alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Pandemi, Pedagang Pakaian Bekas Merana

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pandemi memang hampir berdampak pada semua sektor kehidupan. Termasuk para penjual pakaian bekas. Mereka merasakan penurunan penghasilan sampai 50 persen lebih.

Samsul, penjual babebo di Pasar Maesan, mengatakan, sangat merasakan dampak pandemi Covid-19. Hasil penjualannya mengalami penurunan drastis. Penurunannya mencapai 50 hingga 60 persen dari jumlah normal sebelum adanya pandemi. Untuk saat ini paling banyak hasil dari barangnya yang terjual hanya mencapai Rp 400 ribu rupiah. Sementara, sebelum adanya pandemi, dalam sehari dia bisa mendapatkan Rp 1 juta. “Itu bukan hanya laba saja. Tapi keseluruhan dari hasil barang yang terjual,” ujarnya.

Tak jarang, Samsul harus memperoleh hasil penjualan di bawah Rp 400 ribu dalam sehari. Karena memang sepi. Samsul hanya bisa pasrah dengan keadaan. “Kalau punya rejeki, penghasilan bisa lebih dari 400 ribu, tapi jarang itu. Kalau belum rejekinya bisa dapat 100 ribu saja dalam sehari,” terangnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Untuk menyiasati, sering kali dia harus mengurangi harga jual di bawah harga kulakannya. Hal itu bertujuan agar barangnya cepat laku. “Ya pasti rugi kalau sudah seperti itu,” imbuhnya. Dia mengambil stok dari Bali dan Surabaya. “Kadang saya ke sana langsung. Kadang dikirim lewat paket,” lanjutnya.

Sepinya para pembeli kadang membuat Samsul menutup lapak jualannya lebih awal. Biasanya hanya sampai pukul 12.00 untuk saat ini. Sementara, sebelum adanya pandemi bisa tutup sampai pukul 14.00. “Kalau sudah gak ada orang yang beli, mau ngapain. Kan mending tutup,” ucapnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pandemi memang hampir berdampak pada semua sektor kehidupan. Termasuk para penjual pakaian bekas. Mereka merasakan penurunan penghasilan sampai 50 persen lebih.

Samsul, penjual babebo di Pasar Maesan, mengatakan, sangat merasakan dampak pandemi Covid-19. Hasil penjualannya mengalami penurunan drastis. Penurunannya mencapai 50 hingga 60 persen dari jumlah normal sebelum adanya pandemi. Untuk saat ini paling banyak hasil dari barangnya yang terjual hanya mencapai Rp 400 ribu rupiah. Sementara, sebelum adanya pandemi, dalam sehari dia bisa mendapatkan Rp 1 juta. “Itu bukan hanya laba saja. Tapi keseluruhan dari hasil barang yang terjual,” ujarnya.

Tak jarang, Samsul harus memperoleh hasil penjualan di bawah Rp 400 ribu dalam sehari. Karena memang sepi. Samsul hanya bisa pasrah dengan keadaan. “Kalau punya rejeki, penghasilan bisa lebih dari 400 ribu, tapi jarang itu. Kalau belum rejekinya bisa dapat 100 ribu saja dalam sehari,” terangnya.

Untuk menyiasati, sering kali dia harus mengurangi harga jual di bawah harga kulakannya. Hal itu bertujuan agar barangnya cepat laku. “Ya pasti rugi kalau sudah seperti itu,” imbuhnya. Dia mengambil stok dari Bali dan Surabaya. “Kadang saya ke sana langsung. Kadang dikirim lewat paket,” lanjutnya.

Sepinya para pembeli kadang membuat Samsul menutup lapak jualannya lebih awal. Biasanya hanya sampai pukul 12.00 untuk saat ini. Sementara, sebelum adanya pandemi bisa tutup sampai pukul 14.00. “Kalau sudah gak ada orang yang beli, mau ngapain. Kan mending tutup,” ucapnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pandemi memang hampir berdampak pada semua sektor kehidupan. Termasuk para penjual pakaian bekas. Mereka merasakan penurunan penghasilan sampai 50 persen lebih.

Samsul, penjual babebo di Pasar Maesan, mengatakan, sangat merasakan dampak pandemi Covid-19. Hasil penjualannya mengalami penurunan drastis. Penurunannya mencapai 50 hingga 60 persen dari jumlah normal sebelum adanya pandemi. Untuk saat ini paling banyak hasil dari barangnya yang terjual hanya mencapai Rp 400 ribu rupiah. Sementara, sebelum adanya pandemi, dalam sehari dia bisa mendapatkan Rp 1 juta. “Itu bukan hanya laba saja. Tapi keseluruhan dari hasil barang yang terjual,” ujarnya.

Tak jarang, Samsul harus memperoleh hasil penjualan di bawah Rp 400 ribu dalam sehari. Karena memang sepi. Samsul hanya bisa pasrah dengan keadaan. “Kalau punya rejeki, penghasilan bisa lebih dari 400 ribu, tapi jarang itu. Kalau belum rejekinya bisa dapat 100 ribu saja dalam sehari,” terangnya.

Untuk menyiasati, sering kali dia harus mengurangi harga jual di bawah harga kulakannya. Hal itu bertujuan agar barangnya cepat laku. “Ya pasti rugi kalau sudah seperti itu,” imbuhnya. Dia mengambil stok dari Bali dan Surabaya. “Kadang saya ke sana langsung. Kadang dikirim lewat paket,” lanjutnya.

Sepinya para pembeli kadang membuat Samsul menutup lapak jualannya lebih awal. Biasanya hanya sampai pukul 12.00 untuk saat ini. Sementara, sebelum adanya pandemi bisa tutup sampai pukul 14.00. “Kalau sudah gak ada orang yang beli, mau ngapain. Kan mending tutup,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/