alexametrics
28.7 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Cabai di Pasar Masih Terus Mahal

Tataran Petani, Kini Mulai Tanam

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Harga cabai di Pasar Induk Bondowoso, masih terus mahal. Kisaran Rp 110 ribu perkilogram. Sementara ditataran petani, kini mulai tanam. Namun musim penghujan, masih memiliki tantangan tinggi.

Bagi petani mereka yang baru tanam, saat ini harus melakukan perawatan lebih. Tentunya harus mengeluarkan biaya yang lebih banyak daripada musim kemarau.

Busrianto, salah seorang petani cabai di Bondowoso mengatakan, para petani yang menanam cabai di musim hujan akan menghadapi beberapa kendala. Salah satunya  kendala cuaca yang tidak kondusif. Ada resiko tumbuh kembang tanaman tidak normal. Hingga berkembangnya organisme pengganggu tanaman baik hama maupun penyakit tanaman. “Resiko kegagalan panennya menjadi lebih besar,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dirinya juga menjelaskan, saat musim hujan tanaman cabai rawan terserang penyakit. Seperti cacar daun (Antraknosa), layu fusarium, ataupun busuk batang (treep). Hal tersebut mengancam petani gagal panen. “Kalau sudah terserang penyakit ini. Bisa gagal panen mas,” jelasnya.

Dijelaskan, saat musim hujan tanaman cabai membutuhkan perawatan ekstra. Yang harus dilakukan secara rutin. Agar hasil panennya tetap seperti biasanya. Berbeda ketika kondisi musim kemarau. Pada musim tersebut kendala yang dihadapi para petani hanya masalah air saja.

Selain itu, pada musim kemarau penyemprotan pestisida tanaman cabai cukup dilakukan satu kali dalam sepekan. Sementara, saat musim hujan, penyemprotan pestisida harus dilakukan tiga hari sekali. Bahkan harus lebih dari jumlah tersebut. “Misalnya, habis nyemprot pagi, siang sudah hujan. Besoknya harus disemprot lagi,” terangnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Harga cabai di Pasar Induk Bondowoso, masih terus mahal. Kisaran Rp 110 ribu perkilogram. Sementara ditataran petani, kini mulai tanam. Namun musim penghujan, masih memiliki tantangan tinggi.

Bagi petani mereka yang baru tanam, saat ini harus melakukan perawatan lebih. Tentunya harus mengeluarkan biaya yang lebih banyak daripada musim kemarau.

Busrianto, salah seorang petani cabai di Bondowoso mengatakan, para petani yang menanam cabai di musim hujan akan menghadapi beberapa kendala. Salah satunya  kendala cuaca yang tidak kondusif. Ada resiko tumbuh kembang tanaman tidak normal. Hingga berkembangnya organisme pengganggu tanaman baik hama maupun penyakit tanaman. “Resiko kegagalan panennya menjadi lebih besar,” paparnya.

Dirinya juga menjelaskan, saat musim hujan tanaman cabai rawan terserang penyakit. Seperti cacar daun (Antraknosa), layu fusarium, ataupun busuk batang (treep). Hal tersebut mengancam petani gagal panen. “Kalau sudah terserang penyakit ini. Bisa gagal panen mas,” jelasnya.

Dijelaskan, saat musim hujan tanaman cabai membutuhkan perawatan ekstra. Yang harus dilakukan secara rutin. Agar hasil panennya tetap seperti biasanya. Berbeda ketika kondisi musim kemarau. Pada musim tersebut kendala yang dihadapi para petani hanya masalah air saja.

Selain itu, pada musim kemarau penyemprotan pestisida tanaman cabai cukup dilakukan satu kali dalam sepekan. Sementara, saat musim hujan, penyemprotan pestisida harus dilakukan tiga hari sekali. Bahkan harus lebih dari jumlah tersebut. “Misalnya, habis nyemprot pagi, siang sudah hujan. Besoknya harus disemprot lagi,” terangnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Harga cabai di Pasar Induk Bondowoso, masih terus mahal. Kisaran Rp 110 ribu perkilogram. Sementara ditataran petani, kini mulai tanam. Namun musim penghujan, masih memiliki tantangan tinggi.

Bagi petani mereka yang baru tanam, saat ini harus melakukan perawatan lebih. Tentunya harus mengeluarkan biaya yang lebih banyak daripada musim kemarau.

Busrianto, salah seorang petani cabai di Bondowoso mengatakan, para petani yang menanam cabai di musim hujan akan menghadapi beberapa kendala. Salah satunya  kendala cuaca yang tidak kondusif. Ada resiko tumbuh kembang tanaman tidak normal. Hingga berkembangnya organisme pengganggu tanaman baik hama maupun penyakit tanaman. “Resiko kegagalan panennya menjadi lebih besar,” paparnya.

Dirinya juga menjelaskan, saat musim hujan tanaman cabai rawan terserang penyakit. Seperti cacar daun (Antraknosa), layu fusarium, ataupun busuk batang (treep). Hal tersebut mengancam petani gagal panen. “Kalau sudah terserang penyakit ini. Bisa gagal panen mas,” jelasnya.

Dijelaskan, saat musim hujan tanaman cabai membutuhkan perawatan ekstra. Yang harus dilakukan secara rutin. Agar hasil panennya tetap seperti biasanya. Berbeda ketika kondisi musim kemarau. Pada musim tersebut kendala yang dihadapi para petani hanya masalah air saja.

Selain itu, pada musim kemarau penyemprotan pestisida tanaman cabai cukup dilakukan satu kali dalam sepekan. Sementara, saat musim hujan, penyemprotan pestisida harus dilakukan tiga hari sekali. Bahkan harus lebih dari jumlah tersebut. “Misalnya, habis nyemprot pagi, siang sudah hujan. Besoknya harus disemprot lagi,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

Jangan Loyo saat Porprov

WFH ASN Tidak Berlaku

Perda Mandul Rugikan Rakyat

/