alexametrics
22.6 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

BRK Redup, Petani Tetap Semangat

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Bondowoso Republik Kopi (BRK) memang lagi redup-redupnya. Namun, kondisi itu tak menyurutkan semangat para petani kopi untuk terus mengembangkan kopinya. Salah satunya mengembangkan kopi arabika Raung.

Banyak petani kopi yang tinggal di lereng Gunung Raung menanam kopi arabika. Kini, kopi arabika Raung sudah mulai dipetik hasilnya. “Ada beberapa petani di lereng Gunung Raug menanam kopi arabika. Setelah dipetik dan disangrai, ternyata cita rasanya tak kalah dengan kopi arabika Ijen,” kata Abdul Hafidz Aziz, salah seorang petani kopi di Bondowoso.

Mengetahui cita rasa kopi arabika Raung yang punya keunggulan khas, pria yang juga pengasuh Ponpes Raudlatul Hasan, Desa Pakuwesi, Kecamatan Curahdami, tersebut berniat memperluas lahan kopinya. “Ada santri saya yang tinggal di lereng Gunung Raung. Kini dia yang mengelola kebun kopinya,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, petani kopi Bondowoso juga harus meningkatkan diri. Tak hanya menanam kopi, tetapi juga menguasai pengolahannya. Itu agar hasil dari tani kopinya juga meningkat. “Kalau dijual glondongan, tentu harganya pasaran. Tetapi, kalau sudah jadi bubuk, tentu akan lebih mahal,” ungkapnya.

Sayangnya, di tengah semangat para petani, harga kopi di pasaran yang masih rendah mulai merangkak naik. Petani berharap harga kopi lebih baik lagi agar tidak merugi pada musim panen di masa pandemi Covid-19 ini. “Kami harap harga kopi segera naik,” ungkapnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Bondowoso Republik Kopi (BRK) memang lagi redup-redupnya. Namun, kondisi itu tak menyurutkan semangat para petani kopi untuk terus mengembangkan kopinya. Salah satunya mengembangkan kopi arabika Raung.

Banyak petani kopi yang tinggal di lereng Gunung Raung menanam kopi arabika. Kini, kopi arabika Raung sudah mulai dipetik hasilnya. “Ada beberapa petani di lereng Gunung Raug menanam kopi arabika. Setelah dipetik dan disangrai, ternyata cita rasanya tak kalah dengan kopi arabika Ijen,” kata Abdul Hafidz Aziz, salah seorang petani kopi di Bondowoso.

Mengetahui cita rasa kopi arabika Raung yang punya keunggulan khas, pria yang juga pengasuh Ponpes Raudlatul Hasan, Desa Pakuwesi, Kecamatan Curahdami, tersebut berniat memperluas lahan kopinya. “Ada santri saya yang tinggal di lereng Gunung Raung. Kini dia yang mengelola kebun kopinya,” ujarnya.

Dia menjelaskan, petani kopi Bondowoso juga harus meningkatkan diri. Tak hanya menanam kopi, tetapi juga menguasai pengolahannya. Itu agar hasil dari tani kopinya juga meningkat. “Kalau dijual glondongan, tentu harganya pasaran. Tetapi, kalau sudah jadi bubuk, tentu akan lebih mahal,” ungkapnya.

Sayangnya, di tengah semangat para petani, harga kopi di pasaran yang masih rendah mulai merangkak naik. Petani berharap harga kopi lebih baik lagi agar tidak merugi pada musim panen di masa pandemi Covid-19 ini. “Kami harap harga kopi segera naik,” ungkapnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Bondowoso Republik Kopi (BRK) memang lagi redup-redupnya. Namun, kondisi itu tak menyurutkan semangat para petani kopi untuk terus mengembangkan kopinya. Salah satunya mengembangkan kopi arabika Raung.

Banyak petani kopi yang tinggal di lereng Gunung Raung menanam kopi arabika. Kini, kopi arabika Raung sudah mulai dipetik hasilnya. “Ada beberapa petani di lereng Gunung Raug menanam kopi arabika. Setelah dipetik dan disangrai, ternyata cita rasanya tak kalah dengan kopi arabika Ijen,” kata Abdul Hafidz Aziz, salah seorang petani kopi di Bondowoso.

Mengetahui cita rasa kopi arabika Raung yang punya keunggulan khas, pria yang juga pengasuh Ponpes Raudlatul Hasan, Desa Pakuwesi, Kecamatan Curahdami, tersebut berniat memperluas lahan kopinya. “Ada santri saya yang tinggal di lereng Gunung Raung. Kini dia yang mengelola kebun kopinya,” ujarnya.

Dia menjelaskan, petani kopi Bondowoso juga harus meningkatkan diri. Tak hanya menanam kopi, tetapi juga menguasai pengolahannya. Itu agar hasil dari tani kopinya juga meningkat. “Kalau dijual glondongan, tentu harganya pasaran. Tetapi, kalau sudah jadi bubuk, tentu akan lebih mahal,” ungkapnya.

Sayangnya, di tengah semangat para petani, harga kopi di pasaran yang masih rendah mulai merangkak naik. Petani berharap harga kopi lebih baik lagi agar tidak merugi pada musim panen di masa pandemi Covid-19 ini. “Kami harap harga kopi segera naik,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/