu membuat para pengusaha kesulitan menyeragamkan harga jual dari hasil produksinya.

Imam Subari, salah seorang pengusaha mebel, menyampaikan, di tempatnya sampai saat ini memang belum ada paguyuban atau organisasi yang bisa membuat harga jual seragam. Berbeda dengan kabupaten/kota lain yang rata-rata warganya berprofesi sebagai pengusaha mebel. Dirinya mencontohkan Kabupaten Pasuruan sebagai salah satu yang sudah memiliki persatuan untuk para pengusaha.

“Kalau di sana, misal harga barang itu kesepakatan satu juta, terus ada salah satu pengusaha yang menjual di bawahnya, terus ketahuan sama teman-teman yang lain, langsung didatangi orang itu,” jelasnya.

Menurut Imam, adanya paguyuban atau organisasi bisa menguntungkan para pengusaha mebel di tempatnya. Hal itu karena harga jual ke toko ataupun ke konsumen langsung akan seragam. Permainan harga akan disesuaikan dengan kesepakatan dari seluruh anggota paguyuban itu.

Sementara, saat ini yang masih sering terjadi di tempatnya gara-gara tidak adanya paguyuban, banyak persaingan antarpengusaha yang kurang sehat. Ia mencontohkan, misal ada pengusaha yang memiliki niat untuk menghancurkan usahanya, maka tidak segan-segan untuk menurunkan harganya. Hal itu membuat toko tidak akan mengambil barang darinya lagi. “Ya gak laku otomatis barang saya,” katanya.

“Seandainya saingan itu, misal harganya satu juta, ya jual ke toko rata satu juta. Kan bagus. Jadi, toko itu cari barang gak hancur-hancuran. Mereka akan membeli barang berdasarkan kualitas,” tambahnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Ketika melintas di Desa Pejaten, Kecamatan Bondowoso, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan para perajin mebel yang berjajar di sepanjang jalan. Desa itu memang rata-rata penduduknya memiliki usaha mebel. Bahkan, bukan hanya yang berada di pinggir jalan, para perajin juga tersebar di berbagai pelosok desa. Ironisnya, para pekerja mebel di sana belum memiliki wadah persatuan. Hal itu membuat para pengusaha kesulitan menyeragamkan harga jual dari hasil produksinya.

Imam Subari, salah seorang pengusaha mebel, menyampaikan, di tempatnya sampai saat ini memang belum ada paguyuban atau organisasi yang bisa membuat harga jual seragam. Berbeda dengan kabupaten/kota lain yang rata-rata warganya berprofesi sebagai pengusaha mebel. Dirinya mencontohkan Kabupaten Pasuruan sebagai salah satu yang sudah memiliki persatuan untuk para pengusaha.

“Kalau di sana, misal harga barang itu kesepakatan satu juta, terus ada salah satu pengusaha yang menjual di bawahnya, terus ketahuan sama teman-teman yang lain, langsung didatangi orang itu,” jelasnya.

Menurut Imam, adanya paguyuban atau organisasi bisa menguntungkan para pengusaha mebel di tempatnya. Hal itu karena harga jual ke toko ataupun ke konsumen langsung akan seragam. Permainan harga akan disesuaikan dengan kesepakatan dari seluruh anggota paguyuban itu.

Sementara, saat ini yang masih sering terjadi di tempatnya gara-gara tidak adanya paguyuban, banyak persaingan antarpengusaha yang kurang sehat. Ia mencontohkan, misal ada pengusaha yang memiliki niat untuk menghancurkan usahanya, maka tidak segan-segan untuk menurunkan harganya. Hal itu membuat toko tidak akan mengambil barang darinya lagi. “Ya gak laku otomatis barang saya,” katanya.

“Seandainya saingan itu, misal harganya satu juta, ya jual ke toko rata satu juta. Kan bagus. Jadi, toko itu cari barang gak hancur-hancuran. Mereka akan membeli barang berdasarkan kualitas,” tambahnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/