alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Waspada ! Ditemukan Kembali Kasus Leptospirosis di Bondowoso

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Setelah pada Juni 2021 lalu ditemukan kasus masyarakat terkonfirmasi leptospirosis, di Kelurahan Tamansari. Kini, kasus tersebut kembali muncul di Desa Tarum, Kecamatan Klabang. Sejumlah orang mengalami suspek penyakit itu. Diduga mereka terkena penyakit akibat bakteri Leptospira interrogans, yang dibawa oleh tikus.

Pilu ! Nasib Rumah Gedek Tuna Netra yang Dilalap Api

Setelah mengetahui adanya kasus itu, warga sekitar bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso memasang perangkap tikus. Diletakkan di rumah-rumah hingga persawahan warga. Di tempat itu saat ini memang sedang banyak tikus yang dianggap meresahkan masyarakat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Salah satu warga yang terdampak penyakit itu adalah Jayadi. Kepada Jawa Pos Radar Ijen, dia mengaku awalnya hanya merasa pusing dan demam saja. Tapi, setelah beberapa hari tubuhnya mulai lemas dan menguning. “Sempat gak bisa jalan saya, harus ngesot saya, kemarin itu,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans. Disebarkan melalui urine, kotoran, atau darah hewan yang terinfeksi bakteri itu. Masa inkubasinya mencapai sepuluh hari. Jika tidak ditangani dengan baik, maka dapat menyebabkan kematian.

Di sisi lain, dr Teguh Mubawadi, Kabid Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL) dari Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya, menerangkan, banyak gejala yang dapat dilihat dari orang yang terkonfirmasi penyakit ini. Beberapa gejala umum di antaranya mengalami panas, pusing, mual, dan lainnya.

Kemudian, gejala khas apabila terkena penyakit ini adalah mengalami nyeri betis dan tubuh menguning, seperti terkena penyakit hepatitis. Kemudian, gejala paling parah adalah kegagalan ginjal. “Hingga menyebabkan kematian. Terakhir itu sudah,” imbuhnya.

Jika terdapat warga yang diduga terkonfirmasi penyakit itu, lanjutnya, maka harus segera dilakukan deteksi dini. Dengan pemeriksaan kepada warga sekitar yang mengalami gejala sama. Sebab, pengobatannya sebenarnya ringan, tapi harus dilakukan dengan waktu yang cepat. “Kalau terlambat, bisa menyebabkan kematian, karena gagal ginjal,” pungkasnya.

Jurnalis: Ilham Wahyudi
Fotografer: Ilham Wahyudi
Editor: Muchammad Ainul Budi

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Setelah pada Juni 2021 lalu ditemukan kasus masyarakat terkonfirmasi leptospirosis, di Kelurahan Tamansari. Kini, kasus tersebut kembali muncul di Desa Tarum, Kecamatan Klabang. Sejumlah orang mengalami suspek penyakit itu. Diduga mereka terkena penyakit akibat bakteri Leptospira interrogans, yang dibawa oleh tikus.

Pilu ! Nasib Rumah Gedek Tuna Netra yang Dilalap Api

Setelah mengetahui adanya kasus itu, warga sekitar bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso memasang perangkap tikus. Diletakkan di rumah-rumah hingga persawahan warga. Di tempat itu saat ini memang sedang banyak tikus yang dianggap meresahkan masyarakat.

Salah satu warga yang terdampak penyakit itu adalah Jayadi. Kepada Jawa Pos Radar Ijen, dia mengaku awalnya hanya merasa pusing dan demam saja. Tapi, setelah beberapa hari tubuhnya mulai lemas dan menguning. “Sempat gak bisa jalan saya, harus ngesot saya, kemarin itu,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans. Disebarkan melalui urine, kotoran, atau darah hewan yang terinfeksi bakteri itu. Masa inkubasinya mencapai sepuluh hari. Jika tidak ditangani dengan baik, maka dapat menyebabkan kematian.

Di sisi lain, dr Teguh Mubawadi, Kabid Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL) dari Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya, menerangkan, banyak gejala yang dapat dilihat dari orang yang terkonfirmasi penyakit ini. Beberapa gejala umum di antaranya mengalami panas, pusing, mual, dan lainnya.

Kemudian, gejala khas apabila terkena penyakit ini adalah mengalami nyeri betis dan tubuh menguning, seperti terkena penyakit hepatitis. Kemudian, gejala paling parah adalah kegagalan ginjal. “Hingga menyebabkan kematian. Terakhir itu sudah,” imbuhnya.

Jika terdapat warga yang diduga terkonfirmasi penyakit itu, lanjutnya, maka harus segera dilakukan deteksi dini. Dengan pemeriksaan kepada warga sekitar yang mengalami gejala sama. Sebab, pengobatannya sebenarnya ringan, tapi harus dilakukan dengan waktu yang cepat. “Kalau terlambat, bisa menyebabkan kematian, karena gagal ginjal,” pungkasnya.

Jurnalis: Ilham Wahyudi
Fotografer: Ilham Wahyudi
Editor: Muchammad Ainul Budi

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Setelah pada Juni 2021 lalu ditemukan kasus masyarakat terkonfirmasi leptospirosis, di Kelurahan Tamansari. Kini, kasus tersebut kembali muncul di Desa Tarum, Kecamatan Klabang. Sejumlah orang mengalami suspek penyakit itu. Diduga mereka terkena penyakit akibat bakteri Leptospira interrogans, yang dibawa oleh tikus.

Pilu ! Nasib Rumah Gedek Tuna Netra yang Dilalap Api

Setelah mengetahui adanya kasus itu, warga sekitar bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso memasang perangkap tikus. Diletakkan di rumah-rumah hingga persawahan warga. Di tempat itu saat ini memang sedang banyak tikus yang dianggap meresahkan masyarakat.

Salah satu warga yang terdampak penyakit itu adalah Jayadi. Kepada Jawa Pos Radar Ijen, dia mengaku awalnya hanya merasa pusing dan demam saja. Tapi, setelah beberapa hari tubuhnya mulai lemas dan menguning. “Sempat gak bisa jalan saya, harus ngesot saya, kemarin itu,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans. Disebarkan melalui urine, kotoran, atau darah hewan yang terinfeksi bakteri itu. Masa inkubasinya mencapai sepuluh hari. Jika tidak ditangani dengan baik, maka dapat menyebabkan kematian.

Di sisi lain, dr Teguh Mubawadi, Kabid Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL) dari Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya, menerangkan, banyak gejala yang dapat dilihat dari orang yang terkonfirmasi penyakit ini. Beberapa gejala umum di antaranya mengalami panas, pusing, mual, dan lainnya.

Kemudian, gejala khas apabila terkena penyakit ini adalah mengalami nyeri betis dan tubuh menguning, seperti terkena penyakit hepatitis. Kemudian, gejala paling parah adalah kegagalan ginjal. “Hingga menyebabkan kematian. Terakhir itu sudah,” imbuhnya.

Jika terdapat warga yang diduga terkonfirmasi penyakit itu, lanjutnya, maka harus segera dilakukan deteksi dini. Dengan pemeriksaan kepada warga sekitar yang mengalami gejala sama. Sebab, pengobatannya sebenarnya ringan, tapi harus dilakukan dengan waktu yang cepat. “Kalau terlambat, bisa menyebabkan kematian, karena gagal ginjal,” pungkasnya.

Jurnalis: Ilham Wahyudi
Fotografer: Ilham Wahyudi
Editor: Muchammad Ainul Budi

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/