alexametrics
23 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Pernikahan Anak Tinggi, Unicef Turun Tangan

Berikan Pelatihan Pada Tenaga Pengajar

Mobile_AP_Rectangle 1

TANGSIL WETAN, Radar Ijen – Pernikahan anak di Bondowoso masih kerap kali ditemui. Lingkungan sekolah maupun lingkungan pesantren, menjadi salah satu harapan untuk dapat memutus mata rantai kasus tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan cara memberikan pelatihan kepada para tenaga pengajar. Seperti yang dilakukan di Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Tangsil Wetan, Bondowoso. 

Para ustaz dan ustadzah di pesantren tersebut mengikuti pelatihan penerapan disiplin positif, yang diselenggarakan oleh Lembaga Pelatihan dan Konsultan Inovasi Pendidikan Indonesia (LPKIPI) Unicef. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama tiga hari, mulai kemarin (16/2).

Hendry Souisa, Fasilitator Nasional Disiplin Positif, menerangkan, pelatihan tersebut merupakan salah satu upaya dalam menurunkan kekerasan berbasis gender. Serta salah satu upaya untuk menurunkan angka pernikahan anak. 

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain itu, kegiatan ini juga dinilai bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah dalam menyiapkan lingkungan dan sekolah yang layak dan ramah untuk tumbuh kembang anak. Yakni, dengan menyiapkan siapa pun yang akan mengasuh anak agar layak dalam cara pengasuhannya. “Pelatihan disiplin positif adalah melayakkan anak untuk lingkungan yang sudah disiapkan dengan baik,” terangnya.

Hendry menyebut, salah satu hal dalam pengasuhan anak yang harus dirubah persepsinya yakni penggunaan hukuman yang biasa dilakukan untuk mendisiplinkan anak. Hal itu seringkali tidak disadari, ternyata pendisiplinan yang salah justru mewariskan budaya penggunaan hukuman. 

Ujungnya, ini justru berdampak pada mereka saat dewasa. Berdasarkan hasil penelitian, anak-anak yang mendapat pendisiplinan yang tak positif,  saat dewasa empat kali lebih besar berpotensi melakukan kekerasan. “Kita memberikan alternatif, ada cara lain (melalui pelatihan ini, red) sehingga memutus rantai kekerasan yang diwariskan itu,” ujarnya. 

- Advertisement -

TANGSIL WETAN, Radar Ijen – Pernikahan anak di Bondowoso masih kerap kali ditemui. Lingkungan sekolah maupun lingkungan pesantren, menjadi salah satu harapan untuk dapat memutus mata rantai kasus tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan cara memberikan pelatihan kepada para tenaga pengajar. Seperti yang dilakukan di Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Tangsil Wetan, Bondowoso. 

Para ustaz dan ustadzah di pesantren tersebut mengikuti pelatihan penerapan disiplin positif, yang diselenggarakan oleh Lembaga Pelatihan dan Konsultan Inovasi Pendidikan Indonesia (LPKIPI) Unicef. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama tiga hari, mulai kemarin (16/2).

Hendry Souisa, Fasilitator Nasional Disiplin Positif, menerangkan, pelatihan tersebut merupakan salah satu upaya dalam menurunkan kekerasan berbasis gender. Serta salah satu upaya untuk menurunkan angka pernikahan anak. 

Selain itu, kegiatan ini juga dinilai bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah dalam menyiapkan lingkungan dan sekolah yang layak dan ramah untuk tumbuh kembang anak. Yakni, dengan menyiapkan siapa pun yang akan mengasuh anak agar layak dalam cara pengasuhannya. “Pelatihan disiplin positif adalah melayakkan anak untuk lingkungan yang sudah disiapkan dengan baik,” terangnya.

Hendry menyebut, salah satu hal dalam pengasuhan anak yang harus dirubah persepsinya yakni penggunaan hukuman yang biasa dilakukan untuk mendisiplinkan anak. Hal itu seringkali tidak disadari, ternyata pendisiplinan yang salah justru mewariskan budaya penggunaan hukuman. 

Ujungnya, ini justru berdampak pada mereka saat dewasa. Berdasarkan hasil penelitian, anak-anak yang mendapat pendisiplinan yang tak positif,  saat dewasa empat kali lebih besar berpotensi melakukan kekerasan. “Kita memberikan alternatif, ada cara lain (melalui pelatihan ini, red) sehingga memutus rantai kekerasan yang diwariskan itu,” ujarnya. 

TANGSIL WETAN, Radar Ijen – Pernikahan anak di Bondowoso masih kerap kali ditemui. Lingkungan sekolah maupun lingkungan pesantren, menjadi salah satu harapan untuk dapat memutus mata rantai kasus tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan cara memberikan pelatihan kepada para tenaga pengajar. Seperti yang dilakukan di Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Tangsil Wetan, Bondowoso. 

Para ustaz dan ustadzah di pesantren tersebut mengikuti pelatihan penerapan disiplin positif, yang diselenggarakan oleh Lembaga Pelatihan dan Konsultan Inovasi Pendidikan Indonesia (LPKIPI) Unicef. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama tiga hari, mulai kemarin (16/2).

Hendry Souisa, Fasilitator Nasional Disiplin Positif, menerangkan, pelatihan tersebut merupakan salah satu upaya dalam menurunkan kekerasan berbasis gender. Serta salah satu upaya untuk menurunkan angka pernikahan anak. 

Selain itu, kegiatan ini juga dinilai bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah dalam menyiapkan lingkungan dan sekolah yang layak dan ramah untuk tumbuh kembang anak. Yakni, dengan menyiapkan siapa pun yang akan mengasuh anak agar layak dalam cara pengasuhannya. “Pelatihan disiplin positif adalah melayakkan anak untuk lingkungan yang sudah disiapkan dengan baik,” terangnya.

Hendry menyebut, salah satu hal dalam pengasuhan anak yang harus dirubah persepsinya yakni penggunaan hukuman yang biasa dilakukan untuk mendisiplinkan anak. Hal itu seringkali tidak disadari, ternyata pendisiplinan yang salah justru mewariskan budaya penggunaan hukuman. 

Ujungnya, ini justru berdampak pada mereka saat dewasa. Berdasarkan hasil penelitian, anak-anak yang mendapat pendisiplinan yang tak positif,  saat dewasa empat kali lebih besar berpotensi melakukan kekerasan. “Kita memberikan alternatif, ada cara lain (melalui pelatihan ini, red) sehingga memutus rantai kekerasan yang diwariskan itu,” ujarnya. 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/