alexametrics
24.4 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Petani Masih Bergantung pada Pupuk Kimia, Ini Alasannya

Belum Bisa Manfaatkan Pertanian Organik

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Meskipun ada peluang besar untuk mengembangkan pertanian organik di Kabupaten Bondowoso, ternyata para petani belum dapat memanfaatkan kesempatan tersebut. Meski sudah digagas sejak 2008 lalu. Salah satu penyebabnya adalah masih banyaknya petani yang bergantung pada penggunaan pupuk kimia di lahan mereka masing-masing.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Bondowoso Hendri Widotono mengatakan, pertanian organik harus terus berjalan. Sebab, menurutnya, kondisi kandungan tanah organik di Bondowoso cukup minim, yakni hanya 2 persen saja. “Bagaimana kemandirian masyarakat, dan bagaimana dengan kondisi seperti ini, anggaran untuk organik, ya, bisa kita lihat,” lanjutnya.

Dirinya menyebut, lahan pertanian organik sejak 2008 telah diimplementasikan di Desa Lombok Kulon. Rencananya hal serupa juga akan direplikasikan di Desa Sulek, Kecamatan Tlogosari. Tempat tersebut rencananya akan dijadikan sentra pertanian presisi, pertanian modern, dan pertanian terintegrasi. “Bersama TP2D dan lainnya,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain itu, pihaknya menuturkan, kemandirian para petani juga lebih terjamin dengan model pertanian organik ini. Hal tersebut terbukti dari produksi 13 ribu ton pupuk organik yang dibuat oleh 45 kelompok tani secara swadaya. “Alhamdulillah, swadaya tanpa bantuan dari pemerintah. Itu sudah mandiri kelompok tani,” papar Hendri.

Ketersediaan pupuk organik juga ditunjang oleh populasi ternak sapi yang cukup besar. Hendri menyebut bahwa total jumlah ternak sapi di Bondowoso sebanyak 224 ribu ekor dan termasuk 10 besar di Jawa Timur.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Meskipun ada peluang besar untuk mengembangkan pertanian organik di Kabupaten Bondowoso, ternyata para petani belum dapat memanfaatkan kesempatan tersebut. Meski sudah digagas sejak 2008 lalu. Salah satu penyebabnya adalah masih banyaknya petani yang bergantung pada penggunaan pupuk kimia di lahan mereka masing-masing.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Bondowoso Hendri Widotono mengatakan, pertanian organik harus terus berjalan. Sebab, menurutnya, kondisi kandungan tanah organik di Bondowoso cukup minim, yakni hanya 2 persen saja. “Bagaimana kemandirian masyarakat, dan bagaimana dengan kondisi seperti ini, anggaran untuk organik, ya, bisa kita lihat,” lanjutnya.

Dirinya menyebut, lahan pertanian organik sejak 2008 telah diimplementasikan di Desa Lombok Kulon. Rencananya hal serupa juga akan direplikasikan di Desa Sulek, Kecamatan Tlogosari. Tempat tersebut rencananya akan dijadikan sentra pertanian presisi, pertanian modern, dan pertanian terintegrasi. “Bersama TP2D dan lainnya,” ucapnya.

Selain itu, pihaknya menuturkan, kemandirian para petani juga lebih terjamin dengan model pertanian organik ini. Hal tersebut terbukti dari produksi 13 ribu ton pupuk organik yang dibuat oleh 45 kelompok tani secara swadaya. “Alhamdulillah, swadaya tanpa bantuan dari pemerintah. Itu sudah mandiri kelompok tani,” papar Hendri.

Ketersediaan pupuk organik juga ditunjang oleh populasi ternak sapi yang cukup besar. Hendri menyebut bahwa total jumlah ternak sapi di Bondowoso sebanyak 224 ribu ekor dan termasuk 10 besar di Jawa Timur.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Meskipun ada peluang besar untuk mengembangkan pertanian organik di Kabupaten Bondowoso, ternyata para petani belum dapat memanfaatkan kesempatan tersebut. Meski sudah digagas sejak 2008 lalu. Salah satu penyebabnya adalah masih banyaknya petani yang bergantung pada penggunaan pupuk kimia di lahan mereka masing-masing.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Bondowoso Hendri Widotono mengatakan, pertanian organik harus terus berjalan. Sebab, menurutnya, kondisi kandungan tanah organik di Bondowoso cukup minim, yakni hanya 2 persen saja. “Bagaimana kemandirian masyarakat, dan bagaimana dengan kondisi seperti ini, anggaran untuk organik, ya, bisa kita lihat,” lanjutnya.

Dirinya menyebut, lahan pertanian organik sejak 2008 telah diimplementasikan di Desa Lombok Kulon. Rencananya hal serupa juga akan direplikasikan di Desa Sulek, Kecamatan Tlogosari. Tempat tersebut rencananya akan dijadikan sentra pertanian presisi, pertanian modern, dan pertanian terintegrasi. “Bersama TP2D dan lainnya,” ucapnya.

Selain itu, pihaknya menuturkan, kemandirian para petani juga lebih terjamin dengan model pertanian organik ini. Hal tersebut terbukti dari produksi 13 ribu ton pupuk organik yang dibuat oleh 45 kelompok tani secara swadaya. “Alhamdulillah, swadaya tanpa bantuan dari pemerintah. Itu sudah mandiri kelompok tani,” papar Hendri.

Ketersediaan pupuk organik juga ditunjang oleh populasi ternak sapi yang cukup besar. Hendri menyebut bahwa total jumlah ternak sapi di Bondowoso sebanyak 224 ribu ekor dan termasuk 10 besar di Jawa Timur.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/