alexametrics
31.6 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Rambak Sapi, Terus Berproduksi di Kala Pandemi

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kerupuk rambak sapi salah satu camilan yang digemari di masyarakat. Di kala pandemi saat ini, produksinya tetap moncer. Apalagi saat momen Lebaran. Sehingga menjadi salah satu ladang penghasilan bagi masyarakat yang menggelutinya.

Seperti masyarakat di Dusun Krajan RT 1 Desa/Kecamatan Maesan. Ada dua industri rumahan yang aktif memproduksi rambak di dusun ini. Salah satunya UD Rambak Jaya yang sudah beroperasi selama bertahun-tahun. Membuat rambak sapi hingga siap goreng membutuhkan waktu yang cukup lama. Prosesnya pun terbilang tidak mudah. Pembuatan rambak juga bergantung pada cuaca, agar hasilnya gurih dan renyah.

Pemilik usaha tambak UD Rambak Jaya, Sutini, 50, mengaku bahwa dia membeli bahan baku berupa kulit sapi dari rumah jagal di Maesan, juga didatangkan dari Jember. “Tidak semua kulit sapi bisa dijadikan rambak. Hanya kulit sapi jantan yang bisa dijadikan kerupuk. Kalau kulit sapi betina tidak ngembang,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di rumahnya, tampak tiga pekerja sedang melakukan produksi. Ada yang sedang membersihkan bulu dari kulit sapi yang sudah direbus, dan ada pula yang menjaga di tempat penjemuran.

Dalam sehari, kata dia, pihaknya bisa memproduksi rata-rata 0,5 kuintal kulit sapi. Bergantung pada pengiriman kulit dari rumah jagal. Kadang kurang, kadang juga lebih. Menurutnya, harga kulit sapi per kilogram Rp 15 ribu, sehingga dalam 0,5 kuintal dibutuhkan biaya Rp 750 ribu.

Adapun prosesnya, pertama-tama kulit sapi direbus dengan air mendidih selama 5 jam di malam hari dan didiamkan. Kemudian, pagi harinya dicuci lagi dan dibuang bulunya hingga betul-betul bersih. “Setelah itu, kami iris tipis-tipis, dan dipotong sesuai kebutuhan. Ada yang ukurannya memanjang dan dipotong kecil-kecil berbentuk persegi,” jelasnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kerupuk rambak sapi salah satu camilan yang digemari di masyarakat. Di kala pandemi saat ini, produksinya tetap moncer. Apalagi saat momen Lebaran. Sehingga menjadi salah satu ladang penghasilan bagi masyarakat yang menggelutinya.

Seperti masyarakat di Dusun Krajan RT 1 Desa/Kecamatan Maesan. Ada dua industri rumahan yang aktif memproduksi rambak di dusun ini. Salah satunya UD Rambak Jaya yang sudah beroperasi selama bertahun-tahun. Membuat rambak sapi hingga siap goreng membutuhkan waktu yang cukup lama. Prosesnya pun terbilang tidak mudah. Pembuatan rambak juga bergantung pada cuaca, agar hasilnya gurih dan renyah.

Pemilik usaha tambak UD Rambak Jaya, Sutini, 50, mengaku bahwa dia membeli bahan baku berupa kulit sapi dari rumah jagal di Maesan, juga didatangkan dari Jember. “Tidak semua kulit sapi bisa dijadikan rambak. Hanya kulit sapi jantan yang bisa dijadikan kerupuk. Kalau kulit sapi betina tidak ngembang,” jelasnya.

Di rumahnya, tampak tiga pekerja sedang melakukan produksi. Ada yang sedang membersihkan bulu dari kulit sapi yang sudah direbus, dan ada pula yang menjaga di tempat penjemuran.

Dalam sehari, kata dia, pihaknya bisa memproduksi rata-rata 0,5 kuintal kulit sapi. Bergantung pada pengiriman kulit dari rumah jagal. Kadang kurang, kadang juga lebih. Menurutnya, harga kulit sapi per kilogram Rp 15 ribu, sehingga dalam 0,5 kuintal dibutuhkan biaya Rp 750 ribu.

Adapun prosesnya, pertama-tama kulit sapi direbus dengan air mendidih selama 5 jam di malam hari dan didiamkan. Kemudian, pagi harinya dicuci lagi dan dibuang bulunya hingga betul-betul bersih. “Setelah itu, kami iris tipis-tipis, dan dipotong sesuai kebutuhan. Ada yang ukurannya memanjang dan dipotong kecil-kecil berbentuk persegi,” jelasnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kerupuk rambak sapi salah satu camilan yang digemari di masyarakat. Di kala pandemi saat ini, produksinya tetap moncer. Apalagi saat momen Lebaran. Sehingga menjadi salah satu ladang penghasilan bagi masyarakat yang menggelutinya.

Seperti masyarakat di Dusun Krajan RT 1 Desa/Kecamatan Maesan. Ada dua industri rumahan yang aktif memproduksi rambak di dusun ini. Salah satunya UD Rambak Jaya yang sudah beroperasi selama bertahun-tahun. Membuat rambak sapi hingga siap goreng membutuhkan waktu yang cukup lama. Prosesnya pun terbilang tidak mudah. Pembuatan rambak juga bergantung pada cuaca, agar hasilnya gurih dan renyah.

Pemilik usaha tambak UD Rambak Jaya, Sutini, 50, mengaku bahwa dia membeli bahan baku berupa kulit sapi dari rumah jagal di Maesan, juga didatangkan dari Jember. “Tidak semua kulit sapi bisa dijadikan rambak. Hanya kulit sapi jantan yang bisa dijadikan kerupuk. Kalau kulit sapi betina tidak ngembang,” jelasnya.

Di rumahnya, tampak tiga pekerja sedang melakukan produksi. Ada yang sedang membersihkan bulu dari kulit sapi yang sudah direbus, dan ada pula yang menjaga di tempat penjemuran.

Dalam sehari, kata dia, pihaknya bisa memproduksi rata-rata 0,5 kuintal kulit sapi. Bergantung pada pengiriman kulit dari rumah jagal. Kadang kurang, kadang juga lebih. Menurutnya, harga kulit sapi per kilogram Rp 15 ribu, sehingga dalam 0,5 kuintal dibutuhkan biaya Rp 750 ribu.

Adapun prosesnya, pertama-tama kulit sapi direbus dengan air mendidih selama 5 jam di malam hari dan didiamkan. Kemudian, pagi harinya dicuci lagi dan dibuang bulunya hingga betul-betul bersih. “Setelah itu, kami iris tipis-tipis, dan dipotong sesuai kebutuhan. Ada yang ukurannya memanjang dan dipotong kecil-kecil berbentuk persegi,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/